Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Salah Paham


__ADS_3

Mr.Mafia bab 44



Langit gelap teresidu oleh rintikan air hujan mewarnai langit di kota Boegenfill saat ini, seolah mereka juga merasakan duka cita amat mendalam yang dirasakan seisi rumah tersebut.


Melihat Areta tergolek lemah tak berdaya di karpet, membuat Silda ketakutan, ia langsung berlari keluar dan mencari bantuan.


"Orang-orang tolong aku, Nona Areta pingsan!" seru Silda dengan nada panik kepada para pelayan yang sedang membersihkan ruangan sekitar kamar Kian.


Semua orang berduyun untuk melihat Areta dan membantu Silda membopong wanita hamil tesebut.


Irene yang mendengar keributan, langsung datang menghampiri Areta di kamarnya, ia harus repot-repot membelah para pelayan yang berkerumun di depan Areta. "Ada apa ini? Dan kenapa kalian berkumpul di sini?!" tanya Irene dengan nada tegas.


"No–nona Areta pingsan, Nona Irene—" jawab Silda terbata, karena sangat takut jika terjadi apa-apa terhadap Areta yang tengah hamil.


"Bukannya memanggil Shane, atau dokter lainnya, kau malah menggenggam tangannya! Memang genggaman tanganmu akan membuatnya lebih baik?! Panggil Shane, segera!" perintah Irene, dengan nada setengah berteriak.


"Ba–baik, Nona—" sahut Silda terus terbata, lalu mengambil ponsel yang ada di sakunya.


Sementara Irene bergegas keluar untuk mengecek keadaan dan perkembangan Kian, dan semua berharap jika Kian akan baik-baik saja.


Berita televisi seantero negeri telah menyiarkan berita tentang jatuhnya pesawat Vagitos air JT-05 yang jatuh di perairan dekat dengan perbatasan Lemonilo.


Semua was-was, semua nampak khawatir. Bahkan tidak sedikit pelayan wanita yang memendam perasaan kepada Kian pun menangis.


'Dimana kau Kian?' tanya Irene dalam hati. 'Istrimu sangat syok dengan ini, semoga kau baik-baik saja'


Irene membatin sembari menggigit kuku tangannya, ia terus berpikir bagaimana dengannya jika Kian tidak bisa selamat.


***


"Kian!!!" Areta terbangun dari pingsannya, lalu menatap linglung ke arah Silda, air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya. "Dimana Kian? Dimana suamiku?" ucap Areta lirih, tiba-tiba ia merasakan sesuatu keluar dari kedua belah pahanya. Areta membuka selimutnya. Darah segar merembes dari sana, Silda menutup mulutnya dan jantungnya hampir lepas karena melihat darah itu.


"Darah?!" Areta kembali terkulai tidak sadarkan diri lagi.


Irene sekali lagi masuk ke dalam kamar Areta untuk mengecek keadaan istri Kian tersebut. "Ada apa ini?" Ia melirik ke arah darah yang ada di depan Areta. " Oh... tidak! Bawa dia ke rumah sakit, sekarang!" teriak Irene.


Semua orang panik, Areta dibopong untuk dibawa ke rumah sakit, semua tampak khawatir kepada Areta, dan juga keberadaan Kian saat ini.


***

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, para tim medis dengan cepat membawa Areta dengan tempat tidur dorong, ia di bawa ke Instalasi Gawat Darurat. Semua dokter yang melihat langsung terjikat, melihat Irene dan Silda membawa Areta yang sedang pingsan.


"Ada apa ini, Nona Irene?" Seorang dokter membawa mengeluarkan sebuah stetoskop di sakunya dan mulai memeriksa Areta.


"Dia sedang hamil, dok. Saya takut jika dia keguguran," jawab Irene.


"Baiklah saya akan membawa nona Areta ke ruang perawatan VVIP agar nona Areta bisa di rawat secara intensif."


Setelah semua siap, seorang dokter ahli kandungan yang memeriksa Areta sebelumnya mulai melakukan tugasnya, mengecek janin dalam kandungan Areta. Ia tampak memasang wajah suram saat itu, lalu menatap Irene dengan menggelengkan kepala pelan.


"Nona Areta kehilangan bayinya," ucap sang Dokter, pasrah.


