
Mr.Mafia Bab 48
Areta berjalan menuju lantai dua, ia masih mendengus pelan. Sementara matanya tak henti-hentinya memicing menatap menyelidik ke arah Yosiana yang masih murka kepadanya. Areta benar-benar tidak takut lagi kepada siapapun dan apapun itu. Seolah hidupnya telah terlatih untuk menghadapi kematian. Sebagai istri seorang mafia, ia harus kuat dalam hal apapun.
'Ia pikir, dirinya siapa? Mau merobek mulutku! Sebelum ia melakukannya, tentunya nyawanya akan melayang terlebih dahulu'
Tiba-tiba pandangan Areta tertuju kepada seorang wanita dengan pakaian serba hitam, celana jeans hitam yang membungkus kakinya yang jenjang dipadu dengan jaket kulit dengan warna senada, dengan surai sengaja diikat ke atas memperlihatkan leher jenjangnya. Sementara Kian tiba-tiba turun dari lantai dua melewati sang istri tanpa mempedulikan Areta. Tentu saja Areta secara spontan ikut turun untuk menyaksikan siapakah wanita yang telah datang tersebut. Tiba-tiba dari bawah tangga Irene menghadang Areta dengan tangannya. Kemudian berpesan kepada istri Kian tersebut.
"Hati-hati kepada wanita itu!" pesan Irene, lalu pergi karena enggan bertemu dengan prempuan itu.
Kian tampak merentangkan tangannya dengan senyuman paling ramah, ia memeluk wanita cantik itu.
"Andrea, kau semakin cantik saja," sapa Kian dengan senyuman mengembang di bibir Kian.
Shane yang sejak tadi mengikuti Kian mendapat pelukan kedua dari wanita cantik itu.
Sementara Areta menatap dengan mata menyelidik ke arah Andrea, siapa dia dan mengapa Irene memerintahkan dirinya untuk berhati-hati kepadanya.
Areta menyenggol lengan Silda yang juga memperhatikan Andrea yang tampak bercengkrama dengan bossnya. Areta memberi isyarat kepadanya dengan gerakan bibir yang membuat Silda mengerti pertanyaan Areta.
"Iya adalah sahabat boss Kian dan boss Shane. Nona Andrea, ia juga mafia kejam dikelasnya. Bisa dibilang ia adalah wanita terkejam yang pernah kutemui. Namun selama beberapa tahun ini ia tampak menepi dari dunia hitam dan pergi keliling dunia, untuk menenangkan diri," jelas Silda dengan nada berbisik.
Areta mengangguk sebagai tanda ia mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Silda. Ia tetap berdiri di posisinya berada di samping Silda dan beberapa pelayan.
Namun tanpa disangka Kian memanggil istrinya dan melambaikan tangan, agar Areta menghampirinya. Dengan langkah tegap dan anggun, Areta berjalan mendekati Kian, lalu berdiri di sampingnya.
"Andrea, perkenalkan dia adalah istriku, namanya Areta," pungkas Kian menatap Areta dan Andrea secara bergantian.
'Istri? Dia memperkenalkanku sebagai istrinya? Bukan peliharaannya?'
Areta membatin tatkala Kian memperkenalkan dirinya sebagai pendamping hidup mafia tersebut.
"Wow ... dari dulu, kau memang jagonya memilih seorang gadis, Kian. Bahkan aku saja kau tolak," tuturnya dengan nada bercanda namun entah kenapa terselip nada kecewa di sana.
__ADS_1
Areta tersenyum kecil mendengar pernyataan dari Andrea, seolah Areta tahu secara tersirat jika Andrea memiliki perasaan kepada suaminya. Namun Areta benar-benar tidak ingin ambil pusing untuk itu. Ia memilih tetap diam di posisinya saat ini.
"Ayo masuk!" ajak Kian merangkul pundak Andrea.
"Apakah kau mengadakan pesta penyambutan untukku?" tanya Andrea memindai seluruh ruangan dan para bawahan Kian yang tampak berbaur menjadi satu.
Kian dan Shane saling melemparkan pandangan, seolah mereka paham dengan apa yang dimaksud oleh Andrea.
"Ini pesta untuk menyambut Areta yang baru saja keluar dari rumah sakit," jawab Kian dengan senyuman canggung.
"Hah ... ? Sejak kapan ada wanita spesial selain diriku, Kian?!" Andrea memicingkan mata, lalu sedetik kemudian ia berubah ekspresi seolah ia sedang mengajak Kian bercanda, diikuti dengan tawa lepas yang memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. "Aku hanya bercanda, kau jangan menganggap serius ucapanku, Kian!"
