
Mr. Mafia 85
Warning! Chapter ini mengandung ++
Harap bijak menentukan bacaan sesuai umur. ❤
Semuanya telah siap, seorang wanita cantik dengan pakaian cukup terbuka keluar dari sebuah mobil sedan berwarna merah, rambut pirang di biarkan tergerai indah, baunya wangi menggoda setiap pria yang menghirup aroma tubuhnya.
Ia mendatangi Nicky yang langsung merentangkan tangannya, mencium bibir wanita itu dengan ganasnya di depan semua orang, membuat mereka yang berada di situ merasa canggung.
"Paman ... Bibi, perkenalkan. Ini adalah calon menantumu," ucap Nicky pongah.
Elma yang melihat wanita itu untuk pertama kali merasa kurang menyukainya, tampak terlihat dari wajah Elma. Sementara Addison memang tak acuh, dan tidak menggubris Nicky, karena keponakannya itu terkenal playboy dan suka mempermainkan wanita dengan seenaknya.
Manik mata wanita itu tampak memandang Kian dengan tatapan aneh. Hal itu membuat Areta tidak tenang, mencoba membentengi suaminya dengan cara apapun.
"Kian ... jangan lihat wanita itu! Aku kurang menyukai caranya menatapmu," bisik Areta. Kian langsung menatap wanita itu hanya untuk memastikan. "Sudah kubilang, jangan melihatnya!" dengus Areta cemburu.
"Kenapa?" tanya Kian.
"Wanita nakal!" cibir Areta tidak suka.
Areta langsung menggandeng tangan Kian untuk segera memasuki kapan mewah milik ayahnya. Kapal bernama DreamOf The Sea, dengan panjang 333 meter mampu menampung lebih dari 2000 penumpang, kapal ini dipesan Addison sejak tahun 2018 dan sudah berlayar mengelilingi dunia menemani ia dan istrinya di kala bosan dengan rutinitas hariannya.
Areta yang memandang kapal tersebut tampak takjub dengan suasana di dalamnya. Semua pelayan lengkap, nahkoda dan awak kapal nampak ramah, membuatnya ingin berlama-lama di dalam kapal tersebut.
"Bagaimana, Nak? Ini semua juga milikmu." Addison tiba-tiba datang di tengah-tengah Kian dan Areta. "Aku menamainya Dream of The Sea, karena dulu, ibumu ingin memiliki kapal, hingga aku mewujudkan mimpinya saat ini, tapi sayang. Ia tidak pernah bisa menaikinya," keluh Addison.
"Tak apa, Papa. Areta yang akan menjadi wakil ibu, untuk kapal ini," ucapnya, memeluk hangat tubuh ayahnya itu.
***
Semua telah mendapatkan kamar pribadi dengan type VVIP, kamar Areta dan Kian juga mendapat view paling indah.
"Kian ... lihatlah! Matahari hampir terbenam!" seru Areta, penuh antusias.
Kian menghampiri istrinya lalu mendekap erat tubuh mungil itu, kemudian berbisik mesra, "Sayang ... kita sudah lama tidak—"
Areta langsung berbalik badan, lalu mengecup bibir Kian. "Lama apa?"
Mendapat perlakuan manis dari sang istri, membuat Kian yang biasanya gahar jika di depan lawan-lawannya berubah menjadi kucing paling manis untuk istrinya.
__ADS_1
"Kita bulan madu sekali lagi," sahut Kian.
"Bukankah ini bulan madu untuk Mark dan Irene?"
"Aku yakin, saat ini mereka juga melakukannya." Kian tersenyum menyeringai kepada istrinya. Lalu mendekat ke arah istrinya dan mencium bibir lembut yang selalu menjadi candu untuknya. "Manis," desahnya lagi.
"Aku tidak sedang memakan gula." Areta menyaut seolah seperti anak kecil yang begitu polos.
"Bukan itu!" dengus Kian, mendorong lembut kepala Areta karena kebodohannya.
"Aku-kan tidak tahu."
Mereka kembali bergumul dengan napsu yang sudah lama tidak tersalurkan di atara mereka sejak beberapa hari.
