
Mr. Mafia Bab 38
Tiba-tiba Kian menarik tubuh Areta hingga wanita itu tersungkur dan tanpa sengaja menempelkan bibirnya pada bibir Kian. Hal itu tentu saja membuat Areta terperanjat dan langsung menghindar dari pelukan Kian, alih-alih menghindar. Bahkan Areta tidak mampu bergerak karena pelukan Kian begitu erat.
"Begini sebentar!" Kian berbisik lirih dalam keadaan setengah sadar. Meskipun Areta enggan, ia tidak ada pilihan lain dan memilih menuruti pilihan Kian. Hingga tanpa disangka ia menjadi terlelap dan tidur dipelukan laki-laki yang paling ia benci sepanjang hidupnya.
***
Pagi menjelang, namun kali ini bukan matahari yang menyambut Areta saat mengerjapkan mata, namun hujan dengan intensitas lumayan lebat yang membuat suasana semakin dingin, membuat Areta tanpa sadar meringkuk dan meringsut di dalam dekapan pria di sebelahnya itu. Kian yang masih terlelap dan berdamai dengan mimpinya tampak tenang dan membiarkan Areta begitu saja.
Namun tidak butuh waktu lama, Areta tersadar dan terperanjat dari tidurnya, kemudian bangun dan mengigit pinggir bibirnya.
'Semalaman aku tidur dalam pelukan laki-laki ini? Dan aku menikmatinya?'
Areta bergumam, ia tidak bisa memungkiri, meskipun hatinya menolak akan tetapi entah mengapa tubuhnya selalu merasakan nyaman saat tersentuh oleh mafia itu. Apakah Areta sudah mulai terpikat dengan pesona mafia ini? Ataukah ia sudah terbiasa dengan sentuhan demi sentuhan dari Kian.
Tiba-tiba Kian terbangun dalam keadaan terkejut, napasnya memburu seolah ia baru saja bangun dari mimpi buruk. Matanya langsung menyambar tubuh wanita di sampingnya dan seketika memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Areta hanya pasrah dan mengangkat alisnya sendiri karena bingung dengan apa yang terjadi dengan Kian.
"Ada apa?" tanya Areta, dengan nada datar.
"Biarkan seperti ini! Aku baru saja bermimpi, semua yang telah kubangun musnah dan The Rock satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas itu semua," jawab Kian masih dengan napas memburu, dan memejamkan mata dalam pelukan Areta.
"Siapa The Rock? Mengapa kau sangat takut dengannya?" tanya Areta penuh tanda tanya.
Kian melepaskan pelukannya dan memasang wajah berbeda dari sebelumnya. "Sudah, kau tidak perlu tahu itu!"
__ADS_1
"Mengapa? Apa karena kau berpikir jika aku hanya istri kontrakmu? Sehingga kau tidak mau membagi kisah ketakutanmu padaku?" tanya Areta kesal, manik matanya seolah hampir terlepas karena menahan amarah.
Kian bergeming dan memilih tidak menjawab pertanyaan Areta tersebut, hingga membuat Areta semakin penasaran ada apa dengan The Rock. Mengapa ia menjadi momok menakutkan bagi mafia seperti Kian. Kian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sementara Areta memilih berdiam diri di atas tempat tidurnya, seraya berpikir sejenak dan bertanya-tanya.
**
Sejak Kian berangkat kerja, Areta terus memutar otak, dari mana ia mencari tahu tentang The Rock, dan apa pengaruhnya untuk Kian mafia yang dikenal tanpa ampun oleh musuh-musuhnya, semakin Areta memikirkan itu, semakin ia ingin tahu lebih banyak tentang The Rock. Akhirnya ia menghampiri Silda, yang Areta tahu jika ia adalah salah satu orang kepercayaan Kian.
Silda sedang mengawasi para pelayan pagi itu, Areta tanpa ragu menghampiri wanita yang dulu sangat membenci Areta tersebut. Areta menepuk pundak wanita tersebut dengan lembut dan berkata, "Silda," sapanya lembut dengan senyuman khas yang dimiliki Areta. Silda menyambut nyonya rumah ini dengan ramah, meskipun Areta orang baru dan paling muda di rumah ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa Areta adalah nyonya rumah di tempat ini, bahkan pangkatnya bisa dibilang lebih tinggi dari Irene, kekasih pertama bossnya.
