Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Perasaan Irene


__ADS_3

Mr. Mafia 71


⚠ mengandung unsur dewasa, tidak disarankan untuk anak di bawah 18 tahun, harap bijak dalam menyikapi bab ini.


Irene menyeruput teh malam itu dengan ditemani dinginnya malam di balkon utama yang langsung menghadap ke pintu gerbang masuk rumah Kian. Ia melakukan hal itu karena sengaja ingin menunggu Mark. Sejak kejadian itu, kejadian di mana ia menampar pipi Mark dengan sangat kasar, lelaki itu enggan berbicara padanya. Entah mengapa ada secuil rasa kehilangan saat Mark menjauh darinya.


Tak lama mobil iring-iringan Kian dan Areta masuk ke area dalam rumah megah itu, sepasang suami istri tersebut tampak turun dari mobil sembari saling memeluk satu sama lain. Tapi anehnya di mata Irene hal itu biasa saja, perasaannya untuk Kian telah mati. Sebagai orang yang selalu menemani Kian seharusnya Irene membenci lelaki itu ketika ia bermesraan dengan wanita lain, tapi kali ini tidak. Irene sangat menikmati kemesraan yang disuguhkan sepasang suami istri yang tengah dimabuk asmara. Hingga gurat senyum, sekilas terukir di sana.


Ketika ia melihat Mark tampak keluar dari mobil kedua, tiba-tiba jantung Irene tampak berdetak cepat, hingga berhasil membuat ia menyentuh dadanya sendiri, untuk memastikam debaran jantung itu.


'Apa ini?'


Irene bergumam dalam hati, ia masih sibuk dengan perasaannya sendiri. Sejak kapan ia mulai merasakan seperti ini saat menatap orang yang paling Kian percaya itu. Wanita itupun berlari ke dalam kamarnya sendiri, untuk menenangkan diri, dan membohongi perasaannya sendiri. Irene memaksa untuk memejamkan matanya agar bisa melupakan debaran perasaan yang ia rasakan.


Namun entah mengapa saat tengah malam, ia terbangun. Dirinya melirik ke arah jam di sisi kanan kamarnya, waktu telah menunjukan pukul satu malam. Anehnya perasaan itu masih ada di hatinya dan sekali lagi, ia menyentuk dadanya dengan kedua tangan.


'Tenanglah Irene!'


Wanita itu mencoba menenangkan hatinya sendiri, ia tidak mau berlarut dalam perasaan ini. Namun anehnya batinnya sungguh menolaknya. Irene menyibakkan selimut tebal berwarna putih yang sejak tadi membungkus tubuhnya agar dinginnya malam tidak menusuk tulangnya. Ia keluar kamar hanya menggunakan baju tidur warna hitam dengan potongan rendah di atas lututnya yang indah.


Namun anehnya di alam bawah sadar Irene, pikirannya menuntun langkahnya menuju suatu kamar tak jauh dari deret kamarnya. Ia membuka daun pintu kamar itu dengan perlahan.


Ceklek....


Dengan cara mengendap ia masuk, ia mengedarkan pandangannya dan memindai seluruh isi ruangan yang tampak gelap tersebut, ia benar-benar tidak bisa melihat apapun itu, yang mencakup indera penglihatannya hanyalah kegelapan. Namun Tiba-tiba....


Brukkkkk....


Suara tubuh terjatuh, seseorang menangkap Irene, meringkusnya dan mengunci tangannya hingga ia tidak berdaya dan tergeletak di lantai, lalu orang itu mengangkat tubuh Irene dan menghempaskannya di atas tepat tidur. Kemudian ia menyalakan lampu tidur yang terdapat pada nakas. Seketika ia menubruk tubuh Irene hingga wajah mereka saling sejajar.


Meskipun hanya diterangi oleh lampu tidur yang tampak remang, namun hal itu tidak membuat penglihatan mereka kabur, Irene bisa melihat dengan jelas jika Mark saat ini berada di atas tubuhnya.


Sejenak mereka saling pandang satu sama lain, entah setan apa yang merasuki tubuh Mark, ia mendekatkan bibirnya ke arah bibir Irene, hampir saja saling menyentuh. Mark tersadar dan akan melepaskan Irene, dan ingin bangkit dari posisi itu. Namun dengan cepat Irene menarik baju Mark dan membuatnya jatuh pada posisi semula.

__ADS_1


"Apakah aku semenyedihkan itu, hingga kau tidak ingin menyentuhku?" desis Irene, perlahan tepat di telinga Mark.


