Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Bertemu Kembali


__ADS_3

Mr. Mafia 68


Areta mengenakan dress dengan resleting yang panjang di punggungnya, membuatnya kesusahan untuk menarik dan menutup dress itu. Hingga dirinya tak kuasa lagi, dan memutuskan berteriak memanggil suaminya yang sedang memeriksa beberapa file dengan serius. Tapi pikirannya buyar ketika suara Areta memanggilnya.


"Kian!"


Kian berlari ke arah sang istri yang berdiri di depan cermin dengan tangan meraih resleting di punggungnya. Dress berwarna biru muda itu tampak sempurna membungkus tubuh Areta hingga membuat Kian menelan ludah, jika hari ini ia tidak sibuk dengan jadwal test DNA dan pekerjaan yang menumpuk, tentu Kian akan menarik Areta ke tempat tidur dan melakukan apa yang ia inginkan atas tubuh Areta. Sejenak ia menggelengkan kepala untuk kembali menenangkan pikirannya.


"Iya, honey," jawab Kian, lembut.


'Honey? Sejak kapan ia memanggilku dengan sebutan semanis itu'


Areta bergumam dalam hati, sembari tersenyum mendengar panggilan sayang yang terucap dari bibir Kian.


"Bisakah kau membantuku untuk menutup dress ini? Aku sangat kesulitan." Areta masih sibuk meraih resleting itu.


Kian berjalan mendekat ke arah Areta, kemudian dengan tangan kanannya ia meraih pengait resleting tersebut, tapi sebelum Kian menariknya ke atas, tiba-tiba. Ia membuka bagian penutup pundak dress tersebut dan menciumnya dengan lembut, meninggalkan bekas merah di sana, yang membuat Areta menggeliat karena geli.


"Kamu kenapa?" tanya Areta, berbalik badan menatap sang suami.


Setelah membetulkan dress Areta, Kian langsung merengkuh pinggang istrinya lalu menempelkan tubuh Areta dan membenamkannya pada dadanya. Bibirnya ingin menyusuri area bibir Areta, hingga ingin menjilat rasa manis bibir istrinya itu. Tapi tidak, ia tidak akan melakukan lebih dalam. Karena hari semakin siang, Shane juga sudah menunggu di Rumah Sakit untuk mengambil sample darah Areta dan The Rock.


"Tidak–aku harus tetap sadar." Kian melepaskan rengkuhannya pada pinggang Areta, dan berjalan menjauh.


Areta sangat kecewa lalu ia berlari memeluk Kian dari belakang.


"Aku takut...."


"Takut apa?" tanya Kian berhenti melangkah.


"Jika aku terbukti anak dari The Rock, kau akan menyingkirkanku," rengek Areta.


Kian melepaskan pelukan Areta, dan berbalik badan. ia mengecup kening istrinya hingga membuat wanita itu memejamkan mata.


"Tenanglah, sampai kapanpun. Aku adalah milikmu," ucap Kian.


Mereka tidak pernah berucap saling mencintai, tapi rasa itu memang ada dan sangat nyata. Menurut Kian dan Areta, cinta tidak perlu diucapkan dengan kata, tapi dengan perbuatan, tingkah laku, dan bukti.


Areta menarik napas lega, ketika mendengar ucapan Kian. Ia menjadi sedikit lebih tenang saat ini.


Mereka berdua akhirnya bertolak menuju ke Rumah sakit, untuk bersiap melakukan test DNA untuk memastikan apakah benar Areta adalah putri kandung Addison.


***

__ADS_1


Hanya butuh waktu dua puluh menit, mereka telah sampai di Rumah Sakit super mewah di pusat kota Boegenfille. Keduanya masuk dengan di dampingi beberapa bodyguard yang berjaga. Kian tidak ingin mempercayai Addison, mengingat sifat dasarnya yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, jika ia lengah. Ia takut jika Addison menggila dan menyerang Areta lagi.


Mereka berdua menuju ruangan Shane, untuk memeriksa darah Areta.


"The Rock benar-benar sangat lemah." Shane berucap santai.


"Lalu?" sahut Kian.


"Ia ingin bertemu Areta," ungkap Shane, matanya menatap Areta yang tepat duduk di depannya bersebelahan dengan Kian suaminya.


"Aku tidak mau!" tolak Areta tegas.


"Bagaimanapun juga, ia adalah ayah kandungmu, Areta," kata Shane.


