
Mr. Mafia bab 14
Areta menyemburkan makanannya saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Kian. Ia memicingkan mata menatap benci sosok yang duduk dengan angkuh di atas kursi dengan memegang segelas wine Shipwrecked Heidsieck (1907)Wine yang memiliki umur sekitar 300 tahun ini memang memiliki harga yang sangat fantastis yaitu sekitar 275 dollar AS (1 botol), atau sekitar Rp. 3,4 Miliar jika dirupiah kan. Wine yang satu ini memiliki kualitas terbaik dan dipercaya memiliki rasa yang manis.
"Bagaimana kau mau?" tanya Kian dengan sorot mata tajam. Tangannya dengan santai menggoyang-goyangkan gelas lalu menghirup aroma wine itu sedetik kemudian mengesap sedikit minuman itu.
"Kau pikir aku mau?" Areta membuka mulutnya dengan susah payah, melawan rasa takutnya yang merajai sukmanya. Demi mempertahankan harga diri yang sejak kemarin sengaja Kian injak-injak.
"Kau berani menolakku? Dasar wanita tidak tau diri?!" umpat Kian kesal, tapi tiba-tiba ia mengingat perkataan Shane dan kembali tenang, agar Areta tidak merasa takut dan terancam.
Piring Areta telah tandas, perutnya telah terisi penuh ia pun dengan begitu polosnya bersendawa di depan mafia tersebut, ia melakukannya dengan sengaja karena ia ingin membuat Kian membencinya.
Alih-alih tidak suka Kian malah berkata, "Kalau kau mau kau boleh buang air besar di sini!" ucap Kian santai, yang membuat Areta semakin kesal.
"Kau bisa mendapatkan apapun dengan menikahiku, tapi kau tidak bisa pergi dari sini!"
"Setelah apa yang kau lakukan kepadaku, kau ingin aku menikah denganmu?" desis Areta.
"Jika kau tidak bersedia, aku bisa memaksamu, dengan cara apapun itu!" ancam Kian, dengan nada mengintimidasi.
Areta tampak terkekeh, mendengar perkataan Kian, "Apakah kau kekurangan stok wanita di sampingmu? Hingga kau harus memintaku untuk menjadi istrimu?"
"Aku hanya ingin menikah kontrak denganmu!" seru Kian.
Areta membelalakkan matanya dan berdiri dari posisinya saat ini yang sedang terduduk. "Kau pikir aku wanita macam apa? Kau telah merenggut mahkota yang telah kujaga sepanjang hidupku, kau juga mengancamku dan hampir saja aku di nikmati oleh para bawahanmu! Hidupku bukan mainan, Tuan," ucap Areta.
Kian mendekat kepada gadis itu, kini ia berdiri di belakang Areta menyibakkan rambut gadis itu yang menutupi lehernya yang jenjang, mencercap hingga tanda merah bersemayam di leher gadis itu.
Areta menghindar saat Kian meninggalkan bekas merah itu, matanya seolah akan lepas dari tempatnya karena melihat Kian dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Aku pikir kau menikmati setiap sentuhanku?!" hina Kian. "Mau kau menolak, aku tetap akan menikahimu, kelinci kecil!" tambahnya lagi.
Kian mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi seseorang.
"Hallo ... Mark. Bawa surat kontrak itu kemari!" perintah Kian, kepada kaki tangannya itu.
Areta merasa gusar mendengar kata surat kontrak yang dimaksud oleh Kian, ia begitu cemas sampai ia meremas tangannya sendiri.
Mark mengetuk pintu dengan pelan, lalu membuka pintu Kamar Kian, matanya langsung menyambar sosok boss yang berdiri tepat di belakang gadis malang itu.
"Boss ... ini surat yang anda minta." Mark menyodorkan berkas kepada Kian lalu tanpa pikir panjang Kian mengambil berkas tersebut dan menyuruh Mark pergi secepatnya.
***
__ADS_1
Kian memerintahkan Areta duduk di kursi dengan cara menyeret tangan gadis itu dengan begitu kasar.
Dengan pongahnya ia mengeluarkan pistol yang selalu ia simpan di laci meja untuk menekan Areta agar ia menyetujui perjanjian itu.
