Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kekejaman The Rock


__ADS_3

Mr.Mafia bab 57


Guyuran air membuat Areta tersentak kaget dan seketika tersadar dari pingsannya. Matanya masih tampak berembun tidak bisa melihat dengan sempurna, ia baru menyadari jika tangan dan kakinya telah terikat pada sebuah kursi yang ia duduki. Ia memindai sekitar, dirinya berada di dalam sebuah gudang besar yang tidak tahu entah di mana, baunya tempat itu aneh seperti obat-obatan.


Dari kejauhan ia melihat seorang pria paruh baya tengah memperhatikan Areta dengan saksama. Wanita itu menajamkan penglihatanya agar bisa melihat siapa pria itu, namun hal itu sia-sia, Areta tidak bisa menemukan siapa pria itu. Dia tampak tersenyum sinis melihat Areta yang tampak menatap dirinya dengan tatapan polos. Mulut Areta dibekap oleh kain yang sengaja diikatkan di kepalanya, hingga membuat Areta susah berbicara.


'Siapa dia?'


Areta berucap dalam hati, anehnya ia tidak merasa takut kali ini, tidak seperti waktu ketika ia diculik pertama kali dulu. Kini ia tampak tenang padahal ia tidak tahu jika yang ia hadapi adalah The Rock mafia kejam musuh utama suaminya.


"Hallo ... Nona Aneta!" seru pria itu, tersenyum sinis.


'Aneta? Dia memanggilku Aneta'


Areta terkekeh di dalam hati, rupanya pria itu salah mendapat info jika namanya adalah Aneta. Jadi Areta memutuskan tidak ingin menyebutkan namanya yang sebenarnya.


Mata Areta terus menatap pria itu dengan tatapan menyelidik, namun tetap terkesan santai dan tidak memperlihatkan gurat ketakutan sedikit pun.


"Bagaimana kabarmu? Oh ... aku lupa jika mulutmu sedang terkunci, sebentar aku lepaskan ikatan pada mulutmu!" ucapnya mengejek.


Addison melepaskan ikatan pada mulut Areta, yang sejak tadi membuatnya membisu.


"Selamat datang dikediaman Addison, Nyonya Kian Egan," desis Addison dengan nada merendahkan.


Areta hanya tersenyum menanggapi perkataan dari The Rock.


"Jadi Anda orang yang bernama The Rock?" Areta terkekeh sejenak. Lalu mimik wajahnya berubah serius.


"Anda langsung bisa mencabut nyawa saya jika Anda mau," tutur Areta santai.


Addison tampak tersentak mendengar perkataan Areta yang seolah tidak takut padanya. Matanya memindai dan menatap lekat wajah Areta dengan saksama. Ia seperti mirip dengan seseorang, tapi ia melupakan satu wajah yang mungkin saja pernah bersemayam di hatinya.


"Kau tidak takut padaku?"


Areta mengangkat satu bibirnya, dan berdesis ke arah The Rock. "Asal Anda tahu, Anda menangkap orang yang salah. Aku hanyalah peliharaan Kian, aku bukan wanita yang ia cintai!"


Addison terkekeh, sejenak lalu mengeluarkan pistol dan langsung mengacungkan kepada Areta.

__ADS_1


"Mana mungkin aku salah, kau adalah permata bagi bocah tengik itu, dan kini giliran kau menyusul Pendahulumu, Anastasya yang malang!"


"Lakukan saja, aku tidak takut mati!" perkik Areta.


Addison siap mengarahkan pistolnya kepada Areta dan siap menarik pelatuk untuk melepaskan timah panas pada tubuh Areta.


Dorr....


Suara tembakan menguar dan memekakkan telinga bagi yang mendengarnya, peluru itu tidak mengenai Areta, hanya hampir mengenai kaki Areta, karena tembakan Addison terkenal paling tepat, pun jika ia ingin menembak Areta mungkin akan sangat mudah baginya. Tapi itu tidak ia lakukan hari ini, karena yang ia inginkan hanya memancing Kian untuk datang ke sarangnya.


Areta membuka matanya, dan melirik lantai di sebelah kakinya yang tampak berlubang terkena peluru dari The Rock.


"Anda takut?" Areta terkekeh.


The Rock menghampiri Areta dan mencekik leher Areta hingga Areta terbatuk-batuk hampir kehabisan napas.


"Maaf Nyonya Kian, aku harus mengecewakan Malaikat maut yang akan menjemputmu hari ini, dan aku pastikan tidak akan lama lagi ia akan datang kembali untuk melakukan tugasnya!"


