Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Ayah Areta


__ADS_3

Mr. Mafia Bab 51


Di belahan bumi bagian lagi, seorang pria paru baya memegang cerutu dengan sekali-sekali menghisapnya dalam-dalam. Ia menatap jendela rumah mewahnya dengan lekat-lekat. Kemarin baru saja ia keluar dari jeruji besi karena tersandung masalah pembunuhan. Ia bukannya tidak bisa menebus dirinya sendiri dengan uang jamaninan. Akan tetapi ia juga ingin menenangkan diri di dalam penjara, yang ia anggap sebagai bereuni kepada teman-tamannya yang sama-sama mendekam di sana.


"Addison, kau siap pergi ke kota Boegenfille untuk mencari putrimu?" tanya wanita paruh baya dengan lembut memegang pundak suaminya.


Addison mencium tangan istrinya. Menghirup aroma bawang yang melekat di tangan istrinya itu. Mereka sanggup membayar seribu pelayan sekaligus atau chef terkenal di negara ini. Akan tetapi hanya masakkan Elma lah yang Addisom inginkan. Bahkan selama di penjara, Elma harus memasak tiga kali untuk memuaskan perut suaminya selama di jeruji besi itu. Karena Addison sama sekali tidak ingin menyantap masakan tanpa rasa di tempat itu


"Iya, doakan aku. Semoga putriku tidak pernah membenciku. Aku telah lama meninggalkannya bersama ibunya. Dan ia harus hidup sengsara di kota kecil tanpa sentuhan seorang ayah." Addison kembali mengais ingatan saat ia meninggalkan istri dan anaknya dulu.


"Bawa ia kemari, rumah ini terlalu sepi karena tidak ada sosok buah hati yang bisa kita peluk, Add."


Sudah tujuh belas tahun lamanya Addison dan Elma menikah, namun selama itu pula mereka tidak dikaruniai seorang anak. Sehingga mereka sama sekali tidak pernah menimang buah hati darah daging mereka sendiri.


"Pasti, Elma. Aku akan membawanya kemari. Aku akan menebus dosaku, dengan membahagiakannya sekarang."



Andrea menghempaskan sendok yang ia pegang. Hingga semua orang di meja makan itu terjingkat kaget.


"Jadi aku satu meja makan dengan kaum rendahan! Dan kau Kian, apakah tidak ada wanita lain yang bisa kau nikahi?" seru Andrea dengan penuh kemarahan.


Areta terdiam dan tetap melanjutkan makannya, menyendok makanan lalu memasukan ke dalam mulut dengan begitu elegant.


"Tenanglah Andrea!" perintah Kian.


Areta tetap seolah tidak mendengarkan perkataan Andrea, dengan tetap memasang wajah mengejek dan jijik namun tetap pandangannya tidak lepas dari piring di depannya.


"Apa kau tidak bisa memilih istri dari kalangan atas, Kian?"


Mendengar penghinaan dari Andrea membuat Areta seketika memicingkan matanya menatap penuh kebencian.


"Rendahan, tidak berkelas? Lalu apa lagi? Pel*c*r? Pelayan? Semua tetap manusia. Semua sama di mata Tuhan. Dan asal kau tahu, Nona besar yang terhormat. Aku tidak pernah mengemiskan diri untuk dinikahi oleh Kian, tetapi temanmu ini yang memaksaku!" ucap Areta pelan dengan penuh keanggunan. "Suamiku, sepertinya aku sudah tidak diterima satu meja makan denganmu, jadi silakan makan dengan nikmat, tanpaku. Aku akan makan sendiri satu meja dengan para pelayan yang selevel denganku!" Mata Areta menatap Kian namun terselip teror di sana. Areta berdiri dan beranjak pergi. Namun dengan tegas Kian menolak.

__ADS_1


"Areta, tetap duduk di tempatmu!" perintah Kian, Areta bergeming dan berjalan menjauh. "Areta!" teriaknya dengan nada semakin tinggi.


Pria itu langsung berjalan cepat dan menarik tangan Areta dengan kasar. Lalu menggandeng istrinya dengan cepat.


"Kau istriku, kau adalah istri sekaligus pemilik rumah ini! Tidak ada yang bisa menyingkirkanmu dari meja makan ini bahkan posisimu di rumah ini!" seru Kian dengan penuh kemurkaan.


Areta tersenyum puas ketika melihat Kian membela dirinya, dan menatap Andrea dengan tatapan menghina, membuat Andrea mengepalkan tanganya dengan kencang.


