
Mr.Mafia 86
Mendengar sang istri dilecehkan, membuat Kian bergitu murka, hingga hampir saja merogoh pistol yang selalu ada, dan terselip di celananya. Rahangnya benar-benar mengetat, matanya merah menyala. Tapi sentuhan lembut dari wanita yang ia cintai, mampu meredam amarahnya—kembali tenang seperti sedia kala.
"Ha-ha-ha ... lihatlah sayang! Tuan Kian marah pada kita, bahkan matanya saja seolah bisa mencabik tubuh kita menjadi potongan kecil-kecil," cibir Nicky, pongah.
"Hah ... dia begitu karena belum merasakan sentuhanku, Sayang!" sahut Rosie tanpa rasa malu, perangainya sungguh tidak sopan, seolah memang dia adalah seorang wanita malam.
Benar-benar pasangan yang menjengkelkan, Addison dan Elma memang tidak bisa mendengar mereka berkata apa, karena sibuk membantu para koki menyiapkan segalanya. Karena keduanya memang benar-benar ingin membuatnya sempurna untuk Areta dan yang lainnya.
"Setidaknya Areta adalah wanita berkelas yang tidak murahan!" potong Irene yang mulai tersulut emosi. Keduanya kini tampak memandang tajam ke arah Irene. "Kenapa kau memandangku seperti itu, Nona Rosie? Aku bisa mengeluarkan isi otakmu dengan satu peluru!" desis Irene lagi. Membuat Rosie yang tidak banyak tahu tentang dunia mafia, lumayan bergidik ngeri.
"Kau menakuti kekasihku, Nona Irene!" hardik Nicky.
"Oh, ya. Tapi kekasihmu hanya terlihat seperti wanita malam, yang hanya bisa kau pakai satu malam setelah itu kau buang," cibir Irene, setengah mendengus.
Hampir saja Nicky berdiri dari tempatnya duduk ketika mendengar ucapan provokatif dari Irene, namun tiba-tiba Kian menggebrak meja dengan pistol tepat di bawah telapak tangannya. Tentu saja Nicky yang hanya mafia kecil di bawah asuhan sang paman, sedikit merasa bergidik saat memandang Kian dengan mata yang merah laksana api yang siap membakar apa yang ada.
"Berani kau buka mulutmu sekali lagi, senjata ini akan mengeluarkan timah panas, dan merangsek masuk mengoyak tenggorokanmu!" desis Kian pelan.
Mendengar ucapan dari Kian, spontan Rosie mengentuh lehernya, hingga tanpa sadar menelan ludahnya sendiri. Sementara Areta hanya tersenyum simpul, dan meraih gelas hendak menuangkan botol wine ke dalam—gelasnya. Namun—
"Sayang, jangan minum Wine!" cegah Kian, memegang tangan Areta dengan cekatan.
"Mengapa?" tanyanya bingung.
"Bagaimana jika kau hamil, karena tadi aku sengaja menanam benihku di rahimmu," ucap Kian dengan wajah super serius, namun menyimpan nada gelitik di setiap rangkaian kata yang ia lontarkan.
__ADS_1
"Apa—" Areta melepaskan pegangan Kian, sembari tersipu malu.
Nicky yang melihat hal itu seketika ingin muntah, hingga ia menjauh dari meja makan meninggalkan Rosie yang duduk mematung karena takut.
***
Setelah makan malam selesai, semuanya tampak menikmati wine di bawah langit gelap malam dengan ditemani suara deburan ombak laut yang menerpa pesiar mereka.
"Sungguh membosankan, bagaimana jika kita bermain truth or dare?" celetuk Nicky, tiba-tiba.
Semuanya saling memandang satu sama lain, tak terkecuali Areta dan Kian, yang memasang wajah datar saja.
"Baiklah, siapa takut!" sahut Addison.
Sebenarnya Kian dan Mark tidak menyukai permainan kanak-kanak seperti ini, disamping membosankan—juga, jika ada yang melihat itu akan merusak citra mereka sebagai mafia besar yang biasa menebas nyawa lawannya tanpa ampun.
