Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kegusaran Kian


__ADS_3

Mr. Mafia bab 52


Manik mata Kian menajam setelah ia mendengar berita yang tidak menyenangkan itu. Tiba-tiba ia menggebrak meja makan, yang membuat semua yang ada di tempat itu tersentak. Suasana teror membunuh langsung menguar seolah mewarnai seluruh ruangan. Kian beranjak pergi meninggalkan meja makan sebelum sarapannya tandas, ia melangkah cepat dan melonggarkan dasinya. Menuju belakang rumah. Areta yang merasa gusar melihat tingkah aneh suaminya langsung berinisatif mengikutinya. Padahal saat Kian murka, apapun yang mendekat ke arahnya sekurang-kurangnya satu meter, ia akan membunuhnya, sehingga semua orang takut untuk mendekat. Tetapi tidak untuk Areta. Ia adalah istrinya, bahkan ia sudah tidak takut lagi dengan kematian. Instingnya juga berkata, tidak akan mungkin Kian sanggup melukainya, hingga ia mempunyai keberanian mendekati Kian.


Kian berada di dalam tempat latihan menembak, semua anak buahnya langsung keluar saat tahu jika Kian sedang murka. Mafia itu membidik sasaran dengan membabi buta, seolah ia ingin menghancurkan semuanya. Saat ia mengacungkan ke segala arah, tiba-tiba seorang tangan perempuan memegang pistol yang ia bawa. Mata Kian langsung melirik sang empunya tangan, ia menatap tajam sosok itu, Areta berdiri tepat di sebelahnya. Tiba-tiba Kian mengacungkan senjata api itu ke kepala Areta.


"Kau berani mendekatiku?" desis Kian penuh kebencian. "Aku bisa menembus kepalamu dengan peluru ini hingga membuat keluar isi otakmu!" imbuhnya lagi, semakin kuat menekan pistol itu ke kepala Areta.


"Kalau itu bisa membuatmu tenang, lakukanlah!" perintah Areta, lirih. Lalu memejamkan mata pasrah.


Kian ingin menekan pelatuk pistolnya, namun nuraninya tidak kuasa melakukannya, ia membuang pistol tersebut lalu duduk di lantai dengan lemas.


Areta baru pertama kali melihat Kian begitu rapuh, hingga ia sangat sedih melihatnya. Areta ikut duduk bersama Kian lalu memeluk suaminya itu agar ia tenang. Gayungpun bersambut, Kian juga memeluk Areta dengan erat seolah seperti seorang anak yang sedang mengaduk kepada ibunya.


"Ia kembali," ucapnya lirih.


"Siapa?"


"Dia, orang yang telah menghancurkan hidupku."


"Apakah orang bernama The Rock?"


Kian melepaskan pelukannya, menatap nanar wajah istrinya tersebut lalu mengangguk pelan sebagai jawaban 'iya' tentu saja Areta juga ikut sedih melihat suaminya yang biasanya kuat dan penuh percaya diri, kini ia terlihat rapuh.


"Kau adalah Kian Jhon Fransis Egan. Mafia terkuat yang kukenal, lalu mengapa sekarang karena satu nama, kau menjadi serapuh ini? Mana Kianku yang kuat, mana Kianku yang tanpa ampun itu? Kian ... aku akan selalu bersamamu, kau tidak perlu khawatir akan itu. Aku akan tetap di sampingmu apapun yang terjadi." Areta mencoba membangkitkan semangat Kian dengan berkata seperti itu.


Kian mengangguk, lalu berkata, "Terimakasih, aku tidak salah memilih wanita sebagai pendampingku."


***


Addison telah kembali sampai di kota Apache, bertemu sang istri Elma. Ia tampak sedih menatap istrinya yang melihatnya pulang dan berharap membawa anaknya kembali. Namun hal itu nihil. Addison hanya kembali seorang diri. Dengan langkah lemas, ia mendekati sang istri lalu memeluknya dengan erat.


"Ia pergi mencariku ke kota ini, Elma. Gadis kecilku, ia merindukanku," ucapnya lirih, mengadu kepada sang istri.


"Tenanglah, Add. Aku tahu kau pasti sedih, tapi aku yakin kita akan menemukannya secepatnya. Kita kerahkan anak buah kita, sekarang." Elma menghibur sang suami, agar tidak bersedih. "Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, ayo kita makan!" ucapnya lembut. Addison pun menganggukan kepala tanda setuju dengan ajakan sang istri itu.


