
Mr. Mafia 36
Mereka bertiga serentak menoleh ke arah Celine yang tengah berteriak dengan lantang memanggil ayahnya.
"Ce–Celine ...." Ronan memanggil anaknya, matanya tampak sayu memandang putri kecilnya itu. Areta yang menangkap sosok Ronan menatap pria itu dengan saksama dan ingin tahu lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka berdua.
Shane menarik ujung kerah Ronan hingga ingin mencekiknya jika ia tidak berkata apapun. "Mana There, dan bayi yang ada dalam kandungannya?!" pekik Shane dengan mata tajam siap mencabik-cabik tubuh Ronan.
"Di–dia, Celine ... dia adalah anak yang dikandung oleh There!" seru Ronan terbata dengan nada suara bergetar.
Shane melonggarkan cengkeramannya, jiwanya terguncang saat mengetahui jika Celine adalah buah cintanya dengan There mantan kekasihnya yang meninggalkannya dan memilih menikah dengan Ronan. Shane tidak pernah tahu apa alasan There meninggalkannya dalam keadaan mengandung, dan memilih meninggalkan Shane saat itu.
"Lalu di mana There?" tanya Shane lirih.
"There telah meninggal dunia, saat melahirkannya!" Ronan menunjuk ke arah Celine yang saat itu masih berada di dalam mobil. "Maka dari itu, aku sangat membenci anak itu! Aku tidak pernah menyayanginya, karena dia anakmu dan yang membuat wanita yang aku cintai pergi meninggalkanku!" desis Ronan menatap benci ke arah Celine.
Mata Celine berkaca-kaca saat mengetahui kenyataan jika selama ini ayahnya memang membencinya, dan tidak pernah sedikitpun menyayanginya sebagai seorang anak. Padahal ia selalu berusaha menjadi anak yang terbaik untuk pria itu.
"Ayah ...." Suara Celine tampak lirih dan sedih.
Sementara itu sebuah bogem mentah diterima Ronan lagi, kini pukulan itu semakin keras hingga membuatnya tersungkur ke tanah, Shane mengeluarkan sebuah pistol dari saku jasnya dan siap mengarahkan pada kepala Ronan.
Dengan cekatan Areta membentengi dirinya untuk melindungi Ronan, agar nyawanya tidak meregang di tangan Shane yang telah dirasuki oleh setan karena murka yang telah memuncak di dalam dirinya.
"Areta! Kau tidak perlu melindunginya, aku akan membunuh laki-laki jahat ini!" hardik Shane siap menekan pelatuk pistolnya.
"Tidak ... jangan kotori tanganmu, Shane. Kau harus kendalikan dirimu! Kau lihat Celine! Dia ketakutan. Apakah kau mau jika dia melihat ayahnya membunuh orang yang membesarkannya?!" cegah Areta mencoba menenangkan Shane dengan tangan mengarah kedepan.
Wajahnyapun tampak gusar menangkan Shane yang sedang murka.
Shane melirik ke arah putrinya yang tengah menangis di dalam mobil, perlahan ia menurunkan pistolnya dan mengurungkan niatnya untuk membunuh Ronan yang tampak ketakutan dan terduduk di tanah.
Tanpa disangka-sangka Ronan beranjak dan berdiri, tiba-tiba ia mencengkeram pundak Areta dan merangkul leher Areta mengarahkan senjata ke arah wanita itu tepat di lehernya.
Shane pun kembali mengacungkan senjatanya ke arah Ronan yang menyerang Areta secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Jangan! Jangan sakiti Nyonya Areta!"pekik Celine yang ketakutan. Ia tahu betul sifat ayahnya yang selalu nekat dalam melakukan apapun.
"Lepaskan dia! Kau tidak tahu, dia adalah istri Kian Egan boss mafia! Jika dia lecet sedikit, kau akan berurusan dengannya!" desis Shane memasang sikap waspada.
Namun bukannya melepaskan Areta, ia malah semakin menekan leher Areta dengan pisaunya hingga membuat leher Areta sedikit luka dan mengeluarkan darah. Areta hanya memejamkan mata pasrah saat, ia sudah tidak memiliki apapun di dunia ini, bahkan jika ia matipun dia akan iklas.
