Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Pemberontakkan


__ADS_3

Mr. Mafia 96


Mata Shane dan Brian salin beradu, bedanya Shane dengan pandangan yang santai—namun Brian sebaliknya. Ia tahu betul, kini ia berada dalam sarang ular yang kapan saja nyawanya bisa melayang, hanya dengan secuil kesalahan.


"Saya hanya menjalankan tugas, Tuan," sahut Brian, masih dengan sopan santun tidak memperlihatkan bahwa dia adalah putra mahkota.


"Tak perlu sungkan, lagipula Anda adalah calon raja. Anggap saja rumah sendiri—tapi saranku ...." Shane mendekat ke arah Brian, menepuk pundaknya dan membisikkan kaliat ambigu kepadanya. "Jangan memprofokasi Kian!" sambungnya lagi.


Tentu saja hal itu membuat Brian berhasil menelan ludahnya sendiri. Tapi karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menjaga Areta, ia harus mencoba dan berusaha tetap tenang.


Shane melenggang pergi, memakai kaca mata hitamnya. Ia akan kembali ke rumah sakit, menjalankan tugas utamanya sebagai tenaga medis.


Sementara Brian, kini manik mata coklatnya kembali menatap lurus ke dalam ruangan di mana Kian dan Areta berada di dalamnya.


Tiba-tiba hetakan kaki yang berat namun terlihat tergesa muncul dari bawah hingga tidak lama kemudian telah sampai ke atas. Mark dengan wajah luar biasa frustasi dan setengah berlari, menuju ruang kerja Kian—menyempatkan mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah si empu mempersilakannya masuk.


Kian yang mengetahui wajah kepanikan dari orang paling dia percaya tersebut, bisa membaca—bahwa sedang ada yang tidak beres dengannya.


"Ada apa?" tanya Kian, memasang wajah serius.


"Mr. Smith." Mark menjawab ragu.


"Ada apa dengan Smith, Mark?! Jangan bicara membuang waktu! Kau tahu betul, aku tidak suka dengan ucapan bertele-tele, bukan?!" pekik Kian, mulai gusar.


"Mr. Smith tewas, ada pemberontakkan di daerah Lemonilo."


"Apa?!"


Rahang Kian mengetat, matanya menyala-nyala seolah siap membakar siap membakar apa yang ada di hadapannya. Sementara Areta lebih mementingkan nasip istri Smith yang baru saja melahirkan bayi lelaki, dan sayangnya Areta juga belum sempat mengunjunginya lagi.

__ADS_1


"Aku akan berangkat ke Lemonilo!" Kian hendak bergegas, namun tangan Areta menghadangnya. Wanita itu menggelengkan kepala perlahan, seolah tidak ingin suaminya terjun langsung ke lapangan.


"Tidak, Kian. Aku tidak ingin—"


Kian menggapai kepala sang istri, lalu menciumnya dengan lembut. "Tenang saja, tidak akan terjadi apapun padaku, aku tetap akan bersamamu hingga tua nanti," jawabnya menenangkan sang istri.


"Tapi—"


Sialnya sejak tadi Mark lupa menutup kembali pintu ruang kerja Kian, hingga dengan leluasa Brian dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


"Mark hubungi The Rock! Aku akan membawa Areta ke sana sebelum aku pergi ke Lemonilo."


"Baik ... Boss!"


"Tidak ... aku ingin ikut bersamamu, Kian," pinta Areta.


"Ini terlalu berbahaya untukmu dan anak kita." Mafia itu mengusap lembut perut sang istri.


***


Setelah mereka sampai di kediaman sang ayah mertua, Kian langsung mengutarakan permintaannya untuk sang ayah menjaga putrinya selama ia tidak bersama Areta. Jujur saja Kian tak sepenuhnya percaya dengan Brian yang seolah ia rasa mempunyai maksud terselubung di antara Areta dan dirinya.


"Pa ... aku ingin, Papa menjaga Areta sementara saat membereskan masalahku di Lemonilo," pungkasnya.


"Ya ... pemberontakan oleh orang dalam memang sangat menjengkelkan, terlebih lagi pasti ia tahu di mana titik lemahnya kita." Addison menjawab sembari menghisap cerutu berlapis emas di sela jarinya.


Sementara air mata Areta sudah sesak hingga tak kuasa merangsek keluar membasahi kedua pipinya. Ia tidak pernah jauh dari Kian sedetikpun. Kini ia harus merelakan sang pujaan hati bertarung melawan anak buahnya sendiri, yang tengah memberontak. Bukannya ia tak percaya dengan kemampuan suaminya, tapi hormon esterogen yang saat wanita hamil itu dua kali lebih merasakan suasana hati yang campur aduk dan tidak karuan.


"Kian ...." ucapnya di tengah air mata yang berderai.

__ADS_1


"Nak ... Suamimu pasti bisa menghadapi ini semua, papamu pasti juga akan membantunya," pungkas Elma menenangkan anak tirinya tersebut.


"Nicky dan beberapa orang dalamku akan ikut bersama Kian, jadi kau tidak perlu gusar, Areta," imbuh sang ayah.


Tiba-tiba—


"Tuan Addison, bisakah aku ikut dengan Tuan Kian?" Suara tidak asing itu kini buka suara, Brian si manusia jarang berbicara tersebut kini berkelakar ingin ikut serta dalam pertarungan antara Kian dan para pemberontaknya.


"Apa?" Suara Addison tiba-tiba meninggi saat mendengar ucapan Brian.


Dan semua yang ada di dalam ruangan itu tampak terkejut dan mata mereka langsung tertuju kepadanya.


"Saya tidak sengaja mendengar percakapan Tuan Mark dan Tuan Kian tadi, saya ingi ikut serta dalam melawan pemberontakan ini," pungkasnya.


"Tapi tugas utamamu menjaga putriku!" dengus Addison.


"Saya rasa Nona Areta sudah berada di tangan yang tepat saat ini, dan saya juga bisa menjaga Tuan Kian demi Nona Areta," jawabnya.


Areta menatap Brian dengan seksama, ia menimbang semua apa yang dilakukan Brian pada dirinya saat ia menjaganya, Brian bagai penembak jitu yang hanya sekali memuntahkan timah panas, langsung tepat pada sasaran.


"Ijinkan dia pergi, Papa!" pinta Areta.


"Tidak, Areta!" sergah Kian.


"Aku akan lebih tenang jika Brian ikut bersamamu."


"Baiklah ... ikutlah! Ini misimu selanjutnya!" perintah Addison, yang membuat semua orang tidak mengerti apa maksud dari misi yang diucapkan pria paruh baya itu.


Bersambung~

__ADS_1


Maaf slow update, aku beberapa hari ini sedang sakit—dan alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Semoga kedepannya updatenya lebih sering sampai tamat. 😘


__ADS_2