Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Lyana


__ADS_3

Mr. Mafia bab 30


Kian menangkap tubuh Areta yang akan jatuh ke lantai, sementara wajah Lyana berubah pucat pasi saat melihat Areta berani memilih mati untuk Kian. Ia mencengkeram kuat dan mengepal tangannya sendiri, dengan sigap Silda menarik rambut Lyana dengan kasar dan menyeret wanita itu ke dalam ruangan penyekapan yang gelap dan hanya ada satu lampu berwarna kuning di sana.


"Jangan tinggalkan aku!" Lyana memohon, namun ia malah mendapat tamparan yang sangat kencang dari Silda.


Plak....


"Dasar wanita tidak tahu di untung!" umpat Silda lalu menutup pintu yang terbuat dari besi tersebut dan menguncinya dari luar, sementara Lyana terus menggedor pintu tersebut, dan merengek minta dilepaskan.


"Silda ... kumohon, lepaskan aku!" pintanya. Namun Silda malah pergi berlalu meninggalkan Lyana di dalam ruangan itu.


Sementara dengan panik Kian membopong tubuh Areta yang mulai pucat dan wajahnya berubah menjadi biru karena efek dari racun yang terus menyebar ke dalam aliran darah Areta.


Ia membawa tubuh yang sedang bertaruh nyawa itu ke rumah sakit terdekat dari rumahnya. Dengan panik, Kian terus memeluk tubuh Areta dengan erat dan memekik ke arah sopirnya. "Cepat! Kalau Areta mati, kalian juga akan mati!"


10 menit kemudian, dengan melewati jalan yang beruntungnya tidak terlalu ramai, mereka telah sampai di rumah sakit di mana Shane juga bekerja di sini. Dengan cekatan para tim medis membawa Areta ke ruang gawat darudat, Shane keluar dan bertanya kepada Kian.


"Ada apa, Kian?" tanya Shane dengan nada kebingungan.


"Areta meminum racun!" jawab Kian dengan nada gusar dan mata terus menatap ke ruangan Intalasi Gawat Darurat tersebut.


Kian menatap para dokter sedang berjuang menyelamatkan Areta yang sedang sekarat, kakinya terus di hentak-hentakkan ke lantai, pertanda hatinya tengah gusar.


Ia berjalan modar-mandir dan terus menatap Areta yang sedang berjuang melawan maut.


Hingga satu jam kemudian Shane keluar dengan raut wajah sedih, ia berkata, "Maaf ... Kian, aku tidak bisa menyelamatkan anakmu."


"Anak?!" Kian terkejut sesaat, lalu berkata lagi, "Anak apa?! Maksudmu Areta mengandung?"


Shane menatap Iba ke arah Kian, padahal ia tahu betul jika sahabatnya itu sangat mendambakan kehadiran seorang anak. Dulu Irene pernah hamil anak Kian, waktu mereka masih sama-sama muda. Akan tetapi, Irene terlalu egois dan menggugurkan kandungannya tanpa sepengetahuan Kian, entah apa alasannya sehingga ia berbuat demikian. Sejak saat itu, Kian sama sekali tidak pernah tidur dengan Irene lagi.


"Sepertinya Areta juga belum menyadari jika dirinya tengah hamil, karena masih beberapa minggu," terang Shane, lalu kembali masuk.


"Jadi Areta hamil?" tanya Kian dalam hati, kakinya melemas saat mengetahui kenyataan pahit ini, tangannya mengepal kuat dan muncul kemarahan yang sangat besar hingga ia mampu memusnakan apa yang ada di hadapannya.


"Mati kau Lyana!" umpat Kian, lalu berjalan keluar dari rumah sakit dan beranjak kembali ke rumah untuk membuat perhitungan kepada Lyana.

__ADS_1


***


Dengan langkah cepat Kian masuk ke dalam rumah, rahangnya tampak mengetat, sementara matanya begitu merah seolah bisa mengeluarkan api yang siap membakar segala apa yang ada.


"Silda!" teriak Kian.


Silda dengan ketakutan menghampir Kian yang tengah murka seolah sedang di rasuki oleh iblis tersebut.


"Mana wanita itu?!"


