
Mr. Mafia 90
mulai fanas
Tangan Kian mengepal, ketika menyaksikan Brian mulai menjauh dari pandangannya. Tentu saja sebenarnya Kian tidak ingin istrinya dijaga oleh pria lain—tapi karena permintaan sang mertua yang membuatnya terpaksa menerima. Sebagai seorang pria dirinya tahu betul perasaan lelaki, pasti setiap pria yang memandang istrinya akan takjub dengan kecantikan Areta, tidak terkecuali dia, ketika pertama kali bertemu Areta, bukan napsu satu-satunya alasan yang menjadi dasar dia pernah berbuat senonoh dengan Areta, tapi atas dasar petikan api cinta pada pandangan pertama yang membuatnya ingin memiliki Areta sepenuhnya.
Sementara itu di kamar Addison, Elma yang masih sibuk membereskan dasi suaminya tampak ingin menyampaikan sesuatu, "Kau yakin akan menempatkan satu pengawal untuk Areta?" tanyanya. Namun sang suami hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Kurasa Areta sangat tidak nyaman dengan kehadiran Brian, aku bisa merasakannya," imbuhnya lagi.
Addison menangkup kedua pipi istrinya lalu meninggalkan kecupan mesra untuk wanita yang sudah lima belas tahun ia nikahi.
"Aku yang tahu apa yang terbaik untuk anakku, Sayang." Kini lelaki paruh baya itu mengeluarkan jawabannya dengan nada penuh penekanan.
"Kau jangan melupakanku, meskipun aku tidak melahirkannya, aku tetaplah ibunya," jawabnya.
Addison menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. "Iya, aku tahu."
***
Areta berjalan memasuki kamarnya, dan ia tahu jika Brian mengikutinya dari belakang, berjalan secepat angin seolah tidak menempel di tanah.
"Hai, apakah kau juga akan masuk ke kawasan pribadiku dan suamiku!" hardik Areta dengan mata melotot. "Kau tidak perlu menjagaku seolah kau seperti pengasuhku! Ingat. Aku adalah istri Kian Egan, mafia besar di negara ini!" desis Areta lagi.
"Maafkan kelancangan saya, Nona. Saya akan menunggu di depan pintu," jawabnya.
"Kau ingin menunggu di depan pintu?! Kau juga akan mendengarkan desahanku saat aku bercinta dengan suamiku!" seru Areta mulai kesal. "Pergi!" perintahnya.
Dengan pasrah Brian pergi menjauh dari jangkauan Areta, namun pandangannya tetap serius, ia menghadap laut seolah sedang memikirkan sesuatu.
Kian yang melihat dari jauh tampak tesenyum puas mendengar ucapan Areta untuk lelaki yang selalu disapa Brian tersebut.
__ADS_1
Dengan langkah pongah ia masuk ke dalam, sengaja menghentak-hentakkan kakinya supaya Brian berpaling menatap dirinya, rupanya hal itu berhasil membuat Brian memperhatikan dirinya, kemudian mafia itu merogoh saku jasnya, mengambil pistol dari sana, kemudian mengarahkan senjata itu ke matanya, dan baru dia mengarahkan pistolnya ke arah Brian, seolah sebagai tanda jika Kian memperhatikan dia, kalau berani macam-macam—maka pistol ini akan meledak, dan sebuah timah panas akan melesak ke otaknya, menghamburkan isi di dalamnya. Namun aneh, seolah tidak takut—Brian malah tersenyum menyeringai ke arah Kian, seolah ia sedang menantang.
Kian masuk ke dalam kamar, mendapati istrinya sedang menatap hamparan birunya laut, dengan tangan bersedekap tenang. Rambut yang selalu terurai, kini dibiarkan terkuncir dengan sebuah karet kecil berwarna merah muda.
"Aku benar-benar tidak suka dengan pengawal itu!" Areta berbalik badan ketika suara pintu terbuka. Ya, dia mengetahui—siapa lagi kalau bukan Kian yang masuk ke dalam dengan leluasa. Kian menghampiri sang istri, menggenggam kedua pundaknya lembut. "Aku ingin dia pergi dariku!" dengus Areta, menyedekapkan kedua tangannya, serta mulut yang ia biarkan manyun.
"Sabar ... ini adalah keputusan papamu—"
"Tidak ada! Aku harus bicara dengan Papa, sebelum lelaki itu membuatku kehilangan akal sehat!" Areta beranjak keluar.
