Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Kebencian Areta


__ADS_3

Mr.Mafia bab 49


Areta meringis kesakitan, ketika pipinya ditempel di tembok oleh wanita misterius tersebut.


"Lepaskan aku! Kau tidak tahu, jika aku adalah nyonya rumah ini?!" seru Areta dengan nada tinggi.


Tiba-tiba pintu ruang kerja Kian terbuka, dua mafia tampan keluar dari sana karena mendengar ribut-ribut di luar.


"Ada apa ini?" tanya Kian, matanya menyambar keadaan Areta yang tengah terjepit di dinding. "Andrea! Lepaskan dia! Dia adalah Areta!" pekik Kian, meraih tangan Andrea agar melepaskan pistolnya.


Andrea langsung melonggorkan pegangannya kepada Areta, dan langsung melepaskan istri Kian tersebut.


"Mengapa kau memperlakukan istriku seperti ini?" Kian bertanya dengan tatapan menyelidik kepada Andrea.


"Kupikir dia adalah mata-mata," jawabnya seolah pura-pura bodoh. Hal itu tentu saja membuat Areta marah karena diperlakukan seperti penjahat di rumahnya sendiri.


"Kian ... temanmu ini sangat aneh, mana ada mata-mata di rumah ini, dan dia mencurigaiku! Sungguh ironi!" dengus Areta.


Mata Areta menatap tajam wajah Andrea yang seolah tanpa dosa telah memperlakukan Areta seperti itu.


"Kau mau dia pergi, atau aku yang pergi!" seru Areta dengan nada penuh penekanan. Mata Andrea yang sedari tadi menganggap remeh Areta sebagai gadis kecil, langsung menyambar istri Kian tersebut.


"Kau siapa berani memerintahkan Kian?!" Jari telunjuk Andrea langsung mengacung ke arah wajah Areta.


"Aku Areta Marla, Istri dari Kian Egan!" Areta berdesis, rahangnya mengetat dan matanya memicing ke arah Andrea yang juga seolah ingin menerkam Areta.


"Cukup!" Kian berseru, melerai adu mulut antara sahabatnya dan sang istri, sementara Shane tidak mau ambil pusing, ia hanya menyaksikan adegan itu seolah sedang melihat syuting drama secara langsung.


"Tidak ada yang akan pergi dari sini!" ucap Kian lagi.


Areta langsung mendekatkan diri kepada Kian. Lalu berucap lembut namun mampu menciptakan teror bagi Kian.


"Malaikat maut sudah beberapa kali mengincar nyawaku, namun aku dapat lolos lagi dan lagi. Sekarang kematian bukan lagi hal yang aku takutkan. Jika kau tidak ingin mengusir wanita tidak tahu tata krama seperti dia, lebih baik aku yang angkat kaki!"


Areta beranjak pergi, meninggalkan Kian yang tampak terpaku menatap sang istri yang seolah berubah menjadi singa pemarah, yang siap menerkam siapa saja. Shane pun juga tampak terkesima karena Areta mampu memprofokasi Andrea sebagai mafia wanita paling ditakuti di dunia hitam tersebut.


Areta berjalan bukan ke kamar Kian tetapi ia turun ke bawah untuk menuju kamar tidurnya sendiri. Karena sangat marah ia enggan untuk melihat Kian bahkan menatapnya di kala terlelap sekalipun.

__ADS_1


***


Pagi harinya seperti biasa Areta mulai memetik bunga-bunga, hobi yang ia tinggalkan selama beberapa minggu ini, ia melirik ke arah balkon yang menghadap langsung ke arah taman bunga tersebut, ia melihat Kian dan Andrea sedang bersantai menikmati teh seolah seperti tuan dan nyonya besar di rumah ini.


'Ternyata mafia itu belum menyingkirkan wanita itu dari pandanganku, oke kalau kau menantangku, Kian! Aku akan bermain-main denganmu!'


Areta menggerutu di dalam hati sembari sesekali melirik ke arah mereka berdua dengan tangan mengepal, hatinya panas ketika melihat mereka berdua, perasaan aneh itu membuat Areta marah dan ingin sekali mencabik-cabik wajah Andrea yang menjengkelkan untuknya. Entah sejak kapan Areta berubah menjadi wanita bar-bar ketika seseorang mengusik hidupnya. Mungkinkah ia telah tertular dengan suaminya dari gadis polos berubah menjadi wanita bengis.


Dari kejauhan Irene tampak mendekat dan berjalan ke arah Areta, wanita itu merampas bunga yang sejak tadi dipegang oleh Areta.


"Kau harus bersabar, Areta. Dan tentunya kau harus hati-hati menghadapi singa betina itu," bisik Irene, yang seolah sudah berdamai dengan Areta.


Areta menatap Irene dengan tatapan aneh, mengapa ia sangat membenci Andrea dan memintanya untuk berhati-hati. Setelah Irene menceritakan semua kejahatan Andrea terhadapnya, hal itu membuat Areta semakin membenci wanita tersebut dan benar-benar ingin menghancurkannya.


Areta kembali melemparkan pandangannya sinis kepada mereka berdua, Kian tidak mau mendengarkannya dan lebih memilih Andrea untuk tetap tinggal di rumah ini. Ia terus mengutuk di dalam hati.


***


Areta pergi menuju ke area menembak di mana semua bawahan Kian selalu melakukan latihan untuk menjadi penembak-penembak jitu yang siap memuntahkan timah panas kepada musuh hanya dengan sekali tarikan pelatuk.


Ia melihat Mark yang juga sedang berlatih dengan serius, Areta menghampiri Mark yang tampak serius dengan senapannya.


"Siap nona Areta, apa yang bisa saya bantu!" jawabnya dengan nada tegas.


"Aku ingin latihan menembak." Ucapan Areta seketika membuat mata Mark terbelalak, sejak kapan gadis kecil ini memiliki keberanian untuk memegang senjata, padahal beberapa bulan yang lalu ia hanya seorang wanita rapuh yang penuh ketakutan, tapi kini ia telah berubah. Hal itu membuat Mark sedikit bertanya-tanya.


"Untuk apa nona ingin berlatih menembak? Bukankah sudah cukup menjadi seorang nyonya rumah yang anggun dan berwibawa?"


"Aku ingin menghancurkan musuh yang mencoba menghalangi jalanku!" dengus Areta, dari nada bicaranya wanita itu sangat menyimpan rasa kemarahan yang amat dalam.


"Baiklah nona. Aku akan mencoba mengajarimu latihan menembak yang benar," jawab Mark dengan nada sungkan.


Mark memberikan pistol kepada Areta, dan mulai mengarahkan dirinya untuk membidik target dengan tepat, namun karena belum terbiasa dengan senjata api, Areta tampak gemetar, hal itu membuat Mark mau tak mau mencoba membimbing tangan Areta sehingga membuat mereka saling berdekatan satu sama lain.


Tiba-tiba....


"Jaga batasanmu,Mark!" seru seorang laki-laki, tentu saja lelaki itu adalah Kian Egan, orang paling di takuti di rumah ini, ia menjauhkan tubuh Mark yang hampir menempel pada Areta.

__ADS_1


"Ma–maafkan saya, Boss. Saya memang pantas mati!" pekik Mark dengan suara bergetar.


"Kau mau isi kepalamu terburai, Mark!"


Areta yang melihat Mark yang ketakutan langsung bertindak tegas. Dan mencoba meredam amarah Kian.


"Kau tidak berhak mencegahku, Kian!" sabut Areta.


Manik mata Kian langsung menoleh ke arah Areta yang melotot kepada dirinya.


"Maksudmu?!"


"Mark hanya mencoba mengajariku cara menembak!"


"Sejak kapan kau tertarik dengan tembak menembak?"


"Sejak aku ingin membunuh seseorang!" Mata Areta langsung menyambar diri Andrea yang sejak tadi berdiri di samping Kian.


Kian langsung mengikuti dan menatap Andrea yang tampak tak acuh itu.


"Aku bisa mengajarimu secara pribadi, Areta."


"Tidak perlu, aku sudah tidak berselera bermain-main denganmu!"


Areta langsung pergi meninggalkan mereka bertiga, tanpa permisi.





Bersambung~


Wanita akan terusik jika miliknya diusik~


Jangan lupa Vote, gift, like, dan komen.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2