Kian dan Shane ikut tertawa dan kembali berjalan bersama menuju ruang kerja Kian untuk melepaskan rindunya kepada sahabatnya itu.
***
Irene yang tampak gusar dengan kedatangan Andrea, memasang wajah takut, mengingat kejadian kala ia dipaksa mengugurkan kandungannya hingga membuat Kian murka dan tidak ingin menyentuh Irene lagi, hal itu yang membuat cinta Kian luntur seketika kepada Irene. Wanita yang sudah sepuluh tahun bersama dengan mafia itu, mencoba mengiklaskan Kian untuk Areta, namun saat ia tahu Andrea kembali, ketakutan masa lalunya itu bangkit kembali, bahkan ia takut hal yang sama akan terjadi juga dengan Areta.
"Ada apa nona?" Sapaan Mark membuat Irene terjingkat kaget dan sadar dari lamunannya.
"Maafkan aku, Nona!" sahut Mark, dengan nada menyesal. "Kulihat Anda tampak gusar, jadi saya ingin lihat, apakah Anda baik-baik saja?" imbuhnya.
"Sejak kapan kau mau tahu apa urusanku? Lagi pula kau tidak berwenang mengatasi kegundahan hatiku!" celetuk Irene.
"Apakah karena nona Andrea kembali?" kata Mark, menebak-nebak.
"Bukan ...." kilah Irene, membuang muka, ia mencoba menutupinya dengan membuang muka.
"Anda tidak perlu takut, saya akan melindungi Anda, Nona!" celetuk Mark, ujaran Mark membuat Irene terpaku sesaat. Lalu ia berpikir, apakah otak anak buah Kian ini sedang konsleting.
"Kau ...." belum sempat Irene mencoba melanjutkan ucapannya, Mark langsung menyahut kata-kata irene.
"Saya permisi, Nona." Lalu berjalan pergi.
__ADS_1
Mengapa Mark terlihat aneh, akhir-akhir ini. Bukankah biasanya dia adalah manusia robot yang patuh terhadap ucapan Kian. Lalu mengapa ia menjadi berubah?
**
Waktu telah menunjukan pukul sebelas malam, Kian belum juga kembali dari ruang karjanya karena sedang melepas rindu kepada Andrea, namun hal itu sangat mengganjal pikiran Areta, hingga membuat istri Kian tersebut harus repot-repot menghampiri sang suami, yang belum juga masuk ke kamar.
Perlahan Areta berjalan menuju ruang kerja Kian, ia tampak mengintip di balik kaca, tiba-tiba seseorang mengacungkan pistol ke kepala Areta, dan siap menarik pelatuk dan membuat otak Areta terburai.
Secara spontan Areta mengangkat kedua tangan seolah sedang menyerah dengan keadaan. Saat ia akan berbalik badan, orang itu malah menempelkan tubuh Areta ke dinding dengan begitu kasarnya hingga membuat Areta terhempas dan keningnya membentur tembok dengan keras.
"Siapa kau, apakah kau sedang memata-mataiku?" desisnya, suara itu adalah milik prempuan, tapi siapa? Lorong ini tampak gelap untuk Areta, hingga penglihatannya amat sangat terbatas.
"Cepat katakan!" teriaknya lagi. "Atau kukeluarkan semua isi kepalamu!" ancamnya dengan pistol makin menekan kepala Areta.
"A–aku ... Areta!"
"O ... kau istri Kian?! Untuk apa kau kemari? Suamimu masih di dalam!" bisiknya menempelkan bibir ke telinga Areta.
•
•
•
Bersambung.
Siap konflik lahir batin? Siap dong....
Aku perkenalkan, Dia Andrea, usianya 29 tahun. Dia jahat, tapi namanya manusia, pasti ada sisi baiknya, bukan? Musuh nyata dan terbesar Kian, pasti kalian tahu, 'kan? Nah siapin mental untuk itu, 'ya~
🤭 Spoiler dikit
BTW maaf slow up, akhir-akhir ini. Karena curah hujan di Jawa tengah cukup tinggi, khususnya semarang kota di mana aku dilahirkan dan tinggal 🤭 Jadi banjir, meskipun tidak masuk rumah. Tapi jalan depan rumahku cukup tinggi airnya. Ditambah sinyal yang tiba-tiba ngadat.
__ADS_1
Jadi aku minta maaf membuat kalian menunggu 😍😘
Thank you~