
Mr. Mafia 74
Apakah seorang mafia bengis dan kejam bisa menjatuhkan hati kepada wanita biasa? Meskipun ia istrinya sendiri. Bukankah di luaran sudah menjadi hal lumrah jika seorang mafia memiliki banyak selir sebagai teman tidur—atau sebatas teman minum. Tapi Areta lupa, jika. Mafia juga manusia. Hal itu tidak bisa dipukul rata, bahwa seorang mafia harus terlibat banyak skandal dalam hal percintaan. Tapi ada juga mafia yang setia dan penuh kasih terhadap pasangannya, hingga Areta melupakan Mr. Smith yang selalu mencintai Mrs. Smith istrinya—bahkan bisa dibilang lelaki itu adalah budak cinta bagi sang istri yang tengah hamil itu. Belum lagi sang ayah kandung, meskipun ia terlihat jahat, kasar, dan bengis terhadap lawannya. Tapi dia adalah lelaki paling setia untuk Elma sang ibu tiri.
Areta terpaku menatap Kian yang memang menunjukkan sikap manisnya akhir-akhir ini, bahkan untuk nyawanya sendiri ia pertaruhkan untuk menyelamatkan Areta—dari tangan musuh bebuyutan maha kejam The Rock. Hingga Anddrea sang sahabat harus meregang nyawa karenanya. Apakah bukti itu tidak cukup untuk Areta.
"Mengapa kau diam?" tanya Kian seraya melepaskan pelukannya.
Areta berharap pita suaranya dapat berkerja dengan baik untuk menjawab ungkapan kisah klasik yang Kian utarakan. Tapi entah mengapa lidahnya seolah kaku untuk mengatakan sesuatu.
"Apakah kau sedang syok? Ah ... Baiklah, aku akan kembali memelukmu agar kau tetap nyaman di sampingku." Kian kembali memeluk tubuh mungil Areta dengan mudah, tangannya mengelus lembut rambut yang dibiarkan terurai hingga mudah untuk disentuhnya. Namun meskipun kenyamanan itu Areta dapat, tapi anehnya ia tidak bisa menfeedback apa yang Kian ucapkan. Ataukah ini adalah pengaruh wine.
Ada kata yang ingin wanita itu ucapkan, akan tetapi bukan sesuatu yang bertemakan pernyataan cinta, tapi tentang perasaannya dengan Irene, mantan kekasihnya yang sejak lama tinggal seatap dengan dirinya.
Areta melepaskan pelukan sang suami, ia sedikit menunduk, dan sedetik kemudian ia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan mafia itu, dengan sorot mata yang tidak mempu diterka oleh Kian.
"Mengapa?" tanyanya membalas tatapan Areta dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Apa perasaanmu terhadap Irene, apakah kau memiliki perasaan yang sama dengannya? Bukankah begitu tidak adilnya bagiku, mencintaimu tetapi ada wanita lain yang juga mencintaimu?" Areta mulai ragu dengan perasaan Kian, lalu memberanikan diri untuk melemparkan satu pertanyaan yang mungkin saja sulit untuk pria itu.
Sejenak suara lengkingan kekehan dari mulut Kian terdengar—di indera pendengaran Areta. Dengan mimik wajah yang tidak bisa tertebak, Kian tiba-tiba berubah serius.
"Apakah kau meragukanku?" tanyanya, seolah enggan menjawab ucapan Areta. Cepat-cepat sang istri menggelengkan kepala sebagai upaya menyangkal pernyataan Kian yang baru saja terlontar dari bibirnya yang sensual.
"Lalu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memastikan," sahut Areta.
Kian menangkup pundak sang istri dengan begitu lembut, lalu mensejajarkan wajah mereka sehingga mereka saling beradu pandang.
"Aku memang pernah memiliki perasaan padanya." Kian menyahut lirih, hingga Areta hampir tidak bisa mendengarnya. "Tapi setelah sekian lama menjalin hubungan hingga akan memiliki buah hati, yang aku rasakan bukanlah sebuah cinta sebagai sepasang laki-laki dan perempuan, akan tetapi sebagai seorang kakak dan adik," imbuhnya lagi, sorot mata Kian memancarkan kejujuran yang bisa dengan mudah di baca oleh Areta.
