
Mr. Mafia Bab 17
Jangan lupa tekan Like sebelum membaca 😳 Tap ❤ Agar mendapat notifikasi jika Mr.Mafia update. Dan beri komentar dan pendapat kalian tentang Mr. Mafia. Vote seiklasnya 😚
Selamat membaca~
Irene tersenyum kecut mendengar ucapan Kian yang menyatakan jika wanita yang baru saja ia temukan itu adalah istrinya, sedangkan ia, wanita yang selalu ada untuknya akan selamanya menjadi bayang-bayang Areta.
Shane masuk ke ruangan perawatan Irene, ia mendekat dan berkata, "Kau sudah boleh pulang, Irene," ungapnya santai.
"Dia baru saja masuk, kemarin. Bagaimana bisa secepat itu sudah bisa pulang?" tanya Kian, dengan raut wajah mengkerutkan alisnya.
"Irene mengiris urat nadinya terlalu dangkal sehingga hanya luka goresan kecil saja yang ia ciptakan," jawab Shane.
Areta hanya berdiri diam mendengar dengan saksama percakapan kedua orang itu, namun tiba-tiba ....
"Aw ...." pekik Irene, memegangi kepalanya. Seraya meringis seolah menahan sakit.
"Ada apa?" Kian tampak khawatir dan mendekat ke arah Irene.
Irene terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya seolah kesakitan yang amat hebat telah menimpanya.
"Kau hanya mengiris pergelangan tanganmu, Irene. Apakah kepalamu juga terbentur dan luka? Kalau iya, aku akan melakukan CT SCAN untukmu," ucap Shane.
"Tidak ... tidak perlu, aku hanya pusing biasa saja," sanggahnya sambil menekan-nekan kepalanya sendiri.
Areta lebih memilih keluar agar tidak mendengarkan rengekan manja Irene kepada Kian, dalam hatinya muncul perasaan tidak suka saat Kian menunjukan kekhawatiran untuk Irene, padahal dia adalah istrinya, bahkan ia tidak pernah sekalipun bersikap manis untuk Areta.
gadis itu berjalan di sekitaran rumah sakit. Seorang lelaki setengah baya bertanya kepadanya dengan nada yang begitu sopan. "Apakah kau istri dari Kian Egan?"
Areta menaikan satu alisnya karena heran, bagaimana bisa lelaki yang sepertinya sedang sakit itu tahu jika dia adalah istri mafia bengis itu.
"Iya ...." jawab Areta singkat.
"Perkenalkan... saya Aaron, saya rekanan kerja suami Anda," ucapnya santai. "Bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada Anda?" tanyanya lagi.
"Iya."
Aaron tampak menengok ke kanan dan ke kiri untuk memperhatikan sesuatu, namun Areta tidak tahu apa itu.
"Tapi tidak di sini, Nona."
Areta sama sekali tidak menaruh curiga kepada Aaron, padahal posisinya sebagai istri dari seorang mafia adalah sasaran empuk untuk menyerang Kian. Namun gadis itu terlalu polos untuk mengetahui hal semacam itu.
Areta di bawa ke sebuah mobil fan yan kelihatan sangat mewah, ia sama sekali tidak memiliki pikiran macam-macam dan menuruti perkataan Aaron.
__ADS_1
"Silakan masuk, Nona!" perintahnya.
Dengan begitu polos, Areta masuk. Namun saat ia telah duduk tiba-tiba seseorang telah membekap hidungnya, seketika membuat gadis itu kehilangan kesadarannya.
Mobil Fan itu pergi meninggalkan rumah sakit tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
***
Kian belum menyadari jika ia telah kehilangan istrinya, ia masih sibuk dengan Irene yang terus merengek kesakitan yang membuat Shane sangat muak.
Saat Irene telah bersiap untuk pulang, Kian barulah menyadari jika Areta telah lenyap.
"Dimana peliharaanku?!" teriak Kian yang membuat seisi rumah sakit melihatnya dengan serempak.
Mark dengan sigap menghampiri Kian yang sedang gelisah karena kehilangan Areta istrinya.
"Saya tidak melihatnya dari tadi, Boss. Nona juga saya lihat tidak keluar dari rumah sakit ini."
Kian memijit keningnya sendiri karena begitu frustasi, Irene pun mencoba menenangkan Kian yang kesal dan murka.
Alih-alih tenang Kian malah menyuruhnya untuk pulang di antarkan oleh para bawahannya.
