
Mr. Mafia 73
Areta menangkup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri, ia benar-benar tidak menyangka, ayah yang selama ini ia rindukan adalah seorang mafia layaknya suami yang juga menggeluti dunia gelap. Bagaimana tidak, ia berharap jika sang ayah adalah pria tua baik dan tidak memiliki catatan kriminal sama sekali. Tapi pada kenyataannya ia dikejutkan dengan kenyataan yang harus ia telan mentah-mentah.
Ia buru-buru menangkup kertas yang sempat dilemparkannya ke lantai, lalu buru-buru memasukkannya ke dalam amplop coklat, kemudian ia buka laci dan meletakkannya di dalam tempat tersebut, Areta berjalan pelan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya membuka selimut dan menutupi seluruh badannya dengan kain tebal itu. Ia tidak tahu apa yang akan Kian lakukan jika lelaki itu tahu ia adalah anak kandung The Rock.
Membayangkannya saja membuat buku kuduk Areta merinding dan berdiri.
Areta mendesah keras meratapi kesedihannya, secara perlahan rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Perlahan ia tertidur dan berdamai dengan mimpi indahnya.
***
Ketika sedang enak tertidur dan bermimpi indah dengan sang suami yang entah mengapa sejak awal ia tidak ingin mengakuinya secara tersirat, tapi semakin hari hasrat ingin memiliki pria itu semakin tinggi hingga ia enggan melepasnya.
Sebuah tangan menyentuh lembut bibir Areta, mengusap perlahan membuatnya berhasil mengerang lembut dan mengerjapkan mata. Dengan manik mata masih berembun, Areta kembali menajamkan matanya. Pria tampan itu sudah ada di dahapannya saat ini, secara spontan Areta bangun dari posisinya yang tertidur, dan duduk dengan kepala menempel di atas kepala ranjang.
Areta menoleh ke kanan untuk menengok jam dinding yang ada di dinding kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Cukup lama sekali ia tertidur dan tenggelam dalam mimpinya.
"Shane berkata, hasil Testmu sudah keluar?" tanya Kian.
"Ah... iya. Kau benar memang sudah, tapi—Oh, aku menaruh kertas itu di dalam laci. Kau bisa mengambilnya."
Kian mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah meja rias milik Areta. Lelaki itu membuka laci paling atas seperti perintah istrinya tadi. Benar adanya, amplop coklat itu ada di dalam tempat itu, cepat-cepat Kian membukanya dan membaca tiap tulisan yang tertera dalam secarik kertas itu.
Melihat Kian menghela napas panjang saat memeriksa isi hasil test itu, membuat hati Areta dirundung perasaan sentimentil, ia meremas tangannya sediri seraya menggigit pinggir kiri bibirnya, ia tidak tahu keputusan apa yang akan Kian ambil saat mengetahui ini semua.
Setelah memeriksanya Kian meletakkan kertas itu di atas meja tanpa merapikannya. kemudian ia keluar tanpa sepatah katapun yang ingin ia ucapkan untuk sang istri yang sejak tadi menunggu jawabannya. Alih-alih menjawab atau memberi tanggapan. Kian malah berjalan keluar dengan wajah datar, yang membuat Areta bertanya-tanya dalam hati.
'Apa yang dipikirkan Kian?'
__ADS_1
Areta semakin takut berandai-andai, ia memilih tetap berdiam diri di dalam kamar, dengan selimut masih menutupi separuh badannya yang sedang dalam posisi duduk dengan bersandar di kepala ranjangnya.
Tidak lama kemudian Kian masuk kembali membawa senampan camilan dan dua gelas kosong dan wine yang masih ada di dalam botolnya.
Ia meletakkan nampan itu di atas nakas sebelah tempat tidur Areta. Ia menatap mata coklat Areta dalam-dalam lalu duduk di samping wanita itu. Kian menangkup telapak tangan milik istrinya lalu mengarahkan ke pipinya sendiri.
"Apapun kau—dan siapapun kau. Tetap saja. Jika itu semua tidak akan merubah apapun. Kau tetap akan menjadi nyonya Kian Egan."
Areta tersenyum namun dibalik sunggingan bibir itu terselip kecemasan dalam dirinya. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya.
Tok-tok-tok ....
"Masuk!" sahut Kian melirik ke arah pintu. Mark masuk dengan membawa map coklat di tangannya.
'Map apa lagi itu? Apakah itu surat perceraian?'
Areta bertanya pada dirinya sendiri, lalu menatap lekat sosok asistant Kian yang selalu berada dalam posisi siapnya dengan wajah yang datar dan dingin seperti robot.
Krek ....
Suara kertas tersobek—Kian merobek kertas itu hingga menjadi beberapa bagian, tentu saja hal itu membuat Areta menjadi semakin bingung.
Kemudian pria itu memeluk tubuh mungil Areta dengan erat, hal itu membuatnya semakin tidak mengerti, matanya langsung menyambar wajah Mark yang tetap datar, lelaki yang memiliki usia dua tahun lebih muda dari Kian itu malah pergi tanpa pesan.
Areta memberanikan diri untuk bertanya, dan membunuh rasa penasarannya.
"Apa yang kau robek?"
Kian menyelesaikan pelukannya, menarik tubuhnya dari Areta. Menatap istrinya itu dengan wajah amat sangat serius.
__ADS_1
"Itu surat kontrak kita!"
"Surat kontrak? Kontrak pernikahan?" Areta tidak percaya dengan apa yang Kian perbuat.
Lelaki itu mengangguk pelan, lalu menuangkan wine ke dalam gelas kosong, lalu menyodorkan minuman itu pada Areta.
"Ini wine dengan tingkat alkohol paling rendah." Kian berucap lirih. Lalu menggoyangkan gelasnya dan menyesap perlahan minunan itu.
Areta yang semakin tidak mengerti melakukan hal yang sama, saat menyeruput wine itu, tiba-tiba rasa kelu menyerang lidahnya. Maklum saja indra perasanya baru saja mengecap anehnya rasa minuman itu yang berhasil membuat ia menarik dan menekuk dahinya sendiri. Kian hanya terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
"Mengapa kau merobeknya?"
"Karena surat itu hanya akan menghalangi hubungan kita." Kian menjawab santai.
"Hubungan?" Areta seolah tidak percaya dengan penyataan Kian. Hubungan seperti apa yang ia inginkan dari Areta.
Kian mengangguk pelan. Lalu menangkup tangan Areta, mengambil gelas yang sejak tadi wanita itu genggam, dan meletakkannya di atas nakas.
"I love you."
Mata Areta terbelalak tatkala mendengar ungkapan cinta dari seorang mafia bengis, tiba-tiba pikirannya membayangkan betapa ngerinya saat pertama kali ia bertemu dengan Kian—dan kini. Mafia ini mengungkapkan perasaannya pada dirinya.
"I love you." Kian mengulangi kata-katanya, membuyarkan lamunan Areta.
Wajah Areta seketika memerah karena malu. Kian meraih kepala Areta dan meninggalkan kecupan mesra di kening istrinya itu.
•
•
__ADS_1
•
Bersambung~