
Mr.Mafia 58
Elma keluar dari rumah mewahnya menuju gudang belakang, tempat di mana Areta disekap oleh sang suami. Jarak antara rumah dan gudang itu tidak lebih dari dua ratus meter, hingga ia bisa dengan cepat mengaksesnya dengan mudah. Semua penjaga tampak menatap Elma dengan tatapan aneh, karena dari semua area di rumah ini, Elma paling tidak pernah menginjakkan kaki ke sini. Elma memindai area itu dengan teliti. Karena tidak menemukan Areta ia bertanya kepada salah satu anak buah The Rock.
"Di mana suamiku menyekap tawanannya?!" tanyanya dengan suara tegas.
"Di ruang tengah gudang ini, Nyonya." Salah satu anak buah itu menjawab meskipun agak ragu, karena pesan dari The Rock, tidak ada yang boleh menemui Areta kecuali dirinya.
"Antarkan aku!" perintahnya masih mempertahankan ketegasannya.
Sang bawahan pun tidak ada pilihan lain, selain mengantarkan Elma untuk menemui Areta, karena menurut mereka Elma juga tidak kalah menakutkannya dengan The Rock saat ia marah, menjadi istri seorang mafia telah membuat Elma menjadi terkontaminasi oleh sifat sang suami yang bak mesin pembunuh, meskipun tampak dari luar, wanita paruh baya itu terlihat anggun.
***
Suara hentakan sepatu heels membuat Areta terkesiap, ia terjaga dan menyiapkan diri untuk menanti siksaan dari Addison. Masih terasa sakitnya saat pria jahat itu mencekiknya dengan sangat kuat hingga meninggalkan gurat merah di leher putih Areta.
Ia melihat seorang wanita wanita cantik masuk ke ruang penyekapannya, ia menajamkan matanya, untuk mendeteksi siapa wanita itu, namun lagi-lagi Areta tidak mengenalnya, bahkan ia sama sekali belum pernah melihat wanita itu di pesta yang diadakan oleh mafia-mafia.
Areta terdiam dan hanya menatapnya dengan tatapan waspada. Namun hal itu tidak terjadi pada Elma, ia melihat Areta dalam keadaan basah kuyup, dengan tanda merah bersemayam di lehernya bekas cekikan. Ia juga sangat terkejut tatkala menyaksikan jika wajah Areta tampak mirip dengan suaminya dan Marla, istri Addison yang sering ia lihat di dalam sebuah foto.
"Kau tidak apa?" tanyanya lembut.
"Siapa Anda?!" desis Areta.
Ia hanya terdiam saat mendengar ucapan Areta, ia enggan menjawab pertanyaan istri Kian itu. Elma mengusap wajah Areta yang basah, entah karena air yang tadi diguyurkan Addison atau karena keringat yang keluar dari pelipisnya.
"Apa kau lapar dan haus?" tanyanya lagi.
"Tidak ... lebih baik, Anda pergi! Sebelum The Rock sampai ke sini!" perintah Areta, mengusir Elma.
"Kau bersabarlah, aku akan membujuk suamiku!" Elma berucap lembut.
Areta terkekeh mendengar ucapan Elma yang mengatakan jika The Rock adalah suaminya. "Jadi Anda adalah istri pria tua bangka itu! Tidak perlu, Nyonya. Biarkan saja saya mati di sini. Itu akan membuatnya puas dan tidak mengganggu hidup Kian lagi!"
Elma menatap nanar wajah Areta, ia tidak tega melihat wanita muda itu terlihat tampak menyedihkan.
__ADS_1
"Aku akan membujuk suamiku!"
"Tidak perlu, aku sudah terbiasa hidup susah sejak kecil! Ayahku pergi meninggalkanku, hingga ibuku meninggal dalam sepi, setelah itu aku harus dijual kepada mafia dan kegadisanku direnggut paksa hingga dipaksa menikah, jadi untuk hal ini, bukan apa-apa bagiku!" ungkap Areta.
Elma menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak terasa air matanya mengalir, ia yakin jika wanita muda di hadapannya itu adalah anak Addison, karena mereka memiliki kemiripan satu sama lain.