"Kau pulang! Aku akan mencari Areta," perintah Kian dengan nada lantang. "Mark ... antarkan aku menuju ruang informasi. Aku akan memeriksa ruang CCTV."
Mark menuruti perintah Kian, mengantarkan Boss yang telah ia ikuti selama 10 tahun belakangan ini, ketika ia mengikuti Kian, umurnya saat itu belum genap 18 tahun, Kian memang lebih tua darinya dua tahun. Namun Kian benar-benar memperlakukan Mark seperti teman dan adik. Sehingga membuat laki-laki berusia 28 tahun itu setia pada bossnya.
***
"Dasar prempuan bodoh!" umpatnya.
"Aku akan melacak nomor plat mobil itu, Boss," ucap Mark.
Kian hanya diam, tampak mengepal tangannya karena murka dengan kebodohan Areta.
"Apakah mereka anak buah The Rock?"
"Entahlah boss. Aku akan menyelidikinya." Mark menjawab pertanyaan.
***
Sementara itu Areta telah sampai di sebuah gedung tua, ia telah duduk di atas kursi dengan posisi terikat, sementara mulutnya tersumpal dengan sebuah kain sehingga membuat Areta tidak dapat berteriak.
Areta mengerjapkan mata, ia kepalanya pusing ketika ia mulai membuka mata, namun sayangnya sepanjang penglihatannya sangatlah gelap sehingga meskipun bersusah payah ia membuka matanya, namun hanya suasana gelap yang ada.
"Dimana aku?" guman Areta, ia mulai ketakutan dengan apa yang ia alami, dirinya mulai sadar jika tangan dan kakinya juga terikat.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki terkekeh dari kejauhan yang hanya menciptakan siluet dari tubuh seorang lelaki dewasa.
"Selamat datang, nona Areta. Perkenalkan aku adalah Aaron. Mantan anak buah dari suamimu yang ia buang begitu saja. Bahkan ia juga telah memotong jariku karena kesalahan kecil yang telah kuperbuat," jelasnya kepada Areta.
"Apakah dia tidak waras? Dia dendam dengan laki-laki bengis itu, lalu mengapa ia menculikku!" ucap Areta dalam hati.
"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku menculikmu, bukan?" tanya Aaron, diikuti tawa lepas darinya.
"Aku akan memancingnya datang kemari, dan membunuhnya di depan matamu!" serunya dan kembali melepaskan tawanya.
"Apa yang akan ia lakukan dengan Kian?" tanya Areta dalam hati.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Hallo boss, apakabar?" tanya Aaron dari balik ponselnya.
"Siapa kau?"
"Apakah suaraku ini tidak bisa membuatmu mengenaliku, Boss?" ledeknya
"Siapa kau?!"
"Ha-ha-ha-ha ..." Ia tertawa lepas. "Aku adalah anak buahmu yang telah kau potong jarinya."
"Oh ... Aaron. Ada apa?!" jawab Kian dengan nada penuh penekanan.
"Ada yang akan berbicara padamu!" Aaron memberikan ponselnya kepada Areta, dan mendekatkan ponsel itu ke telinga Areta.
"Bicara!" perintah Aaron kepada Areta, pria itu membuka sumpalan mulut Areta agar ia dapat berbicara, namun setelah mulutnya terbuka ia malah mengunci rapat dan tidak mau buka mulut.
"Bicara!" Aaron menarik rambut Areta.
"Ki-kian, a-aku–" Belum sempat Areta berbicara lagi, Aaron kembali menyumpal mulut Areta.
"Kau pasti mengenali suara itu kan, Boss?" tanyanya mengejek.
"Dimana kau sembunyikan dia!" teriak Kian, yang membuat Mark waspada.
"Ha-ha-ha... kau bisa bertemu dengannya, jika kau datang kemari seorang diri!" perintahnya.
Kian malah terkekeh mendengar perkataan Aaron yang seolah menganggap Areta adalah orang terpenting dalam hidupnya.
"Ha-ha-ha... kau pikir aku mau mengorbankan hidupku untuk wanita itu? Dia adalah peliharaanku! Jika ia mati, aku tidak akan merasa rugi!" Kian menutup ponselnya, dan meninggalkan tanda kebingungan di hati Aaron.
Jangan lupa tekan Like setelah membaca 😳 Tap ❤ Agar mendapat notifikasi jika Mr.Mafia update. Dan beri komentar dan pendapat kalian tentang Mr. Mafia. Vote seiklasnya 😚
__ADS_1
papay dan terimakasih~