Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Masa Lalu Marla dan Addison


__ADS_3

Mr. Mafia 81


"Areta!"


Mendengar suara seseorang memanggilnya, membuat Areta mengerjapkan mata. Ia menatap langit-langit suram kamar ibunya.


'Aku tertidur?'


Batinnya, lalu beranjak keluar kamar untuk menemui orang yang telah memanggil dirinya.


Saat ia keluar, ia telah mendapati Della tetangga sebelah rumah, wanita paruh baya itu adalah teman terbaik semasa ibunya hidup, sehingga membuat Areta begitu menghormatinya.


"Bu Della," sapanya, menatap hangat wanita paruh baya tersebut.


Della langsung berdiri, memeluk erat tubuh Areta yang terlihat tampak segar dan tidak kurus lagi, Della melepaska. Rengkuhannya itu, lalu menatap Areta dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Melihat pakaian yang Areta kenakan, membuat Della manarik napas lega—Areta diperlakukan dengan baik oleh sang suami.


"Apakah kau bahagia?" tanya Della memastikan.


"Ya ... Reta bahagia," jawabnya, ia sedikit kebingungan dengan pertanyaan wanita paruh baya itu.


Mereka duduk bersebelahan di kursi reot berwarna coklat di ruang tamu rumah Areta. Della memindai seisi rumah tua itu, lalu matanya terhenti ketika melihat Areta juga melakukan hal yang sama dengannya.


"Rumah ini sudah tua, dan tidak layak huni," ucap wanita yang sudah berkerut di beberapa sudut wajahnya itu.


Areta mengangguk seolah meng-amini perkataan Della. "Kau pasti sudah hidup bahagia dengan rumah mewah dan hangat, serta orang-orang baik bersamamu," sambungnya.


Kini Areta tidak mengangguk, namun manik matanya langsung manatap teduh Della yang tampak memasang ekspresi sedih.


"Kau juga sudah tidak memerlukan ayahmu, karena suamimu juga terlihat baik dan kaya," imbuh Della.


Seketika Areta mengerutkan kening, dari mana Della tahu—jika ayahnya adalah orang yang kaya raya.


"Juga?" Areta seolah menegaskan ucapan Della.


Della mengangguk lembut, lalu kembali menatap seluruh isi rumah itu kembali.


"Beberapa wakti lalu, Add—dia ke mari, mencarimu. Seperti orang frustasi."


"Ayahku?" tanya Areta penasaran. Dijawab anggukan oleh Della.

__ADS_1


"Tapi karena aku hanya tahu, kau sudah menikah dan tidak tahu di mana rumahmu, aku mengatakan apa yang aku ketahui saja."


Areta terdiam seribu bahasa, mulutnya seperti terkunci.


"Ada gurat kesedihan di matanya, saat ia tahu jika kau sudah tidak berada di sini, terlebih lagi, ketika aku berkata—ibumu telah tiada," ucap Della. "Aku merasa kasihan pada Addison," sambung Della, seolah ingin menceritakan kisah tentang ayah dan ibunya.


"Kasihan, soal?" Areta hanya menjawab sepatah dua patah kata saja.


Della seolah sedang menerawang dan mengais ingatan masa lalunya dahulu.


"Ayahmu, Add. Dia pria yang baik, dia menerima ibumu apa adanya, yang seorang janda tanpa anak. Hingga ia di usir dari rumahnya. Add, adalah anak orang kaya—karena memilih ibumu, ia melepaskan keluarganya."


Areta tampak terbengong-bengong mendengar ucapan Della, karena seumur hidupnya sang ibu tidak pernah menceritakan keburukan atau kebaikan ayahnya, seolah Marla memang ingin mengubur dalam-dalam ingatan soal Addison. Yang Areta tahu, nama ayahnya adalah Addison tanpa tahu latar belakangnya.


"Add lima tahun lebih muda dari ibumu," terangnya. "Saat ibumu hamil tujuh bulan. Karena Addison hanya buruh serabutan, yang gajinya hanya bisa untuk makan sehari-hari—Marla mengusirnya." Ucapan Della membuat Areta seperti tersambar petir. Untuk apa ibunya mengusir ayahnya? Apa salahnya.


"Me–mengusir—" Areta tampak terbata.