"Iya, Nona. Adakah yang bisa kubantu?" tanya Silda.
"Aku ingin bicara denganmu, apakah kau ada waktu?" tanya Areta. Lalu matanya melihat ke segala arah. "Apakah Celine belum kembali dari rumah Shane?" tanyanya lagi.
"Ya ... Celine sepertinya betah berada di dekat ayah kandungnya. Mau bicara soal apa, Nona?" tanya Silda.
"Th–The Rock—" Manik mata Silda seolah ingin keluar mendengar pertanyaan Areta, lidahnya seolah kelu, benar-benar The Rock adalah momok menakutkan untuk seisi rumah ini. Silda menelan ludahnya sendiri, ketika akan menjawab pertanyaan Areta. "Dia adalah musuh terbesar boss Kian, dan sekarang dia sedang berada di penjara untuk waktu yang lama, akan tetapi meskipun dia berada di dalam jeruji besi, ia masih bisa menjalankan bisnisnya di dalam tempat itu." Silda menjelaskan semuanya kepada Areta.
"Lalu mengapa mafia bengis itu takut dengan The Rock?" tanya Areta semakin penasaran.
"Ya ... itu karena The Rock yang pernah membunuh nona Anastasya, dan menguasai sebagian wilayah di dunia ini dan satu-satunya musuh terbesar yang dapat menjegal boss Kian secara terang-terangan. Dan asal nona Areta tahu, bahkan ia berani membombardir rumah ini dan menewaskan banyak sekali pelayan dan pengawal boss Kian, dan bahkan menculik nona Anastasya, saat boss Kian tidak ada di rumah ini," ungkap Silda menjelaskan dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
"Apa dia semenakutkan itu?" tanya Areta menyelidik.
Silda menganggukan kepala, lalu berkata, "Jika tidak ada lagi yang perlu disampaikan, Nona. Aku undur diri, banyak pekerjaan yang harus kulakukan."
Areta mengangguk, namun pikirannya kosong saat ini, ia belum puas dengan jawaban Silda yang menurutnya masih mengambang, dan sosok seperti apa The Rock hingga membuat seisi rumah ini begitu ketakutan di buatnya.
__ADS_1
Areta berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai, tiba-tiba Irene menghadang gadis itu dengan posisi tangan bersedekap, dan pandangan menyelidik ke arah Areta.
"Kenapa dengan raut wajahmu?" tanya Irene.
"Irene, apakah kau tahu orang seperti apa The Rock?" Bukannya menjawab Irene, ia malah melemparkan pertanyaan kepada Irene.
"Untuk apa kau tahu tentang laki-laki tua itu?" jawab Irene gusar, dan memilih pergi meninggalkan Areta dengan menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. Dia pikir memang Kian satu-satunya orang yang bisa menjelaskan siapa The Rock sebenarnya.
*
Malam menjelang, semua pelayan telah sibuk menyiapkan makan malam untuk Kian, Areta, dan Irene. Areta yang masih menatap ke arah jendela yang langsung menghadap ke arah air macur itu tampak memandang kosong dan lurus ke depan, hujan masih saja setia mengguyur kota itu dari pagi hingga malam menjelang, Areta bersedekap dan memeluk tubuhnya sendiri saat ini. Ia tidak tahu jika Kian telah datang dan berdiri tepat di belakangnya, tiba-tiba sebuah pelukan hangat seketika membunuh rasa dingin yang menusuk tulang Areta. Areta kaget, siapa yang berani memeluk dirinya di rumah ini selain Kian, sebuah napas tampak berhembus membelai telinga Areta.
"Mengapa kau melamun di sini? Ayo makan!" perintah suara yang sangat Areta kenal tersebut.
Gadis itupun memilih berbalik badan dan menatap sosok tinggi tegap yang memeluk tubuhnya dengan erat. "Mengapa hujan enggan berhenti hari ini." Ia berucap lagi, kini pandangan matanya beralih ke air yang mengguyur dari langit.
"Kian ... aku ingin tahu, siapa The Rock?"
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote ✅
__ADS_1