
Mr. Mafia bab 34
Malam kian larut, hawa dingin menusuk tulang ditambah lagi hujan dan angin bersatu padu menambah syahdunya suasana malam hari ini.
Celine yang sudah terlelap dalam dekapan Areta tampak sesekali mengigau dan meracau, hingga membuat Areta tidak bisa memejamkan mata hanya untuk sesaat. Di dalam mimpinya, Celine begitu amat ketakutan dengan peluh yang keluar di kening dan pelipisnya, Tak menunggu lama, Areta yang begitu khawatir dengan keadaan Celine, langsung membangunkan gadis kecil tersebut dengan goyangan lembut. Butuh beberapa kali goncangan hingga Celine bisa terbangun dan memeluk tubuh Areta.
"Nyo–nyona ... aku sangat takut—" tangan mungil itu mendekap erat tubuh Areta, seolah mencari tempat teraman yang bisa ia rasakan, hanya Areta lah yang ia miliki saat ini.
"Mengapa, Celine?" Areta tampak kebingungan sambil mengelus lembut rambut anak itu.
Celine hanya menggelengkan kepala perlahan, dan tiba-tiba mulutnya terkunci, ketika Areta mendesaknya untuk menceritakan tentang apa mimpi buruknya itu, Celine biasanya periang dan terbuka dengannya, tapi entah untuk kali ini, ia tetap pada pendiriannya, mengunci rapat mulutnya.
Areta pun menenangkan gadis kecil itu, dan memilih untuk menyuruh Celine kembali tertidur. Saat Celine mulai berdamai dengan mimpinya. Areta keluar dari kamar mencari keberadaan Kian. Entah apa yang akan Areta lakukan dengan pria yang ia benci itu.
Areta mencari Kian di kamarnya, namun nihil, kamar itu masih rapi dan tidak ada seorang pun di dalam sana. Areta beralih ke ruang kerja yang terdapat di ujung lorong lantai dua tersebut.
Areta membuka pintu perlahan, Kian sedang bersama para kaki tangannya entah sedang berbicara tentang apa, dan itu mungkin sangat serius. Kian yang menangkap tubuh Areta dengan manik matanya, berhenti sejenak seolah ia tidak mau jika Areta mendengar percakapannya.
"Kau mau apa?" tanya Kian, menatap serius wanita itu.
"Apakah kau sibuk?"
Kian memberi aba-aba kepada para kaki tangannya untuk pergi, dan berkata lirih, "Kita teruskan nanti!"
Lalu para bawahannya pun pergi meninggalkan Kian, saat melewati Areta yang berdiri di ambang pintu, semua orang itu menunduk hormat kepada gadis itu, karena ia adalah istri dari boss mereka.
"Ada apa, Areta?" Kian berjalan menuju kursi tamu, dan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang berwarna hitam tersebut.
"Mhhh ...." Areta tampak ragu sesaat. "Bisakah kau menyelidiki tentang Celine?" imbuhnya lagi.
Kian mengerutkan dahi, lalu menekuk bibirnya sesaat sedetik kemudian ia tersenyum penuh ironi. "Kenapa tiba-tiba kamu ingin tahu tentang gadis itu?" tanya Kian penasaran.
"Tidak ... aku hanya penasaran saja, dengan masa lalu Celine, sepertinya ia memiliki trauma." Areta masih berdiri tak jauh dari Kian.
Mafia itu melambaikan tangannya dan menyuruh Areta duduk di sampingnya, dan demi mengetahui tentang kehidupan Celine, ia menggadaikan harga dirinya tunduk kepada mafia itu.
"Apa yang bisa kau tawarkan kepadaku jika aku menuruti keinginanmu?" tanya Kian, memegang dagu Areta lalu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu, dan menghembuskan napas secara sengaja ke telinga Areta.
__ADS_1
Areta sungguh tidak nyaman dengan perlakuan Kian, tapi ia tidak bisa berpikir dengan bijak saat ini, yang ada dipikirannya sekarang adalah Celine.
"Apa saja permintaanmu, aku akan penuhi!" jawab Areta lantang.
"Aku ingin anak darimu!" ucap Kian, menatap serius ke arah Areta.
"A–anak?"
Kian mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela, lalu menatap pemandangan luar yang tengah di guyur oleh air hujan.
"Jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksa, dan kau bisa keluar!" perintah Kian dengan senyumannya yang dingin.