"Ya, karena ayahmu tidak bisa memenuhi kebutuhan kalian, dan Marla takut jika, ia dan kau akan menjadi beban untuk ayahmu," ucapnya menceritakan kembali kisah kelam orang tuanya.


"Apakah itu alasan yang tepat untuk Ayahku meninggalkan kami?" tanya Areta.


"Add sudah beberapa kali pulang, tapi ibumu tidak pernah menyambutnya dengan baik, bahkan untuk melihat kau saja, tidak diizinkan oleh ibumu."


"Setelah itu, terakhir kudengar, jika Addison dipenjara karena membantu transaksi obat terlarang, sejak saat itu kami tidak lagi mengetahui kabar ayahmu, dan baru tahu kemarin saat dia datang dan ingin mencarimu," jelas Della.


"A–ayahku ...." Areta tidak sanggup berucap apapun lagi.


"Jika kau menemuinya, atau bertemu dengannya suatu saat nanti, jangan membencinya. Karena ia sudah berusaha ingin membahagiakan ibumu, tapi Marla-lah yang tidak ingin bersatu dengan ayahmu."


Areta terdiam, tidak mampu berkata apapun, air matanya tumpah berlinang membasahi pipinya. Tiba-tiba ingatannya kembali saat ia memperlakukan ayahnya dengan buruk selama ini.


Mungkin memang Addison tampak kejam dan bengis, tapi—ia melakukan itu hanya untuk bertahanan diri sebagai seorang mafia, karena dunia mafia adalah dunia paling kejam, siapa yang tidak kuat. Ia akan tercabik dan terbunuh dengan cara mengenaskan. Seperti halnya Kian, suaminya. Ia adalah pria kejam seperti halnya Addison ayah Areta. Tapi semakin lama ia mengenal Kian, hanya kehangatanlah yang ia rasakan, mungkin Kian tampak suram dengan lawannya, tapi tidak dengan Areta istrinya.


"Semoga kau segera menemukan ayahmu!" Della mengusap punggung Areta. "Oia ... apakah kau dan suamimu sudah makan? Kulihat ia tadi sibuk mencari toko cat," sambungnya lagi.


"Toko cat?" Areta semakin terkejut, ia menghapus air matanya dengan tangannya sendiri. "Untuk apa ia beli cat?" tanya Areta lagi.


Della kembali memindai dalam rumah tua itu lagi. "Mungkin untuk rumah ini, ia ingin membuat rumah ini tampak hidup."

__ADS_1


Tiba-tiba suara mobil datang dan berhenti tepat di depan rumah Areta.


Mobil mewah berwarna hitam yang memang Areta kenal siapa si pemilik benda itu. Tidak lama Kian keluar dengan memakai kaos dan celana pendek, hingga berhasil membuat Areta mengerutkan kening.


'Sejak kapan ia punya baju casual seperti itu? Ia tampak muda ketika memakainya'


Areta membatin, dan menyaksikan Kian yang tampak sibuk membuka bagasi mobilnya, lalu memasukkan ember cat satu persatu.


"Hai." sapanya, dengan napas sedikit terengah-engah.


"Untuk apa? Dan baju siapa yang kau pakai?" tanya Areta heran.


Kian memandangi dirinya sendiri, lalu tersenyum canggung. "Apakah tidak pantas?"


Areta tidak menjawab, namum pandangannya malah tertuju pada beberapa ember cat yang suaminya bawa. "Untuk apa ini semua?"


"Untuk mengecat rumahmu," jawabnya, lalu tiba-tiba ia mendekati Areta, menangkup pipi istrinya dengan lembut. "Kau menangis, mengapa? Siapa yang menyakitimu?"


"Aku tadi menceritakan masa lalu ayah dan ibunya," sahut Della, yang masih duduk di kursi ruang tamu.


Kian menatap nanar wajah sang istri, lalu memeluknya. "Jika kau memang tidak menginginkan ayahmu, aku tidak akan memaksannya."





Bersambung


Hallo, terimakasih selalu menunggu Mr. Mafia. Untuk like, komen positif, dan Vote serta Giftnya.


Bantu share Mr. Mafia, ya.


Follow IG author @Novi_wu01 (Kalau minta folback, DM) 😍


Atau


Add FB Nop Nop

__ADS_1


Terimakasih,


Novi wu


__ADS_2