Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Gaun Merah Muda


__ADS_3

Lyana tampak tertegun ketika melihat sosok pria yang tiba-tiba memeluknya, ia tidak bisa berkata apapun ketika di peluk dan wajahnya di pegang oleh Kian, dirinya mengunci mulutnya rapat-rapat tidak ingin mengucapkan sepatah katapun, karena ia cukup ketakutan saat ini.


"Anastasya, kau masih hidup?!" Ekspresi Kian tampak lain ketika menatap wajah Lyana, sementara Irene lagi-lagi ia harus gigit jari karena Kian hanya memperhatikan wanita yang ia anggap Anastasya itu.


"Ta–tapi, Boss. Yosi berkata bahwa dia bukan nona Anastasya," ujar Silda ragu.


Sedetik kemudian Kian menatap wajah Silda serius, dan menguarkan aura menakutkan. "Apa maksudmu? Jelas-jelas dia Anastasya!" seru Kian dengan lantang.


"Ta–tapi Boss, benar jika ia bukan nona Anastasya, lagi pula dulu kita sendiri yang memakamkan jasad nona di peristirahatan terakhir," kata Silda terbata.


"Benar kata Silda, Kian. Kita tetap harus berhati-hati!" Sela Irene, masuk ke dalam kamar itu.


Kian menilik wanita tersebut, dan memindai seluruh tubuh gadis yang berusia sekita 27 tahun itu. Kian tampak terdiam sejenak, lalu ia berjongkok dan memandang gadis itu dengan saksama, dia menangkup kedua pipinya dan memperhatikan wajahnya.


"Kalau dia bukan Anastasya, lalu dia siapa? Apakah dia kembaran Anastasya? Aku harus cari tahu," ucap Kian membatin.


"Siapa namamu, Nona?" tanya Kian, lembut. Namun gadis itu malah menunjukan sikap ketakutan yang amat sangat saat Kian mengajaknya berbicara.


"Tidak usah takut, aku akan menjagamu. Siapa namamu?" tanya Kian lagi.


"A–a–aku Lyana Jacobs, aku dijual oleh Yosiana kemari, mohon Tuan bisa berbaik hati, kembalikan aku ke kotaku, Tuan," pinta Lyana memohon kepada Kian yang duduk di hadapannya.


Kian meremas lembut pundak Lyana sambil berkata pelan, "Hidupmu di sini akan terjamin, Lyana. Aku pastikan itu, kamu akan memiliki kehidupan mewah di sisiku," terang Kian, mencoba membujuk Lyana.


"Ta–tapi, Tuan ...."


"Silda ... siapkan kamar mewah untuk nona Lyana, cepat!" perintah Kian.


Silda pun berlari ketika mendapat perintah dari bossnya itu dan segera menyuruh para Asisstentnya mengerjakan perintah Kian.


"Kian ... mengapa kau percaya kepadanya?!" tanya Irene.


"Tutup mulutmu Irene! Dia sedang ketakutan. Mana Areta?!"

__ADS_1


"Entahlah," sahut Irene, dan ia lebih memilih pergi meninggalkan Kian dan Lyana.


***


Lyana pun masuk ke dalam kamar yang telah dipersiapkan untuknya dengan interior mewah serupa dengan kamar Areta dan Irene, gadis itu tampak berdecak kagum untuk sesaat, lalu kembali meringis ketakutan dengan tempat itu.


"Kau bisa tidur di sini, Lyana! Aku tidak akan mengganggumu," ucap Kian, lalu menutup pintu dan pergi.


Sementara itu, Mark telah mempersiapkan pesta kemenangan Kian yang telah mengakuisisi wilayah Lemonia, acara itu akan sangat meriah karena akan dihadiri oleh mafia-mafia yang berpengaruh di negaranya.


"Bagaimana persiapannya, Mark?" tanya Kian yang tiba-tiba muncul dari belakang. Mark yang sedikit terkejut nampak terperanjat sesaat lalu kembali dalam posisi siap.


"97 persen semua siap, Boss!" jawabnya.


"Mark, Yosiana telah mengirim satu orang gadis bernama Lyana, dia sangat mirip dengan Anastasya, tapi aku yakin dia adalah Anastasya."