'Kau bisa lihat, apa posisimu dan apa posisiku, nona Andrea'


Areta bergumam di dalam hati sembari sorot mata menatap Andrea dengan tajam.


Setali tiga uang, manik mata Andrea tak henti-hentinya menangkap sosok yang ia tidak sukai itu.



Addison kembali ke kota Boegenfille, kota di mana ia berasal, ia bersama puluhan anak buahnya menyambangi rumahnya dulu. Tempat itu tidak berubah, hanya saja semakin jelek dan reot.


"Apakah kau Add?" tanya Della, menajamkan mata menatap Addison. Laki-laki paruh baya itu mengangguk pelan.


Della menatap jajaran mobil yang membentengi Addison seolah ia adalah orang penting.


"Kau kemana saja? Istrimu telah meninggal tiga bulan lalu, dan anakmu pergi ke Apache untuk mencarimu. Tapi beberapa bulan lalu ia pulang dengan suaminya," ungkap Della.


"Apakah anakku sudah tumbuh dewasa?" tanya Addison dengan gurat kesedihan terselip di sana.


"Tentu saja, Areta tumbuh menjadi gadis yang cantik."


"Areta? Jadi nama anakku Areta?" tanyanya.


Della hanya mengangguk. "kau bisa mampir ke rumahku, kita bisa ngobrol sebentar."


"Terimakasih Della, aku akan kembali ke kotaku, untuk mencari keberadaan anakku."

__ADS_1


"Apakah dia meninggalkan alamat?" tanyanya.


Della menggelengkan kepala, seraya berpikir mengais ingatannya saat bertemu dengan Kian.


"Dia sepertinya bukan orang sembarangan, ia juga sangat tampan dan kaya raya. Aku pastikan ia sudah membahagiakan anakmu, karena sejak kecil Areta sudah hidup sangat menyedihkan."


"Baiklah terimakasih, Dell. Aku pamit." Addison kembali masuk ke dalam mobil, dan berlalu meninggalkan kota itu.


Di dalam mobil Addison terus berpikir, sembari menagisi dirinya sendiri. Ia adalah mafia terkuat, ia ditakuti semua orang. Tapi untuk anaknya saja ia tidak bisa mencari, bahkan ia kehilangan gadis yang belum sempat ia gendong dan dekap. Addison sangat menyesali itu.


Dulu Addison berpamitan kepada Marla untuk mencari pekerjaan di kota Apache, namun sejak saat itu ia tersandung masalah dan dipenjara selama beberapa tahun, ketika ia keluar. Dirinya bertemu dengan ayah Elma, ia diberi kepercayaan menjaga dan membangun perusahaan keluarga Elma, hingga harta membutakan Addison dan untuk memperbanyak harta, ia bermain di dunia gelap merangkap menjadi mafia menjual obat terlarang. Namun di samping itu, karena tidak mempedulikan anak istrinya dan lebih memilih menikahi Elma, wanita cantik yang dijodohkan olehnya. Tuhan menghukumnya dengan tidak memberikannya keturunan. Kini di masa tua, Addison tahu jika kehadiran anak sangatlah penting, ia terlalu gila harta hingga melupakan anak dan istrinya.


Ia bisa meraup uang dengan sekejap mata tapi ia kehilangan harta yang sangat berharga.


Addison mengeluarkan ponsel, untuk menelepon seseorang.


"Hallo... menurut sumber, anakku bernama Areta, sekarang ia berada di kota Apache. Kau bisa mencarinya?! Kalau kau gagal maka kepalamu akan terpenggal!" ancamnya, lalu menutup ponselnya.



Seorang bawahan Kian berjalan menghampiri Mark yang berdiri di belakang Irene. Ia membisikkan sesuatu di telinga tangan kanan Kian tersebut, hingga membuat Mark terkejut, lalu cepat-cepat berjalan ke arah Kian dan membisikkan berita penting ke indera pendengaran Kian.


Kian membelalakkan mata, ia meremas tangannya sediri, ketika mendengar berita tersebut, membuat Areta yang menatap suaminya begitu kebingungan.


β€’


β€’


β€’


Bersambung~


Yoh ayoh Vote dan Gift, Gift mininam satu mawar, kalau boleh satu hati πŸ˜‚πŸ€­ Biar aku semangat, Gaes!πŸ€Έβ€β™‚πŸ€Έβ€β™‚πŸ€Έβ€β™‚

__ADS_1


__ADS_2