"Kau boleh membacanya, jika kau mau. Tapi kau tidak dalam keadaan untuk memilih atau menolak!" pungkas laki-laki itu.
Isi di dalam kontrak pernikahan itu adalah:
Pernikahan berjalan selama tiga tahun, setelah itu pihak satu akan melepaskan pihak dua untuk hidup bebas.
Pihak dua tidak boleh hamil, jika hamil maka kandungan itu akan digugurkan dengan paksa.
Pihak dua harus menuruti semua keinginan pihak satu dalam hal s*ks apapun keadaannya.
Areta menggeretakan giginya setelah membaca surat kontrak itu, ia mematap benci wajah Kian dan ingin sekali mencabut nyawa pria itu dengan tangannya.
"Jadi pria ini hanya akan menjadikanku budak s*ksnya!" geram Areta di dalam hati.
"Meskpun kau membenciku, kau tetap harus menandatangani kontrak itu!" perintah Kian menyodorkan pistol ke kepala gadis itu.
"Kalau s*ks yang kau mau, kita tidak perlu mengikat janji suci, karena pernikahan bukan main-main!" sungut gadis itu kesal.
"Tanda tangan!" gertak Kian dengan semakin menekan pistol ke kepala Areta.
__ADS_1
Areta dengan terpaksa menandatangani perjanjian tersebut dengan perasaan tidak menentu. Ia ingin sekali merebut pistol dari tangan Kian dan menembak laki-laki itu bertubi-tubi dan membuang mayatnya ke dalam akuarium piranha.
"Bersiaplah, kau kita akan menikah besok!" kelakar laki-laki itu menyunggingkan senyum kemenangan.
"Kau boleh kembali tidur, aku akan pergi untuk mengurus sesuatu." Laki-laki itu nengenakan mantel dan pergi keluar, saat ia telah menghilang di balik pintu Areta dengan kesalnya melemparkan bantal ke arah pintu untuk meluapkan kekesalannya.
"Laki-laki tua biadap!" umpat Areta lirih.
***
Areta tidak dapat memejamkan mata setelah tidak sadarkan diri selama tiga hari, seolah energinya telah penuh untuk menghadapi hari, namun sayangnya waktu masih menunjukan pukul tiga lagi, dan Kian belum juga kembali.
"Semoga saja kau mati, Mafia bengis!" umpat Areta, kesal.
Areta tidak habis pikir kenapa Kian memaksanya untuk menikah dengannya, padahal tujuan utamanya adalah s*ks, tentu ia bisa mendapatkan itu dari wanita-wanita lain, bukan dari Areta tentunya. Jika mengingat pertama kali kesuciannya telah terenggut paksa, membuat gadis itu sangat murka.
Tiba-tiba pintu terbuka, Areta memasang sikap waspada membentengi diri dari bahaya, ia takut jika yang membuka pintu adalah salah satu anak buah Kian yang akan bersikap kurang ajar dengannya, namun seketika ia menarik napas lega karena Kian lah yang membuka pintu itu.
"Kau belum tidur?"
Areta bergeming mendengar ucapan calon suaminya itu, ia memilih tidur meringkuk membelakanginya.
Tanpa disangka Kian menarik tubuh Areta hingga memaksanya bangun dan berdiri sejajar dengannya. Areta kalah tinggi dari Kian, badanya mungil bahkan untuk menatap wajahnya saja ia harus repot-repot mendongakkan kepala.
"Ikut aku mandi!"
Kian menarik tubuh Areta dengan begitu kasarnya dan menghempaskan gadis itu di bawah shower dan menyalakannya. Air dengan bebas membasahi tubuh mereka berdua, Kian lupa bahwa Areta baru saja sembuh dari demamnya, hingga membuat Areta harus mandi sepagi ini.
"Kau harus bersiap sepagi ini, karena kita akan menikah!"
"Sepagi ini?!"
"Y ... karena itu mauku!"
•
•
•
Bersambung~
Tinggalkan rate bintang lima, 'ya....
__ADS_1
Like komen dan vote jangan ketinggalan 😘