Saat pintu terbuka, ia mendapati Brian dengan sikap tegap berdiri tak jauh dari kamarnya, dengan perasaan luar biasa kesal. Areta melangkahkan kakinya dengan kasar untuk pergi mencari sang ayah. Sementara lelaki itu berjalan mengekor di belakagnya. Benar-benar membuat Areta tidak nyaman, ia memang membuat istri Kian itu, seolah seperti bayi yang membutuhkan penjagaan super ketat.
Mengetahui dirinya diikuti oleh Brian, Areta seketika berhenti, lalu menghadap pria itu dengan memicingkan mata.
"Bisakah kau tidak mengikutiku?!" hardik Areta.
"Tidak!" jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Areta sangat kesal hingga ia kembali berjalan untuk menemui ayahnya. Saat ia telah sampai area pribadi sang ayah, ia mengetuk pintu perlahan.
Areta merangsek masuk, berjalan tergesa-gesa untuk menemui sang ayah yang tengah bersantai dengan laptop di pangkuannya. Addison bisa menangkap kemarahan anaknya saat memandang wajahnya.
"What's wrong?" tanyanya, matanya hanya menuju satu titik tepat di wajah rupawan Areta.
"Pa, aku ingin—jika Tuan Brian berhenti menjadi pengawalku!" pintanya dengan aura berapi-api.
Addison melirik jam di tangannya, lalu berkata, "Belum ada tiga jam, dia kuperintahkan menjadi pengawalmu, tapi kau sudah memecat dirinya? Apa alasan paling krusial hingga membuatmu jengah kepadanya?"
"Dia berani melakukan pelecehan seksual terhadapku!"
"Apa?" Kini Elma mulai ikut masuk ke dalam pembicaraan antara ayah dan anak itu.
"Ya, Ma. Dia telah menciumku semalam," jawab Areta kesal.
__ADS_1
Addison terdiam sejenak, ia beranjak berdiri, meletakkan laptop yang sempat ia pakai di atas meja. Lalu pria paruh baya namun masih tampak kuat itu berjalan menuju pintu, dan membukanya, dirinya mendapati Brian tengah berdiri dengan posisi tegap di sebelah pintu.
"Kau, masuk!" perintah Addison.
"Siap, Pak!" jawabnya tegas.
Saat Brian masuk, Areta menatapnya tajam dengan tangan bersedekap seolah menantang pria itu.
"Dia menciumku semalam!" seru Areta, jarinya menunjuk ke arah muka Brian yang bediri dengan sikap istirahat di tempat.
"Apa? Saya mencium Anda?" Mata Brian nampak tidak berbohong, ia sendiri juga bingung dengan tuduhan tidak mendasar Areta.
"Jangan gunakan kebohongan hanya agar kau bisa memecat Tuan Brian, Areta!" Ayahnya tampak melerai.
"Papa lebih percaya dia dari pada aku?"
"Bukan begitu." Addison menyentuh pundak sang buah hati.
"Jelaskan saja Areta, Papamu terlalu percaya dengan orang luar dari pada keluarganya sendiri," dengus Elma, mulai terprovokasi dengan ucapan Areta.
"Dia semalam bermain piano di geladak utama, saat aku tengah melihatnya, ia menghampiriku dan—" Areta tidak meneruskan ucapannya.
"Geladak utama?" Brian mencoba mengais ingatannya semalam, seolah ia baru saja terbentur dinding dan amnesia. "Semalam saya terlalu mabuk, saya tidak ingat betul dengan apa yang saya lakukan semalam," sambungnya.
"Omong kosong!" Areta berseru mengepalkan tangan. "Untung saja suamiku tidak melihat atau mendengar, jika ia tahu. Kau tentu akan mati di tangannya!"
"Saya tidak takut mati!" jawabnya lantang.
Areta terkekeh, lalu mendekat ke arah Brian, mendorong dada pria itu dengan jarinya, namun tentu saja kekuatannya tidak seberapa, hingga membuat lelaki itu tidak bergerak sejengkal pun.
"Saya minta maaf jika telah melakukan kesalahan kepada Anda, Nona," ucapnya.
"Tidak perlu! Pa ... aku pergi!" Areta melangkah keluar dari kamar papanya. Saat Brian ingin mengikutinya, tiba-tiba ia dihentikan oleh Addison.
__ADS_1
...Bersambung...