
Mr. Mafia Bab 35
Setelah menuntaskan hasratnya kepada tubuh Areta, Kian terdiam sejenak. Lalu berjalan menyambar baju yang berserakan di lantai dan memungutnya kemudian memakainya kembali.
Sembari mengancingkan satu persatu kemejanya, Kian mendekati meja, dan membuka laci mengambil sebuah map berwarna hitam. Lalu kembali mendekati Areta yang dengan susah payah tengah mengenakan kembali baju tidurnya. Yang telah koyak akibat perbuatan Kian kepadanya malam ini. Areta menatap serius kepada Kian yang mulai berjalan ke arahnya. Pria itu melemparkan map ke atas meja dengan begitu keras, hingga mampu membuat Areta terkejut.
"Apa ini?" tanya Areta, bingung.
"Aku telah mengubah surat kontrak kita, dalam kontrak itu. Kau bisa bebas setelah dua tahun. Bukan tiga tahun. Dan dalam waktu itu, kau bisa melahirkan anak untukku, dan menjadi ibunya, tapi ketika kontrak itu berakhir, kau harus lepaskan semua atributmu sebagai seorang ibu." Kian menjelaskan panjang lebar kepada Kian. Tentu saja hal itu membuat Areta murka. Bagaimana bisa ia berpikir, seorang anak dipisahkan dengan ibunya. Kian sungguh benar-benar pantas disebut monster.
Areta memicingkan mata, menatap tajam ke arah Kian. "Kau pikir aku mesin pembuat anak?!" desis Areta, berjalan pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Jadi, kau tidak mau menandatanganinya, dan kau setuju untuk membusuk di rumah ini, melihat anak-anakmu tumbuh dan bahkan melihatku menikah dengan wanita lain yang mungkin aku cintai?" Kian meledek Areta.
Areta menatap sejenak, lidahnya kelu seketika mendengar ucapan dari Kian yang begitu sulit dipercaya, apakah ia adalah sosok antagonis yang sengaja keluar dari drama serial televisi yang melompat ke dunia nyata, hanya untuk menyiksa batin Areta.
Areta berjalan mendekati suaminya itu, lalu memberanikan diri berkata dengan lantang, "Kau pikir aku hidup untuk diinjak-injak oleh mafia sepertimu?! Aku memilih kontrak kita yang pertama, dan mulai sekarang jangan pernah menyentuhku lagi! Dan satu lagi aku bisa mencari tahu tentang Celine sendiri, tanpa bantuanmu!" desis Areta, lalu berjalan pergi, meninggalkan mafia tersebut.
Kian hanya tersenyum mendengar kalimat dari Areta, yang sudah berani melawan dirinya. Seolah ia memiliki delapan nyawa karena sudah menolak keinginannya.
Areta berjalan keluar dari ruangan itu dan membanting pintu sekeras mungkin. Karena begitu emosi melihat tingkah laku Kian yang ingin menjadikannya mesin penghasil keturunan untuknya.
'Dasar mafia jahat'
Areta terus mengumpat di dalam hati, ia terus mengutuk mafia itu dengan kutukan-kutukan mengerikan yang keluar dari mulutnya yang seakan sedang teraniaya.
***
Pagi telah bersiap merajai hari, Areta tengah bersiap untuk mencari tahu siapa sebenarnya Celine. Areta semalam telah menghubungi Shane, dan meminta bantuan kepada sahabat Kian itu. Tentu saja Shane enggan menolak permintaan Areta karena ia adalah istri sahabatnya, di samping itu juga Shane juga diperintahkan langsung oleh Kian, ketika ia melapor jika Areta meminta bantuan kepadanya. Dan Kian memberikan lampu hijau untuk dirinya membantu prempuan yang beranjak 20 tahun tersebut.
"Celine ... maukah kau ikut denganku?" Areta tengah merapikan bajunya dan imenatap parasnya di cermin ketika Celine terus memperhatikan gerak-gerik Areta.
__ADS_1
"Kemana Nyonya akan pergi?" tanya Celine mengerutkan keningnya.
"Aku ingin pergi ke kotamu, untuk mencari ayahmu," jawab Areta. Namun tiba-tiba Celine memasang wajah ketakutan saat mendengar kata ayahnya.
"Ja–jangan antarkan aku pulang, Nyonya. Meskipun di sini menakutkan, tapi aku memilikimu yang baik padaku. Tolong jangan antarkan aku pulang, Nyonya. Ayahku pasti akan memaksaku bekerja dan memukuliku setiap saat ketika masakanku tidak enak, dan ayah juga sering mabuk-mabukkan, aku tidak mau tinggal bersamanya lagi," rengek Celine, dengan air mata deras mengucur dari celah bola matanya.