Dorr....
Suara tembakan memekakkan telinga mereka, dan di ikuti dengan Ronan yang tersungkur jatuh ke tanah dengan luka tembak tepat di kakinya. Areta langsung berlari dan berdiri di belakang Shane, yang juga waspada. Mereka bingung dari mana asal tembakan itu hingga tepat menembus kaki Ronan.
Kian muncul dari balik tembok sebuah rumah kosong, dengan membawa sebuah pistol dan meniup lubang senjata api tersebut.
"Strike!" seru Kian, berjalan mendekat ke arah Ronan.
'Kian!' seru Areta dalam hati, entah mengapa ia sangat lega melihat laki-laki itu tiba-tiba muncul dari balik tembok.
Kian mendekat ke arah Areta dan memberikan sapu tangannya kepada istrinya agar wanita itu menyeka darah yang mengucur di lehernya.
"Pakai ini!"
Areta mengambil sapu tangan itu dan menempelkan pada lukanya sendiri.
"Maaf." Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Shane saat itu, dan penyesalan karena membuat Areta hampir kehilangan nyawanya.
"Kau masuk ke dalam mobil, dan pulang. Aku akan mengurus laki-laki bedebah ini!" perintah Kian, dengan menujuk ke arah mobil.
Areta menurut dan masuk ke dalam mobil, lalu memeluk erat tubuh Celine yang masih bergetar ketakutan.
"Tenang ... aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Areta lirih.
"Aku takut, Nyonya," jawab Celine dengan tubuh bergetar dan air mata keluar dan membasahi pipinya.
"Tenang ...." Areta memeluk Celine semakin erat untuk menenangkan gadis itu.
Mobil mereka melesat menjauh dari tempat kejadian itu. Dengan sopir yang sejak tadi bersama dengan mereka.
Sementara itu Kian yang murka melihat Areta yang telah terluka akibat perbuatan dari Ronan mengacungkan senjatanya ke arah laki-laki yang telah meraung kesakitan akibat kakinya tertembus oleh peluru yang keluar dari senjata api yang dimiliki Kian.
__ADS_1
"Kau tahu, kau telah berhadapan dengan siapa?" tanya Kian tersenyum licik ke arah Ronan yang ketakutan, laki-laki itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Kian...." Shane mencoba menenangkan Kian.
"Kau telah melukai peliharaanku, kau pantas mati, aku akan mengantarkan nyawamu ke neraka!" desis Kian dengan mata tajam seolah tengah mengeluarkan api yang siap melahap Ronan.
"Ma–maafkan saya, Tuan!" Ronan memohon ampun dan bersimpuh ke tanah dengan posisi tangan menangkup. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Akibat teror yang diciptakan Kian.
"Kau menyentuh barangku, maka kau siap untuk bertemu dengan malaikat pencabut nyawa!" seru Kian, menarik pelatuknya.
"Ampuni aku, Tuan!" Ia bersujud di tanah di bawah kaki Kian.
"Mengapa kau menyiksa Celine, hingga dia trauma, 'hah?!" teriak Kian mengarahkan pistol tepat di kepalanya.
Ronan mendongakkan kepala dengan tangan menangkup, keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.
"Ka–karena anak itu telah merenggut nyawa wanita yang aku cintai, Tuan," jawabnya.
"Apa pantas seorang laki-laki berbuat seperti itu kepada anak yang tidak berdosa?!" Kian menendang tubuh Ronan hingga ia tersungkur, seketika ia merangkak mundur ketika Kian mendekat ke arahnya. "Bersiaplah untuk mati!" imbuhnya lagi.
Dan ....
Dorr ....
Suara tembakan mengacung ke udara, menciptakan suara menggelegar, diikuti Ronan yang terduduk lemas dengan mata melotor ke atas.
Manik mata Kian melemparkan pandangan kepada pria menyedihkan itu dengan tatapan jijik. Dan pergi meninggalkannya begitu saja.
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa waktunya Vote 😗
__ADS_1
Like dan Komen jangan lupa, 'yah.