Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Mafia Penyayang


__ADS_3

Mr. Mafia bab 21


Setelah menempuh lima jam penerbangan, akhirnya mereka telah sampai di negara Lemonia, negara sarang mafia yang indah.


Areta menghirup udara kuat-kuat mengisi ruang kosong di dalam paru-parunya, ia tampak merentangkan tangannya seraya menggeliat karena begitu pegalnya ia duduk di atas kursi pesawat, tapi berbeda dengan Kian. Ia bisa tidur dengan leluasa di kursi kelas bisnis. Kenapa Kian begitu membedakan tempat mereka, Areta di biarkan duduk di kelas ekonomi, padahal ia adalah orang kaya yang terkenal loyal. Entahlah, hanya Tuhan dan Kian yang tahu apa yang ada di dalam isi otaknya.


"Jaga sikapmu!" bisiknya, namun suara lirihnya mampu menciptakan intimidasi untuk gadis polos itu. Sedetik kemudian Areta kembali bersikap anggun dengan berjalan di samping Kian dan menenteng tas tangan berwarna hitam miliknya.


"Oh ... sh***!" umpat Areta dalam hati, hampir saja ia terpelanting saat harus mengimbangi cara jalan Kian dengan heels yang ia pakai. Dengan susah payah ia berjalan kembali walau sedikit tertatih, Kian sama sekali tidak mempedulikan Areta. Dari kejauhan seorang dengan celana jeans hitam dilengkapi dengan jaket kulit coklat dan kacamata hitam seperti hendak menyambut ke duanya, laki-laki itu mungkin empat atau lima tahun di atas Kian, ia tersenyum lebar ke arah mereka berdua.


"Selamat datang di negara Lemonia, Tuan," ucapnya sopan, senyum mengutas di bibirnya. Ia ternyata juga sangat jago berkelakar dengan bahasa negara kami.


"Terimakasih, Tuan Smith. Saya sangat mengapressiasi sambutan Anda." Kian mengulurkan tangannya kepada pria itu, lalu entah mengapa pria itu menatap Areta dengan pandangan aneh.


"Tunggu, Tuan," ucapnya, sembari menunjuk pada Areta yang berdiri di samping suaminya. "Apakah ini istri yang baru anda nikahi?" tanyanya lagi.


"Ya ... benar," jawab Kian singkat tanpa menatap kepada Areta.


"Maaf jika saya tidak bisa hadir, Tapi Anda adalah laki-laki yang pintar memilih seorang wanita sebagai pendamping Anda. Dia bak putri dari negeri dongeng, matanya biru bak samudra, wajahnya laksana dewi begitu cantik," ucapnya masih memandangi wajah Areta, dan membuat gadis itu tersenyum canggung.


"Oh... benarkah? Tapi saya tidak merasa demikian," jawab Kian dengan nada seolah mengolok kepada istrinya.


"Ah ... Anda begitu rendah diri, Tuan Kian." Tangan Smith merangkul Kian dan kemudian mereka berjalan bersama.


Areta mengikuti mereka sementara beberapa anak buah Kian juga tampak mengekor dibelakang Areta.

__ADS_1


Mereka telah disambut oleh deretan mobil SUV berwarna hitam dan beberapa mobil FAN juga tampak berjejer rapi di depan pintu masuk bandara, seolah mereka seperti sudah menyewa bandara itu untuk kepentingan pribadi mereka sendiri, Areta hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat itu semua, jujur saja ia baru kali ini menginjakkan kaki di tempat ini, bahkan ini adalah kali pertama ia bisa merasakan naik pesawat di dalam hidupnya.


Kian meraih tangan Areta lalu menggandeng dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil SUV setelah tuan Smith masuk ke dalam.


"Nyonya Kian, aku akan memperkenalkan istri dan anakku setelah kita sampai di rumah, pasti mereka akan sangat senang bertemu dengan Anda," ucap Smith menghadap kebelakang ke arah tempat duduk Areta.


"Baik ... Tuan," sahut Areta dengan kepala setengah menunduk sopan.


***


Mereka telah sampai di sebuah Kastil besar di tepi tebing yang di bawahnya berhadapan langsung dengan samudra. Gerbang besar terbuka saat mobil, bau tropis seolah bisa Areta rasakan saat berada di dalam mobil, terik matahari pun dengan begitu mudahnya menyinari area kastil tersebut, seorang wanita cantik dan dua orang anak perempuan berdiri di ambang pintu, kedua anak itu tampak riang ketika melihat mobil mereka, meloncat-loncat kegirangan. Smith turun dari mobil SUV tersebut, dan menggendong salah satu dari kedua anak tersebut.


"Papa pulang!" seru mereka berdua, dengan tawa nan ceria. Areta yang melihat itu pun ikut tersenyum dan mengingat masa kecilnya yang tumbuh tanpa seorang ayah. Areta dan Kian ikut turun, mata gadis itu langsung menyapu seluruh area, aroma laut bisa tercium dan merangsek masuk dengan mudah ke dalam indra penciuman Areta.


"Segarnya," gumam Areta pelan dengan mata tertutup.


Sasha mengulurkan tanganya kepada Areta, dan senyum kecil menyungging di bibir wanita itu. Perutnya tampak sedikit membesar seolah ia tengah hamil.


"Apakah Anda sedang mengandung?" tanya Areta penasaran.


"Ya ... saya mengandung empat bulan," jawab Sasha. "Silakan masuk!" imbuh wanita itu ramah.


Saat Areta akan masuk, tiba-tiba Kian membisikkan sesuatu kepada Areta. " Dia adalah seorang mafia kejam, akan tetapi ia sangat menyayangi keluarganya."


Mendengar itu seketika kepala Areta menoleh kepada Kian, matanya menatap serius kepada laki-laki di sampingnya itu.

__ADS_1


"Mafia penyayang istri?" gumam Areta, hatinya terus berkecamuk mendengar kalimat dari Kian yang seolah sebuah sesuatu yang amat sangat mustahil.


Areta melemparkan pertanyaan kepada laki-laki yang berjalan di sampingnya itu.


"Apakah kau akan seperti Tuan Smith?"


Kian menoleh ke arah Areta, manik matanya seolah ingin keluar saat ia melihat gadis polos itu. "Jaga batasanmu, Areta! Apa kau lupa siapa kau, dan apa statusmu di dalam hubungan kita?!" dengus Kian, namun dengan suara lirih.


Kalimat Kian bagai tikaman belati di jantung Areta, kata-kata itu lirih namun mengandung unsur menyakitkan, Areta hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat, tanpa ingin membalas perkataan Kian kembali.


***


Selama di negara Lemonia, Areta dan Kian di minta untuk menginap di rumah keluarga Smith, sebenarnya Kian menolak. Akan tetapi Smith memaksanya, karena mereka sudah berkawan baik di dunia gelap, meskipun dunia hitam adalah kerjaan sampingan saja, namun mereka terkenal sebagai mafia tanpa ampun. Apalagi untuk Kian, ia terkenal sebagai mesin pembunuh yang kejam dan bengis di dunia mafia.


Setelah mereka sampai di kamar, ruangan itu langsung menghadap kepada sisi kanan dan memaparkan luasnya samudra lepas yang berwarna biru cerah, Areta menghirup udara kuat-kuat saat menyaksikan deburan ombak di tepi karang. Sungguh menyegarkan paru-parunya yang selama ini sesak dengan udara perkotaan yang di penuhi polusi. Tiba-tiba Kian berjalan ke arah Areta, lalu memeluknya dari belakang.


"Kau suka?" tanyanya, menempelkan bibirnya di telinga gadis itu, hingga menciptakan sensasi tersengat listrik untuk Areta. Bibir Kian menyapu leher Areta meninggalkan kecupan di sana membuat gadis itu semakin menggeliat karenanya.


"Aku akan pergi bersama Smith malam ini, mari kita tuntaskan bulan madu kita sore ini!" perintahnya lembut, lalu membalikkan tubuh Areta, menangkup kedua pipi gadis itu dan menyapu bibir lembut Areta, mengesap lidah dan menari-nari di dalam rongga mulut Areta. Gadis itu diam tidak ingin membalas ciuman sesaat milik Kian, karena jika ia membalasnya, Areta akan tampak seperti gadis murahan di mata Kian.




__ADS_1


Bersambung~


Jangan lupa Like 👍 tinggalkan kesan di 💬 dan Vote seiklasnya 💌 Serta tap ❤ agar mendapat notifikasi ketika mas Kian update.


__ADS_2