"Lalu? Jika ia adalah ayahku, ia tidak akan menelantarkanku bersama dengan ibuku!" Areta mulai marah mengingat tentang kematian ibunya.


"Coba kau pikirkan baik-baik dulu, Areta!" celetuk Kian.


Bola mata Areta langsung menatap aneh ke arah Kian, sejak kapan Kian berubah pikiran dan tidak ingin lagi memusuhi The Rock, yang notabennya adalah musuhnya.


"Aku hanya ingin mengatakan yang seharusnya aku katakan sebagai suamimu," imbuh Kian berkilah.


Areta berpikir sejenak, ia meremas clutch bag berwarna putih, yang sejak tadi ia letakkan di atas pangkuannya. Lalu ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.


"Baiklah, aku akan menemuinya." Areta memantapkan hati untuk bertemu The Rock kembali setelah kejadian tidak mengenakkan tempo hari.


"Baiklah, mari ke ruangan ayahmu!" ajak Shane.


"Ayah? Sebelum hasil DNA itu keluar, jangan pernah anggap dia sebagai ayahku!" desis Areta, berjalan keluar dengan langkah begitu anggun.


***


Elma menyuapi sang suami dengan lembut, makanan Rumah Sakit yang menurut Addison sangat hambar, ia berharap secepatnya bisa keluar dari sini. Agar bisa kembali menyantap masakan sang istri.


"Cukup, sayang!"


"Sekali lagi, kau hanya memakan beberapa sendok saja tadi." Elma terus memaksa Addison untuk membuka mulut.


"Tapi makanan tempat ini hambar di lidahku."


"Kau ingin segera bertemu anakmu, bukan? Kau harus sembuh, makan bergizi dan minum air putih, hindari rokok dan alkoholmu, Add!" ucap Elma lirih.


Addison mengangguk tanda setuju, ia harus tetap sehat demi Areta. Ia benar-benar ingin menebus kesalahannya terdahulu dengan Areta.

__ADS_1


Tok... tok....


Suara ketukan pintu membuat Elma dan Addison saling adu pandang, kemudian memusatkan penglihatannya kepada pintu masuk.


"Ya... masuk!" sahut Elma tegas.


Seorang bawahan Addison masuk dengan raut wajah cemas terpampang jelas di wajahnya.


"Ada apa?" tanya Elma serius.


"Tu–tuan, Nyonya. Kian Egan dan istrinya ada di depan pintu—" ucap sang bawahan dengan menunduk.


Elma langsung menangkup mulutnya tidak percaya, ia tidak tahu harus bahagia atau terharu ketika mengetahui jika Areta berada di luar kamar suaminya, setali tiga uang dengan Elma, Addison pun tampak bersemangat, gurat senyuman menyungging di bibirnya.


"Suruh mereka masuk!" pinta Addison.


Sang bawahan langsung keluar, dan meminta Areta dan Kian masuk ke dalam.


Dengan langkah ragu dan saling bergandengan tangan, Kian dan Areta masuk mengekor di belakang Shane yang jalan lebih dulu.


"Selamat pagi, Tuan Addison. Semoga pagi Anda cerah!" sapa Shane penuh semangat.


"Terimakasih, dok," jawab Addison dengan senyuman mengutas di bibirnya.


Sejak kapan The Rock bersikap ramah seperti ini, bukankah ia selalu tidak sopan dengan lawan bicaranya terlebih lagi jika ia tidak cukup kuat dan muda, ia akan merendahkan orang itu hingga sendah-rendahnya. Tapi tidak kali ini, ia tampak ramah dengan Shane yang ia tahu pria itu adalah kaki tangan Kian dan sahabat musuhnya itu.


"Saya membawa tamu untuk Anda, Tuan," ujar Shane santai.


Areta menatap datar wajah Addison, seolah ia sangat malas untuk melihat pria paruh baya itu, tapi beda halnya dengan Kian, ia hanya diam namun juga tidak menunjukan rasa tidak sukanya kepada Addison.


"Kemarilah, Nak!" ucap Addison, matanya memancarkan sorot kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.


"Tidak!" tolak Areta tegas.


*


*


*


Bersambung~


Terimakasih, telah mendukung Mr. Mafia, OTW 500K, jangan lupa vote dan giftnya.

__ADS_1


Love,


Novi Wu—


__ADS_2