
Mr. Mafia bab 28
Kilatan cahaya muncul di mata Areta tatkala melihat Kian begitu antusias melahap masakan yang dibuat Lyana khusus untuknya, dengan begitu kasar ia pergi dan membanting pintu meninggalkan Kian yang tersenyum penuh ironi melihat istrinya marah, dan kembali menyantap makanannya namun kali ini lebih tenang.
Di luar Areta nelihat Lyana telah membantu para pelayan membersihkan rumah besar ini, entah apa yang sedang ada dipikiran Lyana saat itu.
"Lyana ... apa yang tengah kau lakukan?" tanya Areta ramah. Ia berdiri tepat di belakang gadis itu.
Lyana berbalik badan, raut wajahnya berubah sendu saat mendapati Areta tengah berdiri di belakangnya.
"Maafkan aku Areta, aku hanya tidak terbiasa hidup tanpa bekerja, jadi kuputuskan untuk membantu para pelayan membersihkan rumah ini." Lyana menjawab dengan nada sungkan kepada Areta. Areta sedikit heran, ia berpikir jika Lyana tengah mencari perhatian Kian saat ini, entah apa tujuannya. Hanya Tuhan dan dirinyalah yang tahu itu.
Tiba-tiba Areta dikagetkan suara pekikan Shane yang sudah berada di antara mereka. "Anastasya?!"
Areta dan Lyana langsung menengok ke arah sumber suara tersebut, dan mendapati Shane telah berdiri dan raut wajahnya seolah terkejut melihat kehadiran Lyana.
"Bukan, Tuan." Silda cepat-cepat menyahut, menilik jika Shane juga pasti terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini, Ya ... mereka berdua bagai pinang dibelah menjadi dua, seperti sosok Anastasya telah melekat kuat dan bersemayam pada diri Lyana.
"Dia adalah Lyana, yang baru dibawa oleh Yosiana kemarin," tambahnya lagi.
Shane berbalik badan dan menatap tajam Silda yang sejak tadi memperhatikan mereka. "Benarkah? Mana Kian? Aku ingin berbicara padanya."
"Dia sedang berada di kamarku, kau bisa menemukan dirinya di sana," sahut Areta santai.
Shane pergi meninggalkan mereka dengan pikiran yang penuh tanda tanya, ia sungguh kebingungan dengan apa yang sedang terjadi di rumah ini akhir-akhir ini. Apakah Kian juga akan menikahi wanita itu? Pikiran itu terus berputar-putar di otaknya.
Shane membuka pintu kamar, dan mendapati Kian tengah memegang kepalanya yang terlihat berat karena semalam ia sangat mabuk berat.
"Kian ... kejutan apalagi, ini?" tanya Shane dengan nada penuh penekanan.
Mata Kian langsung menyapu tubuh Shane yang berdiri di ambang pintu dan kemudian ia melangkah masuk, lalu berdiri dengan berkacak pinggan.
"Siapa gadis yang mirip dengan Anastasya di luar?"
Kian mengacak-acak rambutnya karena frustasi, belum reda mabuk yang ia derita, ia juga harus menerima cecaran pertanyaan dari sahabatnya tersebut.
"Entahlah." Kian menghela napas panjang. "Aku juga akan menyelidikinya," imbuhnya lagi.
"Apakah hatimu tergetar dan ingin memilikinya juga, bahkan tidur dengannya?" tanya Shane lagi.
__ADS_1
Kian menatap tajam kedua manik mata Shane yang masih menelisik apa yang terjadi di rumah ini. "Awalnya, tapi aku merasa ada hal aneh saat ini, dan untuk tidur dengannya itu tidak akan terjadi, kau tenang saja. Sejak aku menikah aku belum tidur dengan wanita manapun kecuali dengan istriku!"
"Bagus," jawab Shane singkat.
"Kau baru saja kembali dari jepang? Berita baik apa yang kau bawa?" tanya Kian penasaran, karena sudah satu minggu lamanya sahabatnya itu meninggalkan negara ini untuk mengurus sesuatu di negara itu.
"Semua berjalan sempurna seperti apa yang kau pikirkan, Kian," jawab Shane penuh percaya diri. "Dan aku mengundangmu untuk acara pernikahanku dengan kekasihku," tambahnya lagi.
"Menikah?" tanya Kian ragu.
