Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Menantu


__ADS_3

Mr. Mafia bab 66


Mendengar kalimat kekecewaan dari mulut Areta membuat napas Elma seolah tercekat, lidahnya kelu seolah suaranya tak mampu lagi menguar, kakinya lemas hampir saja ia terduduk di lantai, jika ia tidak memegang tembok di sampingnya. Bagaimana tidak, Areta telah bersumpah serapah jika ia tidak akan memaafkan ayah kandungnya itu. Elma bukannya tidak ingin mengerti, jika Addison bersalah dan seharusnya ia tidak termaafkan. Tapi Areta hanya memiliki satu orang tua, dan hanya Addison lah Ayahnya.


"A–aku tahu, kau tidak akan memaafkan ayahmu, tapi ... bagaimanapun juga dia satu-satunya orang tua yang kamu miliki." Elma berkata dengan sisa kekuatan suaranya dengan lidah kelu.


Namun Areta dengan lantang serta rahang mengetat dan air mata tidak henti-hentinya mengalir. Ia berkata, "Sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkannya!" desis Areta, lalu menatap ke seluruh bawahan Kian yang menatap adegan dramatis itu, seolah sedang melihat drama di televisi. "Kalian! Mengapa kalian membiarkan istri seorang mafia jahat, masuk! Usir dia!" perintah Areta, lalu pergi berjalan meninggalkan Elma yang masih menangis lemas.


Areta berjalan dengan langkah tertatih, ia tidak bisa terima jika The Rock adalah ayah yang selama ini ia cari, ternyata orang yang jahat. Padahal selama ini Areta sungguh tidak ingin membencinya, pun dengan sang ibu tidak pernah menceritakan hal buruk tentang ayahnya. Tapi yang ia lihat, ayahnya adalah monster pembunuh yang menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan apapun yang menghalangi jalannya.


Kian memerintahkan semua anak buahnya untuk mengusir Elma, sesuai apa keinginan Areta.


"Usir dia dari sini, jangan biarkan ia masuk kembali!" perintah Kian.


Saat semua pengawal memegang tangan Elma dan berusaha menggiringnya keluar, Elma berkata dengan lantang menatap Areta yang naik ke lantai dua.


"Areta ... jangan sampai kau menyesal, Nak. Jika ayahmu meninggal!" pekiknya, sebagai upaya meluluhkan hati Areta, namun sayangnya Areta hanya bergeming tidak menengok sedikitpun kepada Elma.


Wanita paruh baya itu menyadari jika ada dua orang yang memegangi dirinya dan siap membawanya keluar, lalu ia berontak dengan sangat kuat.


"Lepaskan aku! Aku bisa pergi sendiri!" desisnya, dengan air mata yang masih menetes.


Lalu ia jalan keluar dari rumah itu menuju mobilnya yang penyok dan tergores di sana sini.


***


Areta membanting pintu kamarnya, ia tak kuasa lagi menahan tangis pilunya ketika mengetahui kenyataan jika ia adalah darah daging The Rock. Darah mafia itu mengalir di dalam tubuhnya, seakan dirinya tidak percaya akan hal itu. Bagaimana mungkin dunia bisa sekebetulan ini. Ia menikah dengan Kian seorang mafia dan ayahnya juga adalah mafia. Sungguh semesta sedang mempermainkan hidup Areta saat selama ini, takdir macam apa ini.


Suara ketukan membuyarkan tangisan Areta, seketika ia mengusap air matanya, ia ingin terlihat tegar di mata semua orang.


"Kau baik-baik saja?" Kian bertanya pelan.


Areta langsung menyambar wajah lelaki itu, mafia yang biasanya tampak garang, entah mengapa kini terlihat jinak untuk dirinya. Seketika itu pula Areta tersenyum kepada suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa." Ia menjawab singkat, membuang muka agar Kian tidak melihat matanya yang sembab.


"Apakah kau ingin sendiri?" tanyanya lagi.


"Ya... tinggalkan aku sendiri," sahutnya.


Kian menutup pintu secara pelan, supaya tidak mengganggu Areta, namun tanpa di sangka oleh Kian, Areta berlari dan memeluk tubuh pria itu dari belakang.


