
Mr. Mafia 78
Tangan Areta seketika mengepal kuat saat melihat kedatangan The Rock dan istrinya. Sungguh benar-benar ia tidak bisa menyembunyikan kebenciannya itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah tidak ada yang berjaga-jaga atas kehadiran musuh Kian yang masuk ke Area rumah. Padaha sebelumnya Elma yang datang seorang diri semua orang mengacungkan senjata pada diri wanita paruh baya itu. Tapi kini seolah dunia telah berbalik seratus delapan puluh derajad, dan itu berhasil membuat istri Kian itu keheranan.
Areta melihat Kian ditemani Mark dan Shane menyambut kehadiran mereka berdua, tangan Areta makin mengepal kuat saat mengetahui hal itu, ia benar-benar marah dengan kejutan ini.
"Kau tidak ingin menemui mereka?" tanya Irene, menatap Areta yang tampak memaku memandang kosong ke arah mereka. "Hei ... Areta, apa yang sedang kau pikirankan?" Irene menepuk pundak istri Kian tersebut guna menyadarkannya.
Areta tersentak. "Tidak ada, aku akan menyelesaikan ini dulu, kau boleh masuk!" sahutnya mencoba menghindari pertemuannya dengan ayah kandungnya.
"Apakah kau akan menghindari mereka?" tanya Irene memastikan.
"Tidak ... aku hanya belum siap."
Areta kembali menata hamparan tanaman bunga, memangkas dedaunan untuk membuatnya menjadi bentuk hati, sebagai hiasan di depan altar pernikahan Irene dan Mark.
Tiba-tiba suara lembut menyembur ke telinganya membuat Areta memekik karena kaget, ia seketika memegang dadanya sendiri dan menghempaskan gunting rumput, hingga hampir mengenai kakinya.
"Areta!" seru seseorang di belakangnya karena ikut terkejut bukan main.
Areta menghindar dari tusukkan benda tajam itu dengan secepat kilat secara reflek.
"Astaga!"
"Syukurlah kau bisa menghindar," ucap Kian yang sejak tadi berniat menggodanya.
"Apakah kau kurang waras, Kian Egan?! Bagaimana jika benda itu menusuk atau memotong kakiku?" desis Areta, matanya memicing karena kesal.
"Aku akan menggantikan kakiku untukmu," jawabnya santai.
"Uh ... terserah kau sajalah!"
"Come on, Honey! Jangan marah!" ucapnya merayu.
Areta melirik ke arah suaminya. "Apa kau yang mengundang mereka kemari?"
Seolah mengerti maksud dari pembicaraan Areta, Kian menghela napas panjang. Ia mencoba tetap tenang meskipun ia tahu, karena hal ini bisa membuat mood istrinya memburuk.
"Mereka yang ingin kemari, bukan bermaksud berperang, tapi meluruskan setiap masalah dan mempererat hubungan."
"Hah ... apakah semua itu cukup, dengan harga yang kau bayar? Bahkan atas meninggalnya Anddrea?!" desis Areta, mulai terprovokasi.
Kian menatap kesekeliling, kemudian meredam amarah Areta memeluknya dengan lembut.
"Aku tahu jika kau membencinya, tapi apakah kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu? Hanya dia yang kau miliki saat ini," ucap Kian.
"Sudah aku katakan, jika aku sudah bahagia hanya memilikimu!" pekiknya kesal.
__ADS_1
Kian memaksa Areta berjalan masuk ke dalam rumah, entah apa yang dipikirkan suaminya itu hingga tiba-tiba menyeret Areta masuk.
"Apa-apaan ini Kian?!"
Namun mafia itu bergeming, ia tetap memapah tubuh mungil Areta yang tingginya hanya sebatas dada Kian saja. Lalu mereka berhenti tepat di depan pintu masuk, barulah Kian melepaskannya.
"Apakah ini caramu bersopan santun sebagai istriku? Singkirkan egomu, jadilah sebagai mana nyonya Kian saat menemui tamu!" bisiknya.
Areta terdiam, lalu ia menepuk-nepuk dressnya yang tidak kotor itu. Lalu masuk terlebih dulu, untuk menemui The Rock.
"Selamat datang Tuan Addison!" Tiba-tiba Areta berseru saat memasuki area ruang tamu, membuat semua pandangan tertuju pada dirinya.
Kian berdehem untuk membunuh kecanggungan di ruang tamu itu.
"Maaf telah menunggu, Pa!" ucap Kian, yang membuat mata Areta menatap Kian dengan tajam seolah ingin melucuti Kian.