Mark terdiam sesaat lalu berkata pelan, "Saat itu kita sendiri yang menguburkan nona Anastasya, bagaimana bisa dia hidup kembali, Boss?"


"Selidiki dia untukku, Mark!" perintah Kian, lalu ia pergi meninggalkan kaki tangannya itu.


***


Areta mengerjapkan mata dan menatap jendela yang gordennya sengaja ia buka sejak tadi, ia disuguhkan oleh langit senja berwarna orange yang sangat indah, karena sang surya telah kembali ke peraduannya.


"Ah ... aku begitu lelah hingga aku telah tertidur selama ini," gumam Areta dalam hati. Tiba-tiba suara ketukan pintu memaksa Areta membuka mulutnya.


"Ya ... masuk saja!" sahut Areta pelan.


Seorang pelayan wanita masuk dengan setengah membungkuk, hal itu ia lakukan karena status Areta adalah nyonya di dalam rumah ini, terlepas Kian hanya menganggapnya sebagai peliharaan, akan tetapi semua bawahannya diperintahkan Kian untuk tunduk kepada Areta.


"Nona ... Boss Kian meminta Anda segera bersiap menghadiri acara pesta malam ini," ucap sang Pelayan.


"Astaga!" Areta menepuk keningnya sendiri. "Malam ini adalah pesta perayaan Kian," lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu saya mohon permisi, Nona," kata pelayan itu, lalu pergi dan kembali menutup pintu.


Pukul 19:00 Semua undangan telah sampai di kediaman Kian, ya ... undangan dari kalangan mafia, dan sebagian dari mereka membawa para wanita yang bukan istri dari mereka.


Areta telah bersiap mengenakan gaun merah muda panjang, dengan potongan bahu sedikit terbuka gaun itu nenjuntai hingga menyentuh lantai dan ia memakai sepatu dengan warna senada dengan gaun yang ia pakai, sementara rambutnya sengaja ia gerai sehingga meninggalkan kesan dewasa untuknya.


Areta pun keluar, ia sidikit mengitip dari lantai dua. Dirinya melihat Irene memakai gaun berwarna hitam dengan punggung terbuka, sementara ia juga melihat Lyana dengan gaun biru muda dan ia berdiri di samping Kian seolah ia adalah nyonya rumah di rumah ini. Melihat hal itu, batin Areta sedikit mengganjal, apakah ia memperkenalkan kembaran Anastasya itu sebagai istrinya.


Areta berjalan perlahan menuruni anak tangga, semua mata tertuju kepada sosok gadis cantik bergaun merah muda yang seolah seperti dewi yang turun dari langit itu, tak terkecuali para mafia tua hidung belang, mereka seolah di suguhkan pemandangan bidadari surga yang tersaji di mata mereka. Kian yang melihat hal itu tampak geram, lalu ia berjalan ke arah Areta yang sedang berjalan pelan, ia melepas jas yang ia kenakan dan menutupkan jas tersebut ke arah pundak Areta yang terespos.


"Apa-apaan ini Areta?!" tanya Kian setengah berbisik, menghentikan langkah Areta.


"Ada apa, Kian?" tanya Areta sedikit bingung.


"Lihat bajumu! Semua mata melihatmu seolah mereka ingin menelanmu mentah-mentah, naik dan ganti bajumu!" perintah Kian.


"Mengapa? Bukankah Irene juga menakai gaun dengan punggung terbuka? Kau tidak memprotes dirinya."


Kian menatap Irene sejenak yang sedang berbicara dengan para wanita, lalu kembali menatap wajah Areta. "Kau ini adalah nyonya Kian! Jaga perilakumu! Dan segera ganti baju!" perintah Kian lagi.


"Tidak!" sahut Areta mulai berani.


Kian mulai kehabisan akal dan kembali mengantar Areta kembali ke kamarnya dan memilihkan baju untuknya.





Bersambung~


Jangan lupa Like 👍 tinggalkan kesan di 💬 dan Vote seiklasnya 💌 Serta tap ❤ agar mendapat notifikasi ketika mas Kian update.

__ADS_1



__ADS_2