Setelah selesai makan, Addison pergi ke ruang kerjanya, ia memanggil beberapa kaki tangannya untuk melaporkan apapun yang terjadi ketika ia tidak berada di sini. Padahal sebenarnya Addison telah mengetahui secara garis besar. Namun ia tetap ingin mendengarnya secara langsung.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanyanya kepada kaki tangannya.


"Kian Egan telah menguasai berbagai sektor perdagangan gelap, saat Anda sedang berada di dalam penjara, Boss."


"Bocah tengik itu! Ia sudah lama bermain-main saat aku tak ada. Kini saatnya aku akan merebutnya," desis Addison sesekali menghisap cerutu berlapis kertas emas di tangannya."


"Dan lagi. Ia telah menikah dengan gadis yang tidak diketahui asal usulnya, ia baru beranjak dua puluh tahun, tapi saya belum jelas, siapa namanya."


"Menikah?" tanya Addison, menajamkan mata.


"Iya, Boss. Ini ada beberapa foto pernikahannya tiga bulan lalu." Bawahannya itu menyerahkan foto pernikahan Kian dengan Areta.


Melihat hal itu membuat Addison tersenyum sinis. "Kau telah menemukan kebahagiaanmu, bocah tengik! Kini giliranku memporak-porandakan kebahagiaanmu."


Addison meremas foto Kian dengan Areta, lalu membuangnya ke tempat sampah. Cari tahu siapa nama istrinya. Aku akan bergerak setelah itu.


***


"Apakah kau ingin latihan menembak?" tanya Kian, setelah ia melepaskan pelukannya kembali.


"He'em... aku ingin sekali, apakah kau mau mengajarkanku?" tanyanya.


Kian mengajarkan sang istri membidik sasaran dengan tepat.


"Kau harus memegang senjata dengan pas dan kuat, jangan lembek, Areta!" ucapnya.


Areta mengangguk sebagai tanda mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh Kian. Saat Areta mulai menembak, ternyata bidikannya meleset, hal itu membuatnya kecewa.


"Tidak apa, ini baru pertama kau melakukannya." Hibur Kian, dengan senyuman menghiasi bibirnya.


Sekali lagi Areta mencoba membidik sasaran dengan tepat, namun lagi-lagi gagal, hingga percobaan kedua, ketiga, dan seterusnya. Hal itu membuat Areta hilang semangat, dan menyerah. Ia meletakkan pistol di atas meja, dan memasang wajah muram.


"Kenapa?"


"Apakah kau tidak melihat? Aku begitu bodoh, Kian!" umpatnya pada diri sendiri.


"Hei... wajar saja, Areta. Kau baru pertama kali melakukannya. Kau bisa mencobanya lagi. Asal kau tahu, butuh empat tahun saat aku pertama kali latihan menembak, hingga aku bisa seperti sekarang ini. Kau tidak perlu khawatir. Kau pasti bisa!"

__ADS_1


Mendengar kata-kata suaminya, membuat Areta semakin patah semangat. Ia beranjak akan pergi dari tempat itu, namun cepat-cepat Kian meraih pergelangan tangan Areta.


"Mau kemana?"


"Pergi, aku kesal."


Kian menarik tangan itu, lalu membawa Areta ke pelukannya.


"Bagaimana jika kita, memproduksi sesuatu?"


"Apa?" Areta penasaran.


"Bayi," sahut Kian singkat.


Pipi Areta memerah seketika tatkala mendengar kata bayi. Ia langsung memukul dada Kian.


"Ini masih pagi, dan kau berkata akan berangkat kerja."


"Nanti setelah ini." Kian menangkup kedua pipi Areta dan langsung mencium bibir Areta dengan penuh semangat. Kali ini entah mengapa untuk pertama kalinya, Areta membalas panggutan Kian, ia melakukannya dengan sangat erotis dan begitu lama hingga mereka tidak sadar jika separuh baju Areta hampir terganggal. Areta tersadar, langsung menghentikan ciuman panas itu.


"Di sini?" tanya Areta polos.


Kian memakaikan baju Areta kembali, lalu menggandeng tangan sang istri menuju tempat peraduan mereka berdua.





Bersambung~


Produksi dulu, 'ya!


Wkwkwkwk


Jangan lupa Vote dan gift. Ini yang tap ❤ udah 800 lebih tapi like 200, komen ngga lebih dari 30 orang. Yang lain kemana 👀

__ADS_1


Pantes aja aku ngga semangat 🤕


__ADS_2