Wanita paruh baya itu meninggalkan Areta dengan air mata yang mengalir deras. Ia menuju ke tempat peraduannya untuk membicarakan sesuatu pada Addison.
**
"Add ... aku yakin jika dia adalah putrimu!" pekik Elma, setelah membuka pintu kamarnya.
Addison menatap istrinya itu dengan tatapan lembut penuh kasih sayang.
"Kau tahu dari mana, Sayang?" Addison menghampiri Elma, menyentuh kedua pundaknya lalu mengusap air mata istrinya tersebut.
"Iya berkata jika, ia telah ditinggalkan ayahnya sejak kecil!"
Addison tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat dari Elma, lalu berjalan ke arah sofa dan duduk, mengambil cerutu menyalakan api untuk membakar ceritu berlapis kertas emas itu, kemudiam menghisapnya kuat-kuat.
Namun Elma bersikeras jika Areta adalah anak dari suaminya dan Marla.
"Coba kau perhatikan wajahnya! Ia sangat mirip denganmu dan Marla, istrimu dulu. Aku bisa merasakannya, Add!"
Addison telah habis kesabarannya, lalu mematikan cerutunya dengan cara menekan di atas asbak, kemudian berkata lantang.
"Omong kosong macam apa ini, Elma?! Lagi pula mengapa kau menemuinya! Sudah jelas bahwa dia adalah musuh kita, otomatis ia akan mengarang cerita hanya untuk menusuk kita dari belakang!"
"Aku tidak bisa menutup mata kali ini, kau pernah membunuh gadis lain, karena dia adalah wanita Kian Egan. Itu sudah cukup bagimu untuk membalas kematian Edward! Tidak perlu ada lagi pertumpahan darah, kau sudah tua. Seharusnya banyak-banyaklah berbuat baik, dan cari anakmu. Agar ia mau memaafkanmu!" sembur Elma, penuh emosi.
Wanita itu keluar dari kamar dengan cara membanting pintu dengan sangat keras menuju dapur. Diikuti Addison yang juga keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana kau, Elma?!" Addison menarik lengan istrinya agar berhenti.
"Lepaskan aku, Add! Aku akan memberinya minum!" seru Elma, dengan nada tinggi.
__ADS_1
Rahang Addison mengetat, matanya memerah seperti api yang siap melahap apa yang ia lihat, dirinya murka melihat sang istri bertingkah tidak wajar, dan memasuki teritorialnya dalam hal dunia gelap, padahal sebelumnya ia tidak pernah mau berurusan dengan hal seremeh ini.
"Cukup, Elma! Aku sudah tidak sabar denganmu. Jika kau ingin aku akan mengeksekusi wanita itu di hadapanmu!"
Mata Elma terbelalak tatkala mendengar perkataan Addison yang akan membunuh Areta di depan matanya.
"Apa kau sudah tidak waras!" pekik Elma, mencoba melepaskan pegangan Addison. Namun sia-sia pria itu benar-benar marah, ia menyeret sang istri untuk pergi ke tempat di mana Areta tersekap.
***
Areta yang mendengar langkah tergesa-gesa mendekat ke arahnya langsung memasang wajah waspada. Ia pasrah jika kali ini Tuhan bebar-benar akan mengutus Malaikatnya mencabut nyawanya menyusul sang ibu. Ia akan merasa senang akan itu, karena ia akan bertemu wanita yang telah melahirkannya meskipun di alam lain.
Addison masuk bersama Elma yang tampak terseok mengikuti langkahnya.
Dengan pistol di tangannya, dan tangan satunya masih mencengkeram tangan Elma, Addison mengacungkan senjatanya tepat di wajah Areta.
"Hentikan, Add!" pekik Elma, memejamkan matanya, ia tahu jika Addison pria tanpa ampun yang mampu mencabut nyawa orang semaunya.
"Orang ini yang telah memprofokasimu! Jadi lebih baik dia pergi selamanya ke neraka agar tidak mengarang cerita yang bukan-bukan!" seru Addison murka.
Areta hanya memejamkan mata, pasrah jika nyawanya akan terlepas dari raganya.
Dorrrr....
•
•
•
Bersambung~
Addison jahara, Gelayyyyy!!!😭
Awas ntar nyesel kalau tahu Areta anakmu!
__ADS_1