Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kesedihan Kian dan Shane


__ADS_3

Mr. Mafia bab 62


Kian, Mark, dan Shane bertolak menuju rumah sakit, dengan mobil sedan hitam keluaran terbaru dengan harga super fantastis. Mark mengemudikan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang hampir fajar menyingsing.


Mereka bertiga terhanyut dalam pikiran masing-masing meratapi kesedihan sepeninggal Andrea. Tidak butuh waktu yang lama, mereka telah sampai di Rumah Sakit pusat kota. Ketiganya berlari kecil menuju ruang kamar mayat yang berada di ujung koridor rumah sakit besar tersebut. Para tenaga medis staff kamar mayat tampak berjajar rapi menyambut kedatangan CEO sebuah pusat perbelanjaan mewah itu, dan Shane kebetulan juga adalah salah satu dokter di sana.


Kian berjalan pelan dengan napas berat, menatap sosok yang telah terbujur kaku ditutupi kain berwarna putih. Shane sudah tak kuasa untuk masuk, ia hanya berdiri lemas dan bersandar di ambang pintu.


Mark membuka penutup kain yang menutupi wajah Andrea. Setelah dibuka barulah terlihat wajah yang terpejam dengan keadaan pucat, namun anehnya ada guratan senyum yang seolah ditampilkan oleh Andrea. Kian tak kuasa melihatnya, ia terus mengutuk dirinya sendiri karena harus menyaksikan Andrea mati dengan sia-sia. Ia seharusnya bisa menikah dan mempunyai anak di usianya yang ketiga puluh tahun ini.


"Andrea.... " Shane berucap lirih.


Seorang petugas kamar mayat datang menghampiri mereka, lalu berkata dengan raut wajah menyesal. "Kami sudah mengeluarkan dua butir peluru yang bersarang di jantung Nona Andrea."


Mata Kian menatap nanar petugas tersebut dan berucap lirih hampir tidak terdengar. "Terimakasih."


Dunia Kian dan Shane seakan-akan ingin runtuh. Baru saja Andrea kembali dari masa hiatusnya sebagai mafia, namun kini ia harus meregang nyawa dengan sia-sia. Bahkan tanpa disangka demi sahabat dan istrinya, ia mengorbankan hidupnya. Kian meremas tangannya sendiri, rahangnya mengetat. Seperti rindu. Dendam harus dibalas dengan tuntas. Pikir Kian.


**


Areta mengerjapkan mata setelah sapuan matahari menerpa wajahnya dari balik celah gorden. Begitu tidak tahu dirinya ia, ketika menyadari dirinya bisa tertidur padahal ia belum tahu tentang keadaan Andrea. Areta turun dari kasurnya yang empuk, lalu berjalan keluar kamar. Perlahan ia turun dari tangga menuju lantai satu, ia melihat semua orang memakai baju serba hitam, dengan memasang raut wajah sedih tanpa ada sepatah katapun dari mulut mereka.


'Ada apa ini?'


Otak Areta terus bermain-main dengan pikiran liarnya sendiri.


'Siapa yang meninggal?'


Areta bertanya dalam hatinya sendiri, lalu ia melihat Irene dengan baju serba hitam dipadu sepati hitam, serta rambut yang ditata rapi hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Ia menepuk pundak wanita itu dengan lembut. Seketika Irene menengok, Areta melihat wanita itu dengan keadaan memerah dengan air mata yang hampir saja tumpah dari matanya. Areta langsung menajamkan matanya, seolah menyiratkan pertanyaan namun tidak mengeluarkan suara.


"Andrea... Andrea telah tiada," jawab Irene seolah mengerti apa maksud Areta, lalu ia memeluk Areta dengan erat.

__ADS_1


Mata Areta langsung terbelalak, bahkan ia tidak mampu mengeluarkan suara lagi ketika mendengar berita itu, dalam pelukan Irene, ia seperti orang linglung. Tidak lama ia menangis sejadi-jadinya dan membuat semua orang langsung menoleh kepada istri Kian tersebut.


"Aku... aku yang menyebabkan ia mati, aku penyebabnya. Aku jahat!" pekik Areta, merasa bersalah.


Mendengar hal itu, Kian yang sejak tadi memperhatikan peti mati Andrea yang sudah dibawa pulang langsung mencari sumber suara dari sang istri.


Ia juga tampak hancur, namun melihat Areta menyalahkan diri akibat kematian Andrea membuatnya semakin hancur. Kian langsung menarik tangan Areta dan memeluknya erat.