The Rock melepaskan cekikannya dan berjalan keluar meninggalkan Areta, lalu berkata kepada para anak buahnya.


***


Kian kembali dari pekerjaannya, ia tersentak tatkala rumahnya dalam keadaan porak-poranda para pengawalmya banyak yang terluka, ia berjalan masuk. Tujuannya hanya satu, mencari keberadaan Areta, dan melihatnya apakah ia baik-baik saja atau tidak. Napasnya memburu saat ia naik ke lantai dua, ia takut terjadi apa-apa dan hal buruk menimpa istrinya itu. Ia membuka pintu kamar. Kosong... Areta tidak ada di tempat dan jendela balkon kamar itu tampak terbuka lebar, hingga membuat gorden putih tampak melambai di sapu angin laut. Kaki Kian seketika melemas, ia meremas tangannya sendiri, dan keluar mencari istrinya.


"Areta!" pekiknya, namun tetap saja ia tidak menemukan keberadaan wanita itu, hingga Mark memberi kabar yang membuatnya tidak percaya.


"Boss! The Rock datang, dan dia adalah tersangka di balik semua kekacauan ini, dan Nona Areta dibawa olehnya kemungkinan besar ia diculik dan dibawa kembali ke kota Apache." Mark melaporkan kejadian yang ia dapat dari salah satu anak buah Kian yang masih hidup.


Kian gusar, kakinya lemas seolah ia tidak mampu berdiri lagi, ia takut apa yang terjadi kepada Ansatasya akan terjadi kepada Areta.


Seharusnya The Rock berhenti mengganggu hidup Kian. Karena ia sudah menuntut balas atas kematian sahabatnya ditangan ayah Kian dengan kematian Anastasya. Tapi The Rock memang terlalu serakah dan ingin menghancurkan hidup Kian hingga menjadi debu.


"Siapkan kembali pesawat, kita akan pulang malam ini."


Kian memerintahkan semua bawahannya untuk bersiap menghadapi The Rock bahkan kemungkinan terburukpun. Ia hanya ingin menyelamatkan Areta, mendengarnya berada di tangan musuh sungguh amat membuat dadanya terasa sesak dan sakit luar biasa.


'Areta... aku mencintaimu'

__ADS_1


Tanpa sadar Kian mengucapkan kalimat paling terlarang dalam hidupnya, ia lupa jika di dalam surat perjanjian mereka dilarang saling jatuh cinta. Dan kini Kian melanggarnya sendiri atas perjanjian yang ia buat. Ia baru tersadar jika ia mencintai dan membutuhkan Areta saat ia sudah tidak ada di sampingnya.


***


Addison masuk ke dalam rumahnya dan disambut dengan istrinya yang menatap nanar wajah suaminya.


"Apakah kau menyekap istri Kian di gudang pembuatan obat terlarang?" tanyanya gusar.


"Iya.... " sahutnya santai.


"Apakah kau tidak waras, Add?! Dia hanyalah seorang gadis kecil, bagaimana jika itu terjadi kepada anakmu?" sembur Elma, mengingatkan kepada suaminya yang selalu tanpa ampun kepada musuh-musuhnya.


Seketika itu pula Addison menatap tajam istrinya. "Tidak mungkin! Wanita itu bernama Aneta sedangkan anakku bernama Areta, mereka hanya mirip nama satu sama lain!"


"Tapi tetap saja, aku merasa iba kepadanya, Add. Kenapa kau tidak mengurungnya di salah satu kamar rumah ini, itu terlihat lebih manusiawi!" pekik Elma membujuk suaminya.


"Itu terlalu mewah untuk musuhku, semakin gadis itu menderita, akan membuatku semakin bahagia!" desisnya. Lalu ia berjalan kembali meninggalkan Elma yang nampak khawatir dengan keadaan Areta, lalu Addison berbalik badan dan berkata lagi, "Jangan coba-coba kau memberi makan atau minum kepadanya, Elma!"


Elma hanya terdiam mendengar kalimat dari suaminya itu, ia merasa benar-benar tidak tega melihat Addison memperlakukan gadis dua puluh tahun itu yang tampak begitu lemah dengan cara sekejam itu.





Besambung~


Gelay ih... Addison tega sama anaknya!


😭


Hei... hei... kuatkan iman kalian, yes....


Sampai jumpa besok 😗


Papay~

__ADS_1


__ADS_2