"Nah ... Areta!" Nicky sangat girang ketika Areta menjadi korban pertama kejahilannya. "Oke, kau mau truth or dare?" tanyanya lagi.
"Truth!" sahut Areta singkat.
"Oke, siap-siap!" Nicky meremas kedua tangannya seolah sedang menyiapkan pertanyaan pamungkasnya. "Dengan siapa kau pertama kali melakukan bercinta?" tanya Nicky, kemudian terbahak-bahak.
"Pertanyaan macam apa itu!" dengus Kian kesal. "Kau tidak boleh melontarkan pertanyaan sensitif semacam itu!" ucapnya lagi.
"Di bawah kuasa Kian, aku pertama kali di p*rk*sa olehnya!" potong Areta, menunjuk ke arah pria di sampingnya, hingga membuat Kian melotot ke arah istrinya.
"Sayang!" Ia berucap lirih, melirik ke arah Elma dan Addison yang menatapnya serius.
__ADS_1
"Karena aku memilih kejujuran, jadi aku harus jujur." Areta berucap seolah tanpa dosa.
Kian tersenyum masam mendengar pengakuan Areta, ia benar-benar merasa tidak enak dengan pengakuan istrinya—tapi memanglah itu adalah fakta yang sebenarnya.
Nicky terlihat puas karena membuat Kian mati kutu di hadapan paman dan bibinya, pria itu akan menjadi singa ketika berada dalam sarang mafia, tapi ketika bersama istri dan mertuanya, akan akan berubah menjadi kucing anggora yang manis luar biasa.
"Oke kita lanjutkan!" Nicky kembali memutar botol bir kosong, lalu kini giliran Mark yang mendapatkan giliran. "Oke Tuan Mark—" Belum sempat ia Nicky menyelesaikan omonganya, Mark langsung memotongnya, "Truth!"
"Oh, Oke ... Tuan Mark memilih truth, siap-siap! Sejak kapan Anda mencintai istri Anda?" Nicky menatap serius ke arah Mark dan Irene.
"Ah ... apakah harus pertanyaan seperti ini?" tanya Mark canggung.
Nicky mengangguk mengamini pertanyaan Mark.
"Jawab saja Mark!" sela Kian santai, sementara Irene memegang tangan suaminya dengan lembut.
"Se–sejak sepuluh tahun yang lalu—" jawaban ragu namun memang terselip kejujuran di sana, jadi selama ini pria itu telah memendam perasaannya kepada Irene, bahkan ketika istrinya itu masih berada dalam pelukan Kian, ia bahkan dengan sempurna menutupi perasaan dan lukanya sendiri.
Kian benar-benar sangat responsif dengan pernyataan Mark, ia bukan lagi kaget—bahkan kecewa. Mengapa selama ini Mark menutupi perasaannya pada Irene. toh, jika sejak awal ia berkata jujur, pastilah ia akan mendekatkan Irene padanya, tapi Mark memang jago dalam bersandiwara, mungkin jika ia mengikuti ajang piala oscar, ia akan menjadi pemeran terbaik dalam genre menutupi perasaan.
Setali tiga uang, sang istri sendiri juga terkejut bukan main, selama ini pun ia selalu menduga-duga sejak kapan Mark manusia robot itu mencintainya, tapi jawaban itu tidak pernah ia ketahui hingga sampai saat ini, dipermainan ini.
Nicky bertepuk tangan dan tertawa bahagia, tatapannya menyeringai ke arah Kian Egan, rivalnya kali ini.
"Ternyata banyak juga, misteri yang terpendam dalam lautan," ucapnya santai. Kemudian memutar kembali botol sesuai porosnya, dan, seperti yang ditunggu-tunggu semuanya. Kali ini giliran suami Areta yang memdapat jatah pada kesempatan kali ini.
"Oke ... Tuan Kian yang terhormat. Siap?!" seru Nicky, senyuman licik terselip di bibirnya. Kian menatap taja ke arah dirinya bermaksud agar ia tidak melontarkan pertanyaan aneh padanya. Tapi—
__ADS_1
~Bersambung