
Mr. mafia 89
Brian Mc Lion
Lelaki tampan dengan stelan tiga potong berwarna serba hitam, parasnya memang lumayan tampan, seperti aktor di dalam drama televisi yang seolah sedang melompat ke dunia nyata, dan pria bernama Brian itu, kini tengah berjalan mendekati Areta, hingga membuat Areta luar biasa gugup, karena wanita cantik itu takut—jika ia akan membuka mulut tentang kejadian semalam. Namun langkahnya terhenti ketika ia telah sampai tepat di belakang Areta. Ia benar-benar seperti robot layaknya Mark, yang selalu patuh terhadap majikannya.
"Aku tidak butuh pengawal pribadi, Papa. Di rumahku sudah ada penjagaan berlapis-lapis," tolak Areta, melirik ke arah Brian Mc Lion.
"Berlapis?" Addison mengangkat pinggir kanan bibirnya, seolah tersenyum sinis. "Masih segar diingatan Papamu ini, semua penjagaan berlapis dari Suamimu, mampu dengan mudah Papa taklukkan," imbuh Addison, membangkitkan kenangan buruk Areta ketika diculik oleh papanya sendiri.
"Ehem ...." Kian harus repot-repot berdehem ketika pembicaraan mulai serius. "Apa salahnya pengawal pribadi, Sayang. Toh ... ini adalah mandat dari Papa langsung," ujar Kian menengahi.
"Tapi—"
"Sudah, aku mengizinkan Tuan Brian, untuk menjagamu, sebagai pengawal pribadi," kata Kian, sembari mengiris daging di piringnya.
Areta hanya bisa pasrah, kini hidupnya benar-benar tidak akan bisa tenang, karena ada lelaki selain Kian yang akan mengawasinya.
"Sudah, kita makan dulu. Soal bicara serius, nanti ada waktunya," sambar Elma yang mulai resah.
"Lagi pula mengapa sepupu tidak ingin pengawal pribadi? Apa karena Tuan Brian sama tampanya dengan Suamimu?" goda Nicky, seperti biasa.
"Omong kosong!" seru Areta, untuk menghentikan ucapan tak berbobot dari Nicky, saudara supupunya itu.
"Cukup!" Addison melerai adu mulut antara Areta dan Nicky, dengan makanan penuh di dalam mulutnya. "Mulai detik ini, Tuan Brian akan berkerja untuk Areta."
Semua hanya diam saja tanpa ingin membantah Addison.
"Apakah kau siap, Tuan Brian?" tanya Addison, kini pandangannya menatap serius ke arah bawahannya itu.
__ADS_1
"Siap laksanakan, Tuan!" Dengan sikap tegap Brian menjawab ucapan Addison, seolah ia adalah seorang Tentara yang siap mati demi menjaga keamanan negaranya.
***
Setelah semua selesai, Kian meminta izin untuk bermain bilyard bersama Nicky, Mark, dan Mertuanya. Kian benar-benar ingin menikmati masa liburnya dengan tenang di atas kapal pesiar tersebut.
Sementar para wanita memilih berjemur di bawah teriknya matahari siang yang siap membakar kulit hingga menjadi kecoklatan. Dan Areta lebih memilih menikmati indahnya laut di siang hari, menyaksikan ikan lumba-lumba yang ikut menari dengan laju kapal.
"Wah ... segarnya!" Areta merentangkan kedua tangan, menghirup udara kuat-kuat lalu mengembuskannya dengan begitu kasar. "Sudah lama aku tidak merasa senyaman ini."
Saat Areta ingin duduk di sebuah bangku, tiba-tiba—
"Tunggu!" Suara Brian menganggetkan Areta, hingga ia nampak kebingungan, sejak kapan pria itu mengikutinya.
"A–ada apa?" Areta menipiskan mata, menatap serius ke arah Brian.
"Sebentar Nona! Biarkan aku memeriksanya, apakah tempat duduk ini aman!" Brian mulai mengeluarkan alat sensor pendeteksi bahaya, jadi jika alat itu berbunyi 'Nging' berati ada bahaya di tempat itu, tapi nyatanya alat itu bergeming.
"Ini adalah tugas saya, Nona!"
'Apakah semalam ia melupakan tindakan kurang ajarnya terhadapku, dan apakah dia tidak ingin minta maaf?'
Areta membatin, menatap manik mata hitam yang pandangannya lurus ke depan, dengan posisi tangan di belakang, namun kaki sedikit renggang.
"Lebih baik kau pergi saja, Tuan!"
"Tidak! Sesuai protokol tugas, saya akan mengikuti Anda kemanapun Anda pergi, kecuali di kamar mandi dan kamar pribadi Anda," terangnya.
"What?!" Areta memekik kencang.
"Ada apa ini teriak-teriak?" Kian datang menghampiri Areta.
__ADS_1
Areta langsung berhambur ke pelukan suaminya mengalungkan tangannya ke leher Kian, dan di sambut pelukan hangat dari suaminya.
"Kian, aku tidak ingin pengawal," rengek Areta manja.
Kian tiba-tiba mel*mat bibir Areta, dan disambut dengan hisapan lembut dari lidah Areta, cukup lama mereka mempertontonkan kemesraan mereka di depan Brian Mc Lion.
Sesekali pengawal itu melirik kemudian membuang muka lurus ke depan tidak ingin menyaksikan adegan intim sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara tersebut.
"Dia akan membantuku menjagamu, Sayang." Kian melepaskan panggutannya, lalu mengambil helaian surai coklat Areta kemudian menghirup aroma cheery blossom yang telah teresidu dengan rambut istrinya.
"Tapi ... Ah, kau sama saja dengan Papaku!" hardik Areta, marah. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Saat Brian ingin mengikuti Areta, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Kian dengan begitu kasar.
"Jaga batasanmu! Jika berani kau menggodanya, maka—kepalamu akan kuledakkan dengan bom molotov hingga hancur menjadi bubur!" ancam Kian.
"Saya adalah pengawal profesional, Tuan," jawabnya santai.
"Tapi aku melihat matamu! Matamu itu menunjukan sikap lain, jaga pandanganmu juga! Atau akan kucongkel keluar isi matamu dengan tombak!"
Brian sama sekali tidak bergidik ngeri saat mendengar ancaman dari mafia itu, ia hanya tersenyum simpul mendengar ancaman Kian.
"Tugasku adalah menjaga istri Anda. Bukan untuk merebutnya!" jawab Brian dengan tatapan tajam memandang manik mata Kian.
Bersambung~
Wah ... kayanya Kian punya Rival baru.
Wkwkwkkwk ....
Cie pada baper, aku datengi lelaki lain 😚 Milih mana, pelakor apa pebinor? Tenang aja, Mr. Mafia bukan novel kumenangis, kok. Aku buat konflik matang.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen dong, lagipula Vote cuma empat biji doang 🙄