Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Tidak Menyangka


__ADS_3

Mr. Mafia Bab 45



Kian menyusup masuk ke dalam, dan menatap tajam wajah Areta. Jatung Silda serasa berenti saat Kian telah sampai di depan mata mereka, ia takut bila Kian akan menumpahkan kemarahannya kepada Areta, masih segar diingatannya saat Irene menggugurkan kehamilannya, bahkan Kian hampir menekan pelatuk pistolnya dan memuntahkan seluruh isi otak Irene.


Areta hanya bergeming pancaran bola mata Areta begitu nanar, mengeluarkan gelombang frekuensi penuh kesedihan, hingga tidak terasa air mata mengalir menetes di pipinya.


Kian duduk di tepi ranjang menghapus air mata itu, dan tiba-tiba memeluk Areta. Menenangkan istrinya yang masih lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


"Tidak apa. Kita bisa memiliki anak nanti. Kau bisa hamil lagi, yang terpenting adalah kesehatanmu." Kian berucap lirih, mengelus punggung Areta, hal itu tentu saja membuat Areta nyaman, dan menangis semakin dalam.


Silda yang melihat hal itu, menutup mulutnya dengan satu tangan, ia tidak percaya jika Kian akan berbuat demikian, sejak kemarin ia pikir, mafia itu akan menyiksa bahkan membunuh Areta dan dirinya, hal itu benar-benar ada di luar nalar pikirnya.


Apa yang mendasari seorang Kian Egan berubah lembut? Bagaimana bisa ini terjadi? Apakah mafia itu sudah menjatuhkan hatinya untuk istrinya itu?Atau apa penyebabnya.


Kian melepaskan pelukannya, dan melirik ke arah Silda. "Kau bisa pulang, aku akan menjaga istriku sendiri!" perintahnya.


"Baik, Boss!" jawab Silda tegas. Lalu beranjak pergi, ia sangat lega atas apa yang terjadi pagi ini.


**


"Apa yang terjadi, Kian? Apakah kau tidak naik pesawat itu?" tanya Areta, penasaran.


Kian menangkup tangan Areta, menepuk lembut di punggung tangan mungil tersebut.


"Maaf, jika aku membuatmu khawatir. Hingga kau harus kehilangan calon anak kita, dan juga tidak memberi tahu jika aku pergi bertolak ke negara lain untuk mengurus perluasan pusat perbelanjaan kita. Jadi aku memutuskan untuk membatalkan perjalananku di Lemonilo secara mendadak."


'Pusat perbelanjaan kita? Apa maksud kian? Apakah iya tidak waras'


Areta terus membatin, ia tidak mengerti mengapa Kian mengucapkan hal itu kepada dirinya, apakah ia secara tidak langsung mengakui Areta sebagai istrinya yang sah dan benar-benar akan menjadi satu-satunya? Entahlah hal itu hanya ada dalam otak Kian, yang tidak bisa dibaca oleh manusia biasa seperti Areta.


"Apakah kau membatalkan pekerjaanmu, saat kau mengetahui jika aku keguguran?"


"Bukan aku batalkan, tapi aku tunda."


"Jadi perluasan pusat perbelanjaan bagaimana?"


"Bukan aku batalkan, Nyonya. Tapi aku tunda," dengus Kian, sedikit memberi penekanan kepada nada bicaranya.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar ruangan Areta terbuka, tampak Irene dengan wajah merah dan berlinang air mata menatap ke arah Kian lalu berlari memeluknya.


"Kian, kupikir kau telah ...." Irene tidak melanjutkan kalimatnya, seolah enggan mengatakan hal mengerikan itu.


"Maaf telah membuat kalian khawatir."


Irene melepaskan pelukkannya, dan mengusap air matanya. Ia menatap Areta yang nampak masih baik-baik saja, tanpa ada intimidasi dari Kian.


"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Irene, melirik Kian dan Areta secara bergantian.


Areta mengangguk pelan dan tersenyum kepada Irene. Wanita 29 tahun itu menarik napas lega, lalu kembali berucap, "Syukurlah, kupikir kau akan disakiti oleh Kian, karena kau telah kehilangan bayimu."


"Apakah aku sejahat itu?" tanya Kian penasaran.


"Tidak hanya saja ... ah, sudahlah. Malas aku mengingat masa lalu! Aku lega kalian baik-baik saja. Aku akan pergi berbelanja!" ucap Irene pergi sembari melambaikan tangannya.