"Di–dia a–ada di ruang penyekapan, Boss," jawab Silda ketakutan.


"Ikut aku kesana!"


Kian berjalan dengan cepat menuju ruang penyekapan, sementara Silda mengekor di belakang mafia bengis yang sedang marah itu.


"Buka!"


Silda membuka pintu besi itu. Mereka mendapati Lyana tengah duduk, saat ia tahu jika Kian yang datang ia langsung berhamburan dan memeluk Kian dengan erat.


"Kau percaya padaku, 'kan, Kian? Pasti istrimu itu yang memasukkan racun, untuk menfitnahku.


"A–aku ... a–aku." Lyana berbicara dengan tidak jelas saat Kian masih terus menekan dagunya. Lalu kemudian dengan kasar Kian menghempaska tubuh wanita tersebut hingga tersungkur ke lantai.


"Silda ... siksa dia, buat dia mengaku!" perintah Kian dengan nada marah dan geram.


"Tidak, Kian. Tolong jangan begini! Kau bilang jika kau lebih mencintaiku dari pada istrimu!" seru Lyana memegang kaki Kian yang hendak berjalan. Kian berdiri sesaat lalu menghempaskan tubuh Lyana kembali dengan kakinya dan pergi.


"Kian ... Kian, kau tidak bisa menyampakkanku begini, Kian!" teriakan pilu keluar dari bibir Lyana. Namun tiba-tiba sebuah tendangan mengenai hidung wanita itu hingga membuatnya mengeluarkan darah segar. Silda menarik rambut Lyana ke belakang hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Kau tahu, apa salah satu passionku?" tanya Silda mendekatkan wajahnya kepada wajah Lyana. Hingga ia bisa merasakan sapuan napas dari Silda "Passionku adalah menyiksa para penghianat wanita sepertimu!" desis Silda lagi.


Silda terus menyiksa Lyana, hingga ia mau membuka mulutnya, namun Lyana sama sekali belum menunjukan tanda-tanda ingin membuka mulutnya.


***


Kian kembali ke rumah sakit, ia mendapati Areta sudah lenyap dari ruang IGD, seorang anak buah menghampiri Kian. "Boss, kami sudah mencoba menghubungi Anda, jika Nona sudah dalam keadaan stabil dan sudah pindah ke ruangan VVIP."

__ADS_1


Kian langsung berlari menuju ruang yang di maksud. Tapi setelah sampai di sana, ia melihat Shane masih memeriksa Areta dengan saksama. Kemudian ia masuk dan bertanya kepada Shane yang masih tampak serius itu.


"Bagaimana Shane?"


Shane menoleh ke arah Kian, ia menghela napas panjang lalu berkata, "Untung saja Areta hanya meminumnya sedikit, aku tidak tahu lagi jika ia meminumnya terlalu banyak, mungkin nyawa istrimu akan melayang."


Tiba-tiba ponsel Kian berdering, ia melihat layar ponsel. Nama Silda terpampang di layar tersebut.


"Hallo ... Boss, The Rock adalah dalangnya," ujar Silda dengan napas memburu.


"Masukkan ia ke dalam kolam hiu, aku tidak ingin melihatnya hidup di dunia ini!" perintah Kian, dengan nada penuh emosi.


"Siap ... Boss."


"Sesuai kecurigaanku, Lyana adalah suruhan The Rock, aku akan memanggil Yosiana besok!" ucap Kian penuh emosi, ia mencengkeram kuat ponselnya sendiri.


"Dari mana kau tahu jika dia bukan Anastasya?"


"Anastasya sudah mati, dan aku yang menguburnya sendiri," jawab Kian.


"Mungkin saja Anastasya punya saudara kembar," sahut Shane.


"Persetan dengan itu, karena dia sudah membunuh bayiku, maka dia pantas mati!"


Tiba-tiba, Areta terbatuk-batuk, dari mulutnya keluar darah yang membuat Kian membelalakan mata karena terkejut.


"Areta!" seru Kian.





Bersambung~


Areta kira-kira bisa selamat nggak, 'ya?

__ADS_1


Tunggu di part selanjutnya.


Jangan lupa Like, Komen dan Vote seiklasnya 😍


__ADS_2