"Astaga!" Irene membungkam mulutnya sendiri tatkala mengetahui jika Areta keguguran.


'Padahal Kian sangat ingin memiliki anak. Sekarang Areta keguguran lagi, dan bahkan Kian belum juga ditemukan'


Irene terus bergumam di dalam hati, karena sejujurnya meskipun ia tidak menyukai Areta, akan tetapi sebagai wanita ia turut prihatin dengan keadaan istri Kian tersebut.


***


Sementara itu. Di belahan dunia yang lain, Kian berjalan dengan catatan yang ada di depannya dan segera akan menaiki kereta, Mark yang saat itu adalah kaki tangan yang bersama Kian tampak mengekor dari belakang.


"Pesawat yang akan kita tumpangi ke negara Lemonilo mengalami kecelakaan di laut lepas, kurasa orang-orang rumah pasti khawatir, mengira Kita telah ikut serta dalam pesawat tersebut, Boss. Apakah kita harus mengabari mereka, terutama nona Areta?" tanya Mark, mengimbangi cara berjalan Kian.


Rupanya Kian tidak jadi bertolak ke negara Lemonilo, di mana negara itu adalah wilayah sarang mafia. Akan tetapi ia malah bertolak ke negara lain untuk memperluas usaha pusat perbelanjaannya.


Padahal semua orang tampak gusar dan menanti kabar darinya, apakah ia hidup ataukah telah tiada.


***


Areta masih terlelap dalam damai, ia belum tahu jika janinnya telah di angkat. Tiba-tiba suara ponsel Silda berdering, dari sebuah nomor yang sama sekali tidak iya kenal. Iya tampak mengangkat alisnya karena heran.


"Hallo...." Silda berucap sembari menempelkan ponsel di telinganya.


"Silda... apakah kau sedang bersama Areta? Mengapa aku tidak bisa menghubungi ponsel Areta?" tanya Kian dari balik sambungan telepon.


"Tu–tuan Ki–kian—" pekik Silda sambil terbata, otomatis Irene yang sedari tadi menghadap jendela langsung berlari dan merampas ponsel Silda.


"Kian apa kau baik-baik saja?" tanya Irene khawatir.


"Ya... aku baik-baik saja, ada apa Irene? Dan mana Areta?" Kian kembali bertanya kepada Irene.

__ADS_1


"I–itu. Areta keguguran karena syok mendengar kecelakaan pesawat yang kau tumpangi." Irene menjelaskan sembari terbata.


"Apa?!" seru Kian, lalu menutup ponselnya.


Irene tampak lemas, ia menghela napas panjang, ia mesakan jika Kian kini sedang murka karena kehilangan bayinya lagi.


"Ada apa, Nona?" tanya Silda khawatir.


"Sepertinya kita dalam masalah, terutama Areta. Dia akan dapat masalah besar."


Silda terus meremas tangannya karena takut dan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Areta terutama dia yang sudah diberi mandat penuh untuk menjaga istri Kian tersebut.


***


Sementara itu di negara Kian, ia tampak gusar mendengar berita tentang Areta, gurat kemarahan dan khawatir terukir jelas di wajah Kian.


"Mark, siapkan tiket. Kita pulang!" perintah Kian.


"Ta–tapi boss.... "


"Tidak ada tapi, Areta keguguran!"


"Baik boss, saya akan menyiapkan semuanya."


***


Hari telah berganti, suasana rumah sakit masih menjadi pemandangan utama untuk Areta, ia melihat Silda tertidur di atas sofa menunggunya.


"Silda!" Areta berucap lirih memanggil assistant kepercayaan Kian tersebut. Namun alih-alih mendengar Silda malah tetap terlelap tidur.


Tiba-tiba suara pintu terbuka, Kian telah berdiri di ambang pintu menatap istrinya dengan tajam. Areta pun kaget seraya memekik, "Kian!"


Hal tersebut membuat Silda ikut terperanjat dan bangun dari tidurnya.





Bersambung~

__ADS_1


Hayo siapa yang prediksi Kian hilang ingatan? 👀 Ini bukan EpTiPih Kumenangis, yak. Jadi santuy aja, aku ngga akan buat tulisan nyadur Sinetron yang bisa di tebak dengan mudah.


papay~


__ADS_2