"Jangan belanja yang tidak perlu, Irene!" seru Areta.


"Baik ... nyonya!" jawab Irene melambaikan tangan kepada sepasang suami istri tersebut.


Kian menatap bingung ke arah dua wanita tersebut, mafia itu menarik ujung bibirnya tersenyum kecut saat mengetahui jika dua orang yang sering kali bertengkar tiba-tiba berubah menjadi akur dan saling menyapa.


"Sejak dulu!" jawab Areta santai, lalu meraih ponsel di nakas samping tempat tidurnya.


"Baguslah kalau begitu. Aku lega." Kian melepas jas hitam yang sejak tadi ia kenakan lalu berjalan menuju kamar mandi di ujung kamar VVIP tersebut.


"Kau mau kemana?" tanya Areta, seolah seperti seekor kucing yang tidak ingin ditinggalkan oleh induknya.


"Apa aku tidak diperbolehkan untuk mandi atau buang air kecil, Nyonya?" jawab Kian, ada nada menggelitik yang terselip dalam kalimat tersebut.


"Baiklah, kau boleh melakukannya!" Areta kembali menatap layar ponselnya dan tidak mempedulikan apa yang akan dilakukan oleh Kian.


Kian menghela napas panjang, melirik tajam ke arah Areta yang sudah tidak peduli terhadapnya.


***


Mark terus mengikuti Irene yang terus berjalan dengan cepat, di pelataran pusat perbelanjaan dengan menenteng seluruh barang yang Irene beli.


Saat Irene telah sampai di sebuah toko tas mewah, ia berhenti sejenak, kilatan cahaya muncul dari mata Irene, lalu wanita itu masuk ke dalam toko tersebut.

__ADS_1


"Apakah Anda akan belanja lagi, Nona?" tanya Mark yang tampak kewalayahan membawa belanjaan.


"Hem... iya. Apakah kau ada masalah? Tanya Irene sedikit mendengus.


"Tidak, hanya saja. Belanjaan Anda sudah terlalu banyak."


Irene berjalan mendekat ke arah Mark, mendekatkan wajahnya ke wajah laki-laki yang lebih muda darinya itu. Hingga Mark mampu merasakan napas Irene menyapu wajah Mark yang gugup.


"Apakah kau akan menghentikanku, untuk berbelanja? Aku mengajakmu memang untuk membawakan semua barangku!" ucap Irene lirih.


Mark menelan ludah lidahnya sendiri saat wajah Irene begitu dekat dengannya. Mark memang tangan kanan Kian, dia juga tak kalah kejam dari Kian, tapi untuk urusan wanita, ia sama sekali belum berpengalaman. Meskipun bisa dibilang jika ia terbilang laki-laki yang tampan, tapi karena hidupnya didedikasikan untuk bossnya, jangankan menjalin kasih, untuk jatuh cinta saja ia tidak pernah, karena begitu kaku sikapnya.


Setelah puas dengan tas yang ia pilih, Irene keluar dengan memberikan barang kepada Mark. Lalu berjalan layaknya seorang nyonya besar yang sedang di kawal oleh bodyguardnya.


Tiba-tiba langkah Irene terhenti ketika melihat stan es krim warna-warni yang memanjakan matanya. Karena tidak melihat jika Irene berhenti membuat Mark menabrak wanita itu dan menjatuhkan barang-barangnya.


"Apakah matamu tidak melihat?!" dengus Irene kesal.


"Ma–maafkan saya, Nona. Saya tidak melihat jika Anda berhenti berjalan."


"Cepat bereskan!" perintah Irene, lalu ia berjalan ke arah stan es krim tersebut dan memesan dua es krim warna-warni untuknya dan untuk Mark.


Irene menyodorkan es krim kepada Mark yang kedua tangannya di penuhi dengan tas belanja, Mark yang polos nampak bingung, bagaimana ia akan mengambil es krim tersebut, bahkan belanjaan Irene memenuhi pergelangan tangannya.


Dengan terpaksa Irene berjalan sambil membawa dua es krim, sesekali ia menyodorkan es krim itu ke arah mulut Mark, agar ia bisa menjilat dan merasakan es krim tersebut.





Bersambung~


Ada yang setuju Mark sama Irene?


Nantikan bab selanjutnya, ya.


Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen.

__ADS_1


Terimakasih! 💖


__ADS_2