"Kau tidak membenciku?" tanya Areta lirih.


Kian tersentak kaget, tanpa diminta kali ini Areta memeluk tubuhnya hingga erat, jujur saja Kian sangat kecewa mengetahui jika Areta adalah anak dari musuhnya, namun sayangnya cintanya telah mengalir dan menjalari jiwanya, memaksa nuraninya untuk tidak membenci wanita ini.


"Benci untuk?"


"Darah manusia itu, The Rock. Mengalir dalam tubuhku." Areta menggeretakkan gigi karena marah mengingat jika ia adalah anak dari The Rock.


Kian berbalik badan, lalu memeluk Areta yang bediri di hadapannya, membenamkan kepada wanita itu ke dalam dadanya, hingga membuat Areta nyaman.


Areta melepaskan pelukan Kian, menatap lekat mata pria itu dalam-dalam. Meraih kedua telapak tangannya.


"Jika benar aku adalah putri kandungnya, apakah kau akan membenciku?" tanya Areta gusar.


Kian menggelengkan kepala dan tersenyum, sembari mengelus lembut rambut istrinya.


"Aku tidak ada wewenang untuk membencimu. Ini adalah takdir. Seperti halnya kematian Andrea, jika kau adalah anak darinya. Ya... ini adalah takdir yang tidak terelakkan, Areta."


Entah mengapa sejak kapan Kian menjadi sangat dewasa. Mungkin saja ia baru saja bertemu pemuka agama dan mendapat siraman rohani, membuat ia menjadi bijak. Padahal menurut sifat aslinya, ia akan membunuh siapa saja jika ia mempunya hubungan dengan The Rock musuh terbesarnya.


"Tapi Kian. Aku tidak akan pernah memaafkan pria itu," desis Areta penuh kebencian.


***


Elma telah sampai di rumah sakit, banyak bawahan Addison yang menjaga di depan pintu, bahkan di radius hingga seratus meter dengan dandanan biasa sebagai kamuflase agar tidak menghebohkan seisi rumah sakit dengan kehadiran ratusan orang berbaju hitam. Itu adalah perintah langsung dari Elma, dan semua mengikuti perintah itu. Seorang bawahan kepercayaan Addison menghampiri Elma yang tampak memasang wajah lesu.

__ADS_1


"Nyonya, Tuan Addison telah sadar. Dan sedari tadi mencari Anda," lapornya.


Elma langsung bergegas dan berlari masuk ke dalam ruangan perawatan Addison. Ia mendapati Addison sedang di periksa oleh para dokter.


"Ad.... " pekiknya, menghampiri sang suami dan memeluk lembut lelaki paruh baya itu.


Addison menyambut dengan lemah, ia tersenyum tipis melihat istrinya yang telah kembali entah dari mana.


"Kau dari mana?" tanya Addison lemah.


"Tidak... aku dari rumah, tadi. Berganti baju." Elma menghapus air matanya, dan menyembunyikan kejadian yang sebenarnya. Jika Areta tidak ingin menemui ayahnya sendiri. Karena kalau Addison tahu, Areta tidak ingin mengakuinya. Elma takut akan membuat suaminya terpukul dan kembali lagi tak sadarkan diri.


"Baguslah... maafkan aku karena meninggalkanmu sesaat," ucapnya lembut.


"Aku sungguh ketakutan, tidak bisa kubanyangkan jika kau pergi dan tidak kembali lagi," ucap Elma menghela napas lega.


"Mungkin Tuhan telah menangguhkan nyawaku, agar aku mempertanggung jawabkan segala kesalahanku." Ia berucap lirih, matanya tidak bisa berbohong bahwa Addison sangat menyesali semua kesalahannya kali ini. "Aku ingin minta maaf kepada menantuku," imbuhnya lagi.


"Menantu?" tanya Elma, tersentak kaget.





Bersambung~


OMG, Addison ngakuin Kian, sebagai menantu. Pantengin terus, 'yah. Apakah Areta dan Kian mau memaafkan Addison, atau malah akan ngajakin perang.


Jangan lupa like, komen, voucher vote mingguan buat mas Kian, ya. Oh iya gift juga 💅


Yu... papay.

__ADS_1


__ADS_2