'Pa? Apakah maksud dia Papa?'
Areta bergumam tidak percaya, lalu dengan langkah anggun yang biasa ia tampakkan, ia berjalan mendekat dan duduk tepat di depan Addison yang di batasi oleh meja yang lumayan lebar dan panjang, lalu ia menyilakan kaki satu ke kaki lainnya sebagai tumpuan.
"Aku sudah ada di sini, apa yang anda inginkan, Tuan Addison? tanya Areta tanpa basa-basi.
Manik mata Addison memancarkan ekspesi nanar saat ia tahu jika anak kandungnya masih belum bisa menerimanya sebagai orangtuanya.
"Aku tahu jika kau membenciku, tapi izinkan aku menebus dosaku terhadapmu, sebelum ajal menjemputku." Addison berucap lemah.
"Aku tahu, begitu banyak kesalahanku di masa lalu terhadapku. Keegoisanku meninggalkanmu dan ibumu membuat dirimu mungkin sangat membenciku."
Areta menguatkan tekatnya untuk menatap pria paruh baya itu.
"Awalnya—"
Ketika kalimat Areta belum selesai, tiba-tiba Kian kembali berulah.
"Sayang ... sepertinya kau haus, minumlah teh ini!"
Sorot mata tajam langsung menghujam ke arah pria itu, seolah ia sedang diintimidasi oleh Areta dan seketika ia terdiam.
"Awalnya apa?" tanya Elma, mengingatkan Areta untuk kembali melanjutkan ucapanya yang sempat terpotong.
"Lupakanlah!" sahut Areta.
"Sepertinya makanan telah siap, Papa dan Mama mari ke ruang makan untuk—makan siang bersama." Kian mencairkan suasana dengan mengajak mereka makan siang bersama-sama.
'Apakah dia sudah benar-benar tidak waras?'
Areta berkata dalam hati dengan ekspresi tidak percaya dan terus memperhatikan Kian.
__ADS_1
Namun anehnya Kian hanya mengangkat bahunya seolah ingin lepas tanggung jawab atas pertanyaan Areta yang tersirat lewat ekspresinya.
Addison dan Elma mengangguk pelan.
Kemudian berjalan pelan mengikuti Kian dan yang lainnya meninggalkan Areta.
"Apa-apaan semua ini, apakah aku hanya sebuah embusan angin di sini? Hingga tidak ada yang ingin bertanya perihal perasaanku hari ini?" gerutu Areta kesal, mengikuti mereka semua dari belakang.
Semua orang telah sampai di meja makan, hanya menyisakan Areta yang ada di belakang berjalan malas seolah seperti seorang anak yang sedang marah kepada orang tuanya.
"Apakah kau tidak lapar, Honey?" ucap Kian bertujuan agar Areta mempercepat langkahnya.
Hingga Areta harus repot-repot berjalan cepat karena tidak enak jika semua orang menunggunya.
Formasi ini sungguh lengkap. Kian dengan Areta, Mark pun ikut makan satu meja bersama Irene, dan ada Addison dan Elma juga hadir, hanya saja Shane tidak membawa sang istri yang tengah hamil.
"Kemana istrimu?" tanya Addison kepada Shane.
"Istriku tengah hamil muda Tuan, untuk berjalan saja ia tidak bisa, ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur karena dalam masa Three Semester pertama, yang membuatnya seperti orang mabuk," jelas Shane.
"Ah ... hamil muda, ya? Aku ingat saat Marla hamil Areta dulu ...."
"Ya ... sebelum kau meninggalkan ibuku, bukan?" Areta memotong ucapan Addison, hingga atmosfir canggung menyeruak kembali ke permukaan.
Hingga Kian harus repot-repot berdehem, hanya untuk kembali menstabilkan suasana di atas meja makan.
"Oh, ya. Papa dan Mama jika kalian mau—kalian bisa menginap di sini," kata Kian santai, hal itu berhasil membuat mata Areta melotot seolah hampir keluar dari tempatnya.
"Ha-ha-ha ... tidak perlu, Nak. Aku masih ada pekerjaan.
"Baguslah," sahut Areta ketus.
•
•
•
Bersambung~
Sepertinya Kian sedang mencoba menyambung tali kasih ya, Wak?
Baguslah dibulan puasa Kian dapat pahala. Wkwkwkwk~
Jangan lupa jejak like, komen dan Vote. Gift juga ya 🙄
Love,
__ADS_1
Novi Wu.