
Mr. mafia 84
Mata Kian dan Nicky saling beradu, Kian tidak menyukai cara Nicky memandang istrinya yang seolah ingin melahap Areta mentah-mentah.
"Jaga batasanmu!" desis Kian pelan. Namun Nicky malah memicingkan matanya, memang rasa benci Nicky kepada Kian sudah tertanam sejak dulu, karena perselisihan antara Addison dan Kian yang tercipta begitu lama.
Addison menyadari, jika admosfir di rumahnya mulai tidak enak, hingga membuatnya harus repot bedehem, agar mereka sadar akan keberadaan dirinya dan Elma, karena jika tidak dihentikan, entah apa yang terjadi. Mungkin keduanya bisa saling mengacungkan senjata api yang tersimpan rapi di dalam jas mereka.
Areta mengelus pundak suaminya untuk menenangkan Kian, dan dibalas senyuman lembut dari pria itu, yang membuat Areta seketika dapat bernapas lega.
"Ayo masuk! Anggap saja rumah kalian sendiri," ajak Elma, menggandeng tangan Areta, melepaskan genggaman—tangannya pada suaminya. Kian mengangguk ketika Areta menatap dirinya seolah meminta izin. Kian tetap berdiri di belakang ketika semuanya telah masuk ke dalam rumah besar dengan gaya American style tersebut. Ia berbalik badan dan menghampiri Mark yang masih berada di kursi kemudi menyaksikan semua adegan itu.
"Kau pulang saja!" perintahnya.
"Tapi, Boss—"
"Tidak ada tapi! Kau baru saja menikah, kau juga harus menemani Irene! Dan bersiap bulan madu di kapal pesiar dengan kami, nanti."
"Tapi kalau The Rock merencanakan sesuatu?"
"Tidak akan. Areta bersamaku," jawabnya santai.
"Baiklah Boss. Saya kembali pulang."
Kian mengangguk, menantikan kepergian Mark dan menyaksikan hingga mobil Fan itu menghilang dari balik gerbang besar rumah Addison.
Kian kembali masuk ke dalam rumah Addison, seorang pelayan menemui dirinya dan berkata, "Tua muda, Nona Areta ada di meja makan."
__ADS_1
Kian mengikuti pelayan tersebut untuk menuju ke ruang makan. Rumah itu memang terlihat besar jika hanya untuk Addison dan Elma saja. Mungkin jika ada suara tawa dan tangis anak kecil, rumah ini akan terlihat lebih hangat dan berwarna.
"Sayang ... kau kemana saja?" tanya Areta, saat Kian melangkah masuk ke ruangan itu. Kian berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya, lalu mengelus lembut rambut Areta.
"Silakan, Nak. Nikmati makan siang pertamamu di rumah Papa," kata Addison. bersikap ramah.
Namun beda halnya dengan Nicky, ia memang tidak menyukai Kian sejak awal, ia juga bukan tipe orang yang dengan mudah menutupi perasaannya.
"Paman. Bagaimana rasanya memiliki putri yang cantik seperti dewi?" tanya Nicky kepada pamannya.
Mata Kian langsung memicing ke arah Nicky, sementara Areta sendiri merasa kurang nyaman dengan perkataan pria itu.
"Ha-ha-ha ... apakah kau tidak melihat pamanmu ini? Wajahku sangat tampan, bukan? Pastilah anakmu menurun padaku." Addison mencoba mencairkan suasana di antara mereka.
"Sudah ... sudah. Ayo kita makan, Kian dan Areta pasti sudah sangat lapar." Elma memotong pembicaraan mereka.
"Benar-benar cantik, sayang sekali—jika kau adalah milik seorang Kian." Nicky mulai meprovokasi Kian, hingga membuat Kian menggeretakkan gigi karena marah, hingga hampir saja ia merogoh pistol yang ada di dalam saku jasnya, namun cepat-cepat Areta memegang tangan Kian untuk menghentikannya.
"Oke paman. Aku tidak akan menggodanya, lalu apa hubungan kami, adik atau kakak?" tanyannya.
"Dia lebih muda darimu, kau bisa menganggapnya sebagai adik," jawab Elma, sembari mengambilkan nasi untuk sang suami. Pun juga dengan Areta, ia melakukan hal yang sama, meladeni suaminya.
"Huh ... andai saja aku juga punya istri, pasti juga akan di ladeni seperti seorang suami," keluh Nicky, ia begitu menyebalkan dan banyak bicara, hingga mengganggu suasana hati Kian tidak karuan.
"Lagi pula umurmu sudah pas untuk menikah, mengapa kau tidak menikah saja?" tanya Elma.
"Aku belum menemukan bidadari secantik wanita yang ada di hadapanku," sahutnya menatap sayu pada Areta.
__ADS_1
Kian ingin sekali menembak kepala Nicky, hingga memuntahkan isi di dalam—kepala Nicky, tapi ia benar-benar tidak kuasa—hanya bisa menggengam sendok yang ada di tangannya. Areta yang mengetahui suaminya mulai terprovokasi dengan ulah Nicky, tiba-tiba mencium pipinya hingga membuat semua orang terdiam melihatnya.
"I love you," bisiknya. Membuat pipi Kian memerah dan seketika amarahnya mereda. Dan Nicky, ia hanya bisa memasang wajah masamnya karena begitu kesal.
Setelah perlakuan Areta pada Kian, Nicky pun hanya bisa gigit jari dan tersenyum kecut.
"Kita berangkat malam ini?" tanya Addison pada Kian dan Areta.
"Kalian mau ke mana? Dan tanpa aku?" Nicky memotong pembicaraan Addison saat Areta akan membuka mulut, guna menjawab pertanyaan ayahnya.
"Kami akan berlibur di kapal pesiar," jawab Elma.
"Pesiar?" tanyanya, ia seolah berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon seseorang. Setelah tersambung. "Hallo ... Rosie. Apakah kau ada acara, aku ingin mengajakmu berlibur," ucapnya, dengan bola mata menatap Areta.
'Siapa yang akan mengejak pria menyebalkan ini?'
Areta bergumam dalam hati, ia begitu kesal saat dengan penuh percaya diri Nicky—pria menyebalkan di hadapannya ini berkelakar ingin ikut serta. Namun Addison juga tidak ingin berkata apapun untuk mencegahnya agar tidak ikut.
Nicky meletakkan ponselnya di atas meja. "Oke, aku dan kekasihku akan ikut," kelakarnya.
"Oke, lebih banyak orang akan lebih ramai," jawab Addison. Namun ia tidak sadar jika Kian dan Areta memasang ekspresi tidak setuju, jika Nicky ikut.
Mata Nicky langsung menatap menyeringai ke arah keduanya seolah sedang merencanakan sesuatu yang licik.
•
•
__ADS_1
•
Bersambung~