"Ya ... dengan kekasihku yang berasal dari korea, yang pernah kuceritakan padamu, Kim Sae Rin," jawabnya.
"A–ah ... wanita itu, ya aku ingat."
"Minggu depan kami akan menikah, dan dia akan menetap di negara ini, dia tidak mengetahui pekerjaanku di dunia hitam. Ia hanya tahu jika aku adalah seorang dokter."
Kian sedikit tersenyum kecut mendengar perkataan Shane, karena ia ingat dengan Smith yang juga tidak pernah membongkar jati dirinya kepada orang yang ia cintai.
"Ah ... aku mengerti, baguslah." Kian beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, sebelum ia masuk kamar mandi, ia berbalik badan dan berkata, "Apakah kau masih mau di sini? Ini adalah kamar istriku, keluar dan tunggu aku di ruang kerjaku!" perintah Kian dengan raut wajah menyeringai.
"Ck ... dasar laki-laki pencemburu!" umpat Shane, lalu keluar dari kamar Areta.
***
Mendapat pertanyaan tiba-tiba membuat wanita itu tersentak kaget dan otomatis memegang dadanya sendiri. "Astaga!" Ia seolah benar-benar terkejut dengan kadatangan Kian yang setenang air karena ia tidak mendengar derap kaki melangkah mendekatinya.
"Mengapa kau terkejut?" tanya Kian.
"I–itu karena tiba-tiba Anda berada di belakangku," sanggahnya.
"Oh ... apakah kau melihat Areta?" tanya Kian lagi, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Areta, 'ya? Tadi ia berjalan keluar, Tuan."
Kian lalu melangkahkan kaki keluar dan mencari Areta. Langkahnya terhenti ketika ia melihat taman bunga, ia mendapati Areta telah memetik beberapa tangkai bunga, sementara sebuah meranjang kecil tergantung di lengannya. Karena penasaran, Kian pun menghampiri istrinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kian, menatap serius ke arah Areta.
"Kau sudah selesei makan, masakan dari Lyana?" tanya Areta dengan nada ketus.
__ADS_1
Kian mengangguk, lalu melemparkan pertanyaan kembali, "Apa yang kau lakukan?
"Kau bisa melihat aku sedang apa? Aku sedang memetik bunga untuk kamarku," jawab Areta dengan nada tak kalah ketus.
"Bagus, petik yang banyak, dan hiasi seluruh rumah dengan bunga-bunga segar ini!" perintah Kian tegas, lalu melangkah pergi.
"Apakah dia sedang mencoba mempermainkanku?!" gumam Areta, matanya melotot kesal ke arah Kian yang menjauh darinya.
***
Malam menjelang, semua bunga telah tertata rapi di dalam vas bunga, tak terkecuali di atas meja makan. Areta juga meletakkan beberapa batang bunga di atasnya, Kian yang baru datang tampak tersenyum tipis saat melihat vas bunga tersebut.
Semua makanan telah tersaji di meja, sementara Irene yang baru datang terkejut dengan Lyana yang juga duduk bersama mereka.
"Apa-apaan ini, Kian?"
"Why?" tanya Kian bingung.
"Mengapa dia juga berada satu meja makan dengan kita?" dengus Irene kesal.
"Anggap saja dia adalah calon istriku!" jawab Kian santai.
"Apa?!" Areta dan Irene tampaj terkejut mendengar kalimat dari Kian, yang tampak santai berkelakar.
"Mengapa kalian kaget, ini adalah kerajaanku, ini rumahku, apa salahnya jika aku memiliki dua istri?" tanya Kian.
Lyana hanya menunduk saat Kian mengumumkan perihal keinginannya itu. Sementara Irene menatap sinis ke arah Lyana, ia berpikir seharusnya ia yang menjadi satu-satunya istri dari Kian, bukan Areta apalagi Lyana, menurut pandangan Irene, ia seperti memiliki niat jahay terhadap Kian. Tapi entah apa itu.
Sementara Areta, meskipun ia sedikit terkejut, lalu ia menutupinya dengan merubah raut mukanya menjadi acuh, meskipun hatinya diliputi dengan kekesalan.
•
•
•
Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan beri Vote seiklasnya, agar Mr. Mafia bisa masuk rank novel terbaru.
__ADS_1
Terimakasih dan papay.