Raut wajah Mark yang tampak dingin seketika berubah hangat, ia menatap mata Irene hingga lebih dalam, lalu penglihatannya turun dan berhenti tepat di bibir wanita di hadapannya itu.


Mark mendekatkan dirinya, membenamkan diri hingga bibir mereka saling menyatu, lidahnya menari-nari di dalam rongga mulut Irene, wanita itupun tidak mau tinggal diam Ia semakin memeluk tengkuk Mark, dan melakukan hal yang sama dengan lelaki itu. Mereka saling mencercap dan mengesap hingga saling bertukar saliva. Suara bibir saling beradu pun tampak begitu mudah mereka dengar dari terlinga mereka masing-masing. Tangan Mark mulai bermain-main dan berani menyusup ke dalam rok milik Irene hingga memainkan Area sensitif wanita itu, hingga desisan lembut keluar dari mulut Irene.


Mendengar suara keluar dari bibir Irene membuat Mark semakin terpacu dan masuk ke dalam kain segitiga milik Irene. Ia bermain-main di sana, hingga merasakan sesuatu yang basah mengenai tangannya.


Mark tersadar dan beranjak dari atas Irene, ia menyalakan lampu kamarnya, dan memindai tubuh cantik Irene sedang tergeletak di atas tempat tidurnya dengan baju yang hampir terbuka. Mark memijit pelipisnya karena frustasi. Bagaimana bisa ia memperlakukan kekasih Kian seperti itu. Mark sungguh sangat merasa berdosa. Sementara Irene mulai bangun dan terduduk, ia merapikan baju tidurnya yang tampak sedikit berantakan.


"Untuk apa Anda berada di sini, Nona?" Suara berat tampak keluar dari mulut Mark, dengan raut wajah dinginnya.


Irene tampak salah tingkah, ia menatap ke kanan dan ke kiri, lalu berdiri.


"Sepertinya aku mendapat somnabulisme, hingga aku berjalan hingga kemari." Irene menjawab seadaanya, terselip nada canggung di sana.


Penyakit tidur berjalan atau somnabulisme adalah kondisi saat seseorang bangun,berjalan, atau melakukan berbagai kegiatan dalam keadaan tidur. Walaupun bisa dialami oleh setiap orang, kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak.


Irene bangkit dan berjalan perlahan keluar dari kamar Mark, tidak bisa di pungkiri jantungnya kembali berdetak. Hampir saja ia bercinta dengan orang kepercayaan Kian tersebut.


"Bodoh... bodoh!" ucapnya lirih.


Ia berjalan cepat menuju kamarnya, lalu masuk dan membenamkan tubuhnya di tempat tidur, ia kembali mengenakan selimut, dan menutup wajahnya sendiri.


"Bodoh... bodoh! Mengapa kau harus berjalan ke sana dan mempermalukan dirimu sendiri, Irene!" ucapnya, sesekali memejamkan mata karena malu.


***


Pagi menjelang, Areta, Kian, dan Irene tampak sarapan bersama di satu meja makan, Irene tidak berani menatap mata Mark yang berdiri tepat di belakanya, mereka tampak terlihat canggung satu sama lain, hingga membuat Areta dan Kian tampak tersadar dengan ketidak beresan antara mereka. Areta menyuapi Kian dengan potongan daging dari piringnya, dengan mata melirik ke arah Irene.


"Hmmm... apakah ada sesuatu yang salah diantara kalian berdua?" tanya Areta menyelidik.


"Iya... aku juga bisa merasakan admosfir aneh di meja makan ini," ucap Kian memastikan, sembari melirik mata istrinya yang memperhatikan Irene dan Mark.

__ADS_1


"Ti–tidak, aku tidak melakukan kesalahan apapun—" Irene tampak terbata.


Areta menajamkam matanya, menatap laki-laki dan perempuan yang tampak canggung itu.


"Kian, apakah kau merasakan ada yang aneh?" tanya Areta berniat menggoda, sesekali ia menyuapi Kian dengan daging dari piringnya.


"Ya... aku merasakannya." Kian mendukung sang istri untuk menggoda Irene dan Mark.


Irene membanting garpu dan pisau makannya, lalu hendak bergegas pergi.


"Ini tidak lucu!" dengusnya kesal.





Bersambung~


Ada yang jatuh cinta, Gaes....


Oke sambil nunggu si Mafia update.


Kalian bisa tengok salah satu novel rekomendasi dari aku.


Judul


Menikah Karena Janji


Author Edi Suheri.


Luv,

__ADS_1


Novi Wu—


__ADS_2