"Tenanglah! Aku tidak akan mengantarkanmu pulang. Aku hanya ingin tahu siapa ayahmu dan alasan kenapa ia memperlakukanmu dengan tidak baik," hibur Areta, mengelus rambut anak itu dengan lembut.
Areta meraih jemari Celine lalu menggengam jari mungil itu, dari matanya terpancar aura kasih sayang tulus dari Areta untuk gadis kecil itu.
Areta menggandeng tangan Celine keluar dari kamar. Mereka hanya melewati Kian yang menatap mereka dengan tatapan serius. Laki-laki itu meletakkan surat kabar yang sejak tadi dibaca olehnya.
"Areta. Mau kemana kau?" tanya Kian, padahal laki-laki itu sudah tahu jawabannya tanpa Areta memberi tahu, karena Shane telah mengabarinya sebelumnya.
Areta berhenti sejenak, dan menatap wajah suaminya itu dengan tatapan benci. "Aku sudah berkata padamu semalam, jika aku akan mencari tahu asal usul Celine, dan kukira kau sudah tahu jawabannya."
Areta berjalan keluar tanpa berpamitan kepada suaminya itu. Kian yang melihat hal tersebut hanya diam saja dan kembali membaca surat kabar yang ia bawa sejak tadi.
Saat sampai di depan pintu utama, Shane yang melihat Areta berjalan bersama Celine tampak terdiam sesaat. Lalu bertanya kepada istri sahabatnya tersebut.
Areta mengangguk bingung, lalu melemparkan pandanganya kepada Celine, dan memeriksa apakah ada yang aneh atau tidak beres terhadap gadis kecil yang sedang ia gandeng itu. Namun alih-alih menemukan hal yang janggal, Areta melihat diri Celine tidak ada hal yang janggal sama sekali.
"Matanya seperti seseorang yang pernah kukenal." Shane berujar sambil menatap Celine dan tenggelam dalam lamunannya.
"Siapa?" tanya Areta ingin tahu.
"Bukan hal penting, ayo masuk! Aku sudah menghubungi Yosiana, dimana gadis ini tinggal," ucap Shane berjalan dan membukakan pintu untuk Areta dan Celine di bagian belakang mobil.
***
Tak membutuhkan waktu seharian, perjalanan memang cukup panjang dan melelahkan, tapi semua itu terbayar oleh keindahan laut yang tersaji di depan mata. Sudah lama Areta tidak melihat pemandangan seindah ini. Mereka telah sampai dengan selamat.
__ADS_1
"Kau bisa memberi tahu kami, di mana rumahmu, Celine?" tanya Areta lembut.
"Hem ... baik Nyonya. Tidak lama lagi kita akan sampai." Tiba-tiba Celine berteriak saat melihat seorang pria, seolah ia sedang ketakutan karenanya.
"Aaaaaa—"
Areta terperanjat mendengar teriakan gadis kecil itu lalu memeluknya dengan erat. "Ada apa?" tanya Areta penasaran.
"I–itu ayahku, Nyonya—" jawab Celine terbata.
Tiba-tiba Shane berlari keluar dan mencengkeram kuat kerah baju laki-laki yang ditunjuk oleh Celine tersebut.
"Ronan!" pekik Shane, sepertinya sahabat Kian itu telah mengenal ayah Celine. "Dimana kau sembunyikan There dan anak yang dulu dikandung olehnya?!"
"S–Shane, b–bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya laki-laki bernama Ronan tersebut terbata, lalu Shane melayangkan bogem mentah secara bertubi-tubi kepada laki-laki tersebut hingga wajahnya babak belur. Sebelum Shane membunuh ayah Celine, cepat-cepat Areta keluar dari dalam mobil untuk mencegah Shane yang hendak menghabisi nyawa Ronan.
"Shane ... hentikan!" teriak Areta mencoba melepaskan cengkeraman tangan Shane pada Ronan.
Namun Shane tak mendengarkan Areta, ia terus menghajar Ronan tanpa ampun.
"Shane hentikan, Celine melihatmu, dia ketakutan! Dia sudah trauma selama ini, Shane!"
"Ayah—" ucap Celine lirih. Menatap nanar mereka bertiga.
•
•
•
Bersambung—
__ADS_1
Like, Komen dan vote, oke—
Thank you 🙏