"Ssstttt.... " desisnya lembut, sembari mengelus rambut Areta. "Kau tidak bersalah, ini sudah takdir," imbuhnya lagi menghibur hati istrinya.


"Ta–tapi... Kian. Aku bersikap tidak adil pada Andrea, bahkan pikiran jahatku menganggapnya sebagai pengganggu!" pekiknya dengan air mata berderai tanpa henti.


"Ingat Areta, kau tidak pernah salah. Ini adalah suratan takdir Sang Maha Pencipta."


Namun tiba-tiba Areta melemas, ia pingsan di dalam pelukan Kian. Merasakan tangisan Areta berhenti, membuat Kian gusar, lalu menatap wajah Areta yang sudah tidak sadarkan diri.


"Areta!" Kian menepuk kedua pipi Areta dengan lembut. "Areta!" Ia melakukannya lagi, berharap jika Areta akan sadar. Namun hal itu benar-benar tidak membuahkan hasil, dengan terpaksa Kian membopong tubuh Areta dan membawanya kembali ke kamar, dan meminta Shane memeriksanya.


"Bagaimana, Shane?" tanyanya, gusar.


"Kau tenanglah, dia hanya syok. Cukup biarkan ia istirahat sejenak, maka Areta akan pulih." Shane memegang pundak sahabatnya agar pria itu lebih kuat. Dan beranjak pergi dari kamar mereka.


Kian duduk di samping istrinya, ia mengusap lembut rambut wanita yang tengah pingsan tersebut.


"Maaf membuatmu menikah denganku, karenaku kau selalu dalam bahaya, karena aku juga kau selalu menderita."


Kian berucap lirih karena selalu melibatkan sang istri dalam masalahnya, pria itu mengecup lembut kening Areta, dan membetulkan selimut agar menutupi tubuh Areta dengan sempurna.


***


Kini tubuh Andrea telah kembali ke tanah, bunga-bunga dilemparkan sebagai penghormatan terakhir sahabat Kian dan Shane tersebut, tidak sedikit para kolega Kian yang hadir tampak menyayangkan kematian Andrea yang mereka anggap sangat tragis.

__ADS_1


Banyak dari mereka berpikir The Rock benar-benar manusia paling kejam, namun semua tetap takut dengan The Rock si mafia terbesar di negara ini.


Sementara itu di rumah sakit. Di dalam ruang perawatan intesif. The Rock atau Addison tampak lemah dan tidak berdaya. Tidak ada yang tahu jika Addison tergolek lemah di rumah sakit, karena jika itu tersebar, maka semua musuh Addison akan memanfaatkan hal itu untuk menyerang dan menuntut balas Addison atas semua kejahatannya. Tidak terkecuali Kian Egan.


Dalam keheningan Elma menunggui suaminya dengan was-was. Ia terus merapalkan doa-doa kepada sang pencipta demi kesembuhan sang suami, jujur saja Elma merasa tidak pantas bersujud dan bersimpuh di hadapan Tuhan. Karena ia telah lama jauh darinya, namun kali ini tidak, karena takdir Tuhan lah yang akan menjadi mukzizat untuk Addison.


"A–anakku—" suara lirih dan terbata keluar dari mulut Addison dengan segala alat medis yang menunjang kehidupan Addison.


Elma menghapus air matanya lalu berjalan mendekati suaminya itu. Mata Addison tampak terbuka, napasnya tidak teratur, ia berusaha menggerakan jari-jarinya meskipun sangat lemah.


"Iya... sayang, kau sembuh dulu. Baru kita akan menemui anakmu," pinta Elma dengan suara lembutnya.


"A–anakku—" ucapnya lagi. Air mata Elma tak kuasa terbendung, melihat suaminya yang biasa kuat tak terkalahkan kini hanya dibantu alat medis untuk menopang hidupnya


"Iya... suamiku, kau bersabarlah dulu. Kau harus sembuh dulu."


Apakah mungkin jika Areta tahu jika Addison adalah ayah yang meninggalkannya sejak kecil, ia akan memaaafkannya? Terlebih lagi ia bahkan pernah menyiksanya dan hampri saja membunuhnya. Itu tidak bisa dibayangkan oleh Elma. Hanya saja keyakinan Elma bahwa Areta adalah anak yang baik, ia pasti akan memaafkan Addison terlepas jika ayahnya adalah orang terjahat di jagad raya. Karena darah lebih kental dari pada air.





Bersambung~


Hayo siapa yang udah takziah? 🙄


Jangan lupakan Like, Komen, Vote, dan Gift.😘


__ADS_1


__ADS_2