Areta pun tidak bisa tinggal diam, ia harus mengetahui tentang Celine dan trauma apa yang Celine miliki. "Baik ... aku setuju!"
Kian bertepuk tangan mendengar jawaban bijak dari Areta, ia sebenarnya bisa hanya dengan memaksa Areta tidur dengannya dan menanamkan benih pada rahim Areta, tapi ia tidak ingin mengambil risiko jika hal yang terjadi kepada Irene, terulang kembali kepada Areta.
"Bagus ... aku akan melaksanakan perintahmu, Areta." Kian mendekat ke arah istrinya mengambil beberapa helai rambut Areta dan menghirup aroma shampoo yang telah teresidu dengan aroma rambut Areta, dan itu benar-benar candu untuk Kian.
"Baiklah aku akan kembali ke kamarku," kata Areta, dan mulai beranjak dari tempatnya duduk.
"Mau kemana?" Kian meraih tangan Areta untuk mencegahnya pergi dari ruangan itu.
"Lebih cepat lebih baik, Nona!" jawan Kian menyunggingkan senyumnya.
"Ta–tapi Celine ...."
Belum sempat Areta menyelesaikan kalimatnya Kian langsung menarik tubuh Areta, menangkup kedua pipinya dan melahap bibir merah delima milik Areta. Hingga membuat istrinya tidak bisa bernapas karena perlakuannya tersebut.
Sejenak Kian melepaskan panggutannya, dan membebaskan Areta agar bisa menghirup udara dengan bebas.
"Apa kau sedang tidak waras?! Apakah kau kurang sentuhan? Kenapa menciumku tiba-tiba?!" seru Areta kesal.
"Sejak saat menikah denganmu, aku tidak pernah tidur dengan wanita lain selain dirimu!" hardik Kian, ia kesal melihat perlakuan Areta kepadanya yang tidak pernah lembut sama sekali.
"Lalu Irene?!"
"Aku sudah lebih dari lima tahun tidak menyentuhnya," jawab Kian.
__ADS_1
'Hah ... bukankah mereka sepasang kekasih?'
Areta bergumam dalam hati, ia pikir hubungannya dengan Irene terjalin baik, bahkan ia berpikir jika dirinya tidak melayani Kian, Irene lah yang menggantikannya. Tapi semua itu salah.
"Mau di sini, atau di kamar?" tanya Kian, menggoda istrinya itu.
"Tidak hari ini Kian!"
"Tidak bisa, aku mau hari ini juga!"
'Apakah mafia ini baru saja jatuh, hingga kepalanya terbentur sesuatu, sehingga membuat pikirannya menjadi tidak rasional?'
Areta bertanya dalam hati saat melihat tingkah laku dari mafia bengis tersebut.
Kian pun memaksa Areta, membenamkan tubuh gadis itu di dinding dan memaku kedua tangan Areta hingga tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kian ... kau tahu, ini apa?!" desis Areta, menahan napasnya sendiri.
"Aku tahu, aku sedang memaksa istriku untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri."
Mendengar Kalimat Kian membuat wajah Areta menjadi merah karena tersipu malu, mafia itu menganggapnya istri? Bukankah selama ini ia menyebut Areta adalah peliharaannya.
Kian menarik baju Areta dengan kasar, dan menghempaskannya begitu saja. Hingga berserakan di lantai, dan akhirnya mereka melakukan ritual dimana sepasang suami istri sepakat untuk memiliki keturunan.
Hingga peluh dan rintihan mengalun dan mewarnai suasana syahdu di antara mereka berdua. Tidak bisa dipungkiri, Areta selalu menikmati tarian dari jari jemari Kian saat menyentuh kulitnya. Dan itu menciptakan sensasi seperti tersengat listrik tegangan tinggi untuk wanita itu.
•
•
•
Bersambung~
Haloo terimaksih atas dukungannya, like komen dan Votenya, sehingga membuat Mr. Mafia bisa lulus kontrak 🤩
Selamat tahun baru untuk semua pembaca, semoga segala hal buruk di tahun 2020 di ganti dengan segala hal baik di tahun 2021, dan semoga pandemi ini segera berakhir agar bisa melakukan aktifitas dengan bebas seperti dulu kala.
__ADS_1
Selamat bertemu di bab 35 di tahun yang baru.
Papay~