Kian melepaskan satu persatu kain yang menutupi seluruh tubuh Areta, hingga tubuhnya menjadi polos seperti bayi. Mendorong lembut tubuh istrinya ke tempat tidur empuk dengan sprai biru muda yang menyatu dengan warna laut. Kini gilirannya membuka satu demi satu pakaiannya, hingga tak ada satu benang pun yang menempel di kulitnya, dada bidang nan indah bisa Areta lihat seolah sedang menyaksikan pandangan indah, hingga membuatnya tidak berkedip. Sementara hal yang seperti biasa ia lakukan yaitu menutupi tubuhnya kini tidak ia hiraukan. Kian bisa menatapnya dengan puas.
Mereka kini tenggelam dalam kolam gelora asmara yang membara, tarian indah yang seirama dengan kasur yang begitu empuk membuat suasana semakin panas. Sementara lengkingan suara desah yang keluar dari bibir mereka, membuat keduanya bersemangat, hingga mencapai puncak nirwana secara bersamaan. Kian memeluk erat tubuh sang istri yang masih polos seperti bayi, dan karena begitu lelah dengan kegiatan yang keduanya lakukan, kini mereka berdua terlelap dalam pusara mimpi indah masing-masing.
***
Tok ... Tok ... Tok ....
Ketukan pintu membuat Kian mengerjapkan mata, lampu kamar yang memang sengaja mereka tidak nyalakan membuatnya menjadi gelap gulita. Dengan meraba, Kian meraih lampu yang ada di nakas samping tempat tidur untuk menyalakannya, kemudian ia meraih celana panjangnya yang berserakan di lantai lalu memakainya. Ia bertelanjang dada menghampiri pintu kamar, dan membukanya.
Kian yang melihatnya langsung memasang wajah murka, lalu menutupi keadaan di dalam kamarnya dengan tubuhnya agar lekaki itu tidak melihat Areta yang sedang tertidur.
"Kau baru saja—" godanya cekikikan.
"Apa yang kau mau?!" hardik Kian.
"Makan malam sudah siap!" ucap Nicky santai, lalu pergi dengan berjalan pongah. Kian yang kesal menutup pintu dengan kasar hingga membuat Areta yang tertidur terkejut.
Areta terduduk dengan pandangan masih kabur, ia mencoba mengucek matanya sendiri. Kian yang melihat istrinya terbangun langsung merubah raut wajahnya dari marah menjadi hangat.
"Kau sudah bangun?"
"Bagaimana aku tidak bangun—jika kau menutup pintu seolah sedang ada badai di luar sana!" gerutu Areta kesal.
"Ayo mandi!" pinta Kian.
"Kau saja dulu, aku masih ingin tidur."
__ADS_1
"Atau mau kumandikan? Ibumu juga sudah memanggil kita untuk makan malam," sambung Kian.
"Benarkah? Baiklah aku akan mandi," sahut Areta malas.
Keduanya keluar dari kamar, menuju dek atas kapal untuk makan malam. Keduanya dengan memakai pakaian yang serupa dengan warna hitam seolah bagai sepasang pengantin baru dengan bergandengan tangan.
"Kupikir Tuan Mark dan Nona Irene yang pengantin baru di sini," cibir Nicky.
Areta dan Kian tampak mengacuhkannya hingga membuat Nicky sedikit kesal, ia meraih kotak rokok mengambil sebatang lalu menyalakan korek dan membakarnya, kemudian menghisap rokok itu kuat-kuat dan sengaja mengembuskan asap rokok tersebut ke arah Kian dan Areta yang duduk di hadapannya.
Kian dan Areta benar-benar tidak menganggap Nicky ada di antara mereka berdua, pria itu memang hanya ingin mencari perhatian pada Areta, entah apa yang ia inginkan sebenarnya.
"Rosie, jika kau menjadi istriku kelak. Berdandanlah secantik wanita di hadapanku ini," ucapnya, menatap Areta.
"Memang kau pikir dia cantik? Kurasa tidak, Tuan Kian seharusnya memilih wanita yang seksi dan secantik aku," sahutnya dengan nada merendahkan Areta.
•
•
•
Bersambung.
Pertarungan dimulai~
Jangan lupa like dan komen dong, biar aku semangat. 🙄
Follow juga Instagram dan Facebook-ku. Kalian bisa nagih di sana ketika aku lupa diri untuk Update Kian dan Areta.
Visual Nicky
visual Rosie
Thank you,
__ADS_1
Novi Wu