"Lalu ... Jika kau menyayanginya sebagi adik. Mengapa kau juga menidurinya seperti halnya wanita-wanita yang bisa membuatmu berhasrat?" desis Areta.
"Karena ayah Irene, menginginkanku menikah dengan anaknya sebelum ia meninggal. Ia adalah salah satu kaki tangan ayahku yang paling setia. Dia ingin aku menjaga Irene, tapi seiring berjalannya waktu, meskipun aku berusaha sekuat tenaga mencintainya, tetap saja perasaan itu tumpul untuknya," jelas Kian, mengingat kejadian hampir sepuluh tahun yang lalu.
"Lalu kini ...." tanya Areta, memotong ucapannya sendiri.
"Kini apa?" tanya Kian lagi.
"... Apakah kini kau masih tidak memiliki perasaan untuknya?" Areta melanjutkan perkataannya.
Areta tersenyum simpul mendengar perkataan sang suami, tiba-tiba keinginan memeluk Kian mencuat hingga ia akhirnya—memeluk tubuh Kian dengan erat.
***
Perasaan aneh mulai menjalar lagi, ketika Irene melihat Mark naik ke atas lantai dua menuju tempat peraduaannya.
Dari kejauhan ia menatap dan mengawasi sosok itu, dengan sesekali mengigit pinggir bibirnya, seolah seperti serigala lapar yang hendak menerkam mangsanya, tapi anehnya serigala itu mempunyai detak jantung yang berdetak hebat saat ingin menyerang.
Mark yang mengetahui sedang diawasi oleh seseorang tampak mencoba tetap biasa saja, meskipun ia tahu jika Irene lah yang ada di balik ini semua. Pria itu masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuh dari kotoran yang sejak pagi menempel di seluruh permukaan kulitnya.
__ADS_1
Perlahan Mark membuka pintu kamarnya dan menutupnya tanpa sengaja mengunci, hal itu ia lakukan dengan sengaja untuk memancing Irene, apa yang akan ia lakukan padanya.
Setali tiga uang, ketika Mark masuk. Irene mulai mengendap dan membuka paksa pintu tempat peraduan Mark, namun nyatanya tanpa butuh tenaga, sekat penutup kamar itu bisa dibuka dengan begitu mudahnya—dengan jantung yang masuk berdetak begitu kencang Irene masuk perlahan, setelah wanita itu menginjakkan kaki di lantai kamar Mark. Irene merasakan seolah jantungnya berhenti berdetak karena gugup. Ia tidak pernah merasakan hal ini dulu—ketika ia masih bersama dengan Kian. Bahkan ia tidak pernah merasakan getaran aneh seperti ketika ia ingin bersama dengan Mark. Mungkinkah ia hanya merasa ingin dilindungi oleh Kian tanpa ingin dimiliki oleh lelaki itu. Entahlah, ia juga tidak bisa menjawab pertanyaan yang mencuat dalam dirinya sendiri.
Ia memindai seluruh isi ruangan yang tampak remang yang hanya mendapat sedikit pencahayaan dari luar karena gorden yang sengaja dibuka, Mark sepertinya tipe orang yang menyukai suasana remang dan tenang, bau aroma terapi mengeruak dan merangsek masuk ke dalam indera penciuman Irene dengan mudah, hingga ia ingin menghirupnya kuat-kuat.
'Di mana pria itu? Kulihat tadi ia masuk ke sini, tapi tidak ada'
Irene bergumam dalam hati. Tiba-tiba ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang ada di pojok kamar tersebut. Hingga memaksa rasa ingin tau Irene mencuat kembali, dan kini ia hanya ingin mendekat, dan melihat pria itu semakin dekat. Itu saja yang ia inginkan.
Wanita yang memiliki perasaan terpendam dan enggan mengakuinya itu kini mendekat ke arah kamar mandi itu, ia hanya ingin mendengar bukan melihat Mark dari dekat.
Namun saat ia mulai mendekat, tiba-tiba seseorang dari balik sebuah lemari menarik tubuh wanita itu dengan kasarnya dan membungkam mulut Irene kuat-kuat hingga untuk menjeritpun Irene tidak mampu.
•
•
•
Bersambung~
Sebuah rasa adalah permainan hati yang tidak bisa dibuat-buat ketika ia menjatuhkan pilihan~
Love,
__ADS_1
Novi Wu