Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Sebuah Ancaman


__ADS_3

Mr.Mafia Bab 50


Kian mengikuti langkah kaki Areta yang mulai berjalan menjauh dari tempat mereka berdiri tadi, dengan cekatan Kian menyentuh pundak Areta, membalikkan tubuh Areta dengan begitu kasar.


"Apakah kau sedang marah padaku, dan sedang menunjukkan kuasamu atas rumah ini?" tanya Kian dengan tatapan menyelidik.


Areta memilih bergeming dan menghempaskan tangan Kian yang menempel pada pundaknya. Namun sekali lagi usaha Areta sia-sia, ia bahkan kalah kekuatan dengan si mafia bengis tersebut, dan kembali berbalik badan karena tangan kekar Kian berhasil melakukannya lagi. Kali ini Kian memegang pundak Areta supaya ia tidak bisa lolos lagi.


"Jawab pertanyaanku!" dengus Kian, mulai kesal.


"Kau ingin jawaban apa? Kalau aku berkata iya, tentang apa yang kau tanyakan?"


Kian menarik napas panjang, lalu merangkul tubuh istrinya dengan kuat bertujuan agar Areta tidak bisa meronta.


"Bantu aku berpakaian, aku akan berangkat kerja!" perintahnya sembari berjalan.


"Bukankah kau ada Andrea? Wanita yang paling kau sayangi? Mengapa harus aku?"


Tiba-tiba Kian menangkup kedua pipi Areta, mendaratkan ciuman di mulut istrinya dengan lidah menari-nari di mulut Areta sehingga wanita itu tidak bisa bernapas karena terkejut. Sementara para bawahan Kian yang menyaksikan adegan itu tampak menunduk karena enggan melihat adegan drama romantis yang dipertontonkan oleh Kian dan Areta.


Areta memberonta dengan memukul-mukul dada Kian, ia benar-benar kehabisan napas, sebelum oksigen Areta benar-benar habis Kian melepaskan panggutannya. Dan membuat Areta menarik udara panjang untuk mengisi oksegen dalam paru-parunya.


"Apakah kau tidak waras?" teriak Areta dengan mata memicing. "Kau bisa lihat di sini banyak orang? Dimana urat malumu, Kian!"


Namun mafia tersebut hanya menyendikkan bahunya dan berjalan terlebih dahulu, ia tampak tersenyum sesaat ketika melihat tingkah Areta yang menurutnya lucu.



Andrea merampas pistol yang dipegang oleh Mark. Dan mencoba membidik target dengan tepat, seperti biasa Andrea dengan tanpa beban menembak begitu mudah dan tepat sasaran. Kemampuannya dengan senjata api memang tidak bisa dianggap remeh, ia tampak tersenyum sinis, lalu melemparkan pandangan kepada Mark yang berdiri mematung di sebelah Andrea.


"Mark ... kau ternyata tidak berubah, dan masih saja menjadi robot hidup bagi Kian," ucapnya sembari sekali lagi membidik sasarannya.


Mark tersenyum namun tetap dengan raut wajah dingin dan tidak bersahabatnya. "Itu adalah tugas saya, Nona. Menjaga boss Kian, nona Irene dan nona Areta."


Andrea menatap mata Mark dengan saksama, ia mendekat ke arah tangan kanan Kian tersebut. "Apakah kau pikir aku adalah sebuah ancaman untuk Kian?" Andrea berucap sinis dengan pistol mengacung ke dada Mark yang berdiri mematung.


"Saya tidak bicara demikian," sahut Mark singkat.


"Lalu? Kau masih mempermasalahkan masalah Irene yang menggugurkan kandungannya?" Andrea berucap geram.

__ADS_1


"Anda bisa instropeksi diri, Nona! Dan saya undur diri." Mark pergi meninggalkan Andrea yang masih murka terhadