
Mr. Mafia bab 43
Jika ingin tahu perkembangan semua novelku, bisa follow akun Instagram atau add Facebook di atas, yah ❤
Kapal pesiar nan megah itu mulai merapat ke daratan, pesta itu sudah berakhir dan Areta harus kembali ke rumahnya. Sementara itu tidak sedikit dari orang-orang yang merasa kecewa karena penghentian paksa perhelatan resepsi pernikahan Shane, namun alih-alih menunjukan kekecewaannya, mereka seolah menerima dengan lapang dada karena pengaruh kuat dari Kian.
Kian terus menggandeng tangan Areta saat menuruni kapal, dengan hati-hati ia tampak sabar menuntun istrinya yang tengah hamil, seolah ia sedang melepaskan lencana mafia bengis yang selama ini ia sandang, dan berubah menjadi suami siaga untuk Areta. Tentu saja hal tersebut membuat Irene cemburu namun tidak bisa berbuat apapun.
Areta terus menatap kapal besar itu, ini kali pertama ia naik transportasi laut yang megah, biasanya ia hanya naik perahu di sungai untuk menyebrang ke satu desa ke desa lain.
"Kita langsung ke rumah sakit!" ucap Kian menatap wajah istrinya.
"Hah ... Siapa yang sakit?" tanya Areta bingung.
Kian menghela napas, lalu berhenti sejenak, dan berkata, "Kau sedang hamil. Aku ingin tahu, apakah anakku baik-baik saja."
Areta cemberut mendengar ucapan Kian, lalu dengan santai ia berjalan kembali mengikuti langkah mafia tersebut. Irene yang sejak tadi mengekor di belakang tampak semakin jengkel dengan apa yang ditunjukan sepasang suami istri tersebut.
"Irene ... bisa pulang dulu bersama Mark, aku akan pergi ke rumah sakit dengan Areta!" ucap Kian membukakan pintu mobil untuk Areta.
Saat sopir akan menjalankan mobilnya, Kian menyeletuk dengan peringatan keras kepada sopirnya itu. "Hati-hati ... kau sedang membawa tiga nyawa!"
Sopir itu terdiam sesaat, ia tidak tahu jika Areta sedang berbadan dua, sehingga ia tidak tahu apa yang diucapkan Kian, tapi ia mencoba menuruti perintah bossnya tersebut, dan mengangguk pelan seolah mengerti.
"Baik ... boss."
"good!" sahut Kian singkat.
Areta hanya menyunggingkan senyuman, lalu membuang muka ke jendeka agar Kian tidak melihat mimik wajahnya yang senang.
***
Sesampainya di rumah sakit, dokter spesialis kandungan telah bersiap memeriksa perut Areta. Sebuah gel dioleskan kepada perut Areta lalu sang dokter menggunakan sebuah alat untuk memeriksa keadaan janin yang ada dalam tubuh Areta.
Kian berdiri sembari menunggu, ia tidak akan melepaskan Areta dari pandangannya, dirinya tidak ingin jika kejadian Irene terulang kembali kepada Areta. Kali ini ia akan benar-benar mengawasi wanitanya itu hingga ia melahirkan.
Dokter itu tampak menarik napas lega, lalu berhenti memeriksa perut Areta, dan memeletakkan alat tersebut.
"Syukurlah, janin Nyonya Areta sehat. Oia... sudah empat minggu. Dan semua normal, jaga kesehatan jiwa dan pikiran Anda, Nyonya. Hal itu sangat mempengaruhi kesehatan janin Anda." Dokter tersebut menjelaskan semuanya kepada Areta dan Kian.
"Bagaimana untuk makanan atau pantangan untuk ibu hamil, Dok?" celetuk Kian, seolah ingin tahu.
__ADS_1
"Tidak ada pantangan, semua bisa. Asal tidak melebihi batas, kurangi kopi dan jangan sampai menghirup asap rokok, minum alkohol dan cukup istirahat."
"Terimakasih, Dok!" sahut Kian, mengerti.
Areta ingin tersenyum melihat keseriusan Kian ketika Dokter itu sedang menjelaskan kepadanya. Tapi ia tahan agar Kian tidak merasa bahwa Areta sedang memperhatikannya.
Setelah semua selesai, Kian memapah Areta keluar dari rumah sakit, karena risih dan geram akhirnya Areta protes dengan tindakan Kian sejak tadi.
"Kian ... aku bukannya difabel! Aku hanya sedang hamil! Jadi biarkan aku jalan sendiri!" dengus Areta kesal.
"Ta–tapi—" Belum sempat Kian melanjutkan perkataannya, Areta telah melepaskan diri, dan berjalan tanpa Kian. Mafia hanya menatap nanar istrinya tersebut.
***
Mereka telah sampai di rumah dengan selamat. Semua pelayan menyambut mereka, semuanya telah mengucapkan selamat atas kehamilan Areta. Nyonya Kian hanya bisa tersenyum canggung dengan apa yang sedang mereka lalukan.
"Sekarang kau pindah ke kamarku!" perintah Kian.
"Untuk apa?" tanya Areta, penasaran. "Bukankah ketika aku di kamarmu hanya saat kau menginginkan tubuhku?"
"Jangan tawar menawar denganku, Areta! Ini perintah!"
Areta tentu saja tidak ada pilihan lain untuk itu, ia harus menuruti perintah mafia itu. Karena jika ia menolak pun akan sia-sia, karena dengan pasti Kian akan terus memaksakan kehendaknya.
Areta dibaringkan di atas tempat tidur seolah ia seperti orang yang sedang sakit. "Kian! Aku tidak sedang sakit! Mengapa aku harus berada di tempat tidur dan berlindung di balik selimut? Aku ingin memetik bunga juga," ucap Areta.
"Kian!"
"Jangan berteriak ke arahku, Areta!"
Areta mengepalkan tangan karena geram dengan tidakkan overprotektif yang dilakukan Kian.
"Jika kau perlakukan aku seperti ini, maka aku akan cepat setres, Kian!" sembur Areta dengan nada tinggi.
Mendengar hal itu, membuat Kian kembali berjalan ke arah Areta, kemudian duduk di pinggi kasur, hendak meraih wajah Areta dengan tangannya, spontan karena terkejut Areta memejamkan mata, takut jikalau Kian memukul wajahnya seperti dulu. Tetapi yang terjadi adalah Kian malah mengelus pipi Areta dengan begitu lembut.
"Sabar ... kau istirahat dulu, nanti jika kau sudah siap, maka kau bisa kembali memetik bunga-bungamu, oke!" ucapnya lembut.
Seolah seperti sedang dihipnotis, Areta menganggukan kepalanya seolah dia mengiyakan perkataan Kian dan beristirahat dengan tenang.
***
Areta mengerjap, sesaat setelah membuka matanya. manik matanya langsung menatap seseorang yang sudah rapi bediri di depan kaca, menatap bayangannya sendiri.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Areta.
Kian berbalik badan, sembari merapikan kancing di pergelangan tangannya, ia berkata pelan, "Aku akan pergi ke negara lemonila, untuk mengurus sesuatu."
"Oh...." sahut Areta singkat, lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
"Hati-hati ... jaga bayimu saat aku tidak ada bersamamu!"
Areta berbalik badan. Lalu menatap menyelidik ke arah Kian. "Apakah kau akan lama?"
"Entahlah, tidak tahu. Yang jelas ini bisnis yang sangat penting."
"Oh ...."
"Aku berangkat, semua yang kau butuhkan akan disediakan oleh semua pelayan," ucap Kian berjalan keluar kamar.
Areta hanya mengangguk saat melihat suaminya pergi, entah kenapa ada perasaan mengganjal di hatinya. Tapi ia tidak tahu apa itu.
Setelah beberapa jam Kian pergi, Areta masih asyik menonton drama di televisi, sesaat setelahnya suara ketukkan pintu yang sangat keras menganggetkannya, di ikuti dengan Silda masuk dengan raut muka ekspesi sedih dan napas memburu.
"Nona...."
"Ada apa Silda?" tanya Areta, penasaran.
"Pesawat yang ditumpangi boss Kian terjatuh."
Areta langsung berdiri, karena kaget, ia menjatuhkan camilan yang sudah ada di dalam mulutnya. Lalu tergolek lemah jatuh pingsan di lantai.
•
•
•
Bersambung~
Like ✔️
Komen✔️
Vote ✔️
Hanya bisa menatap tapi tak bisa memiliki. Sakit, bukan?
__ADS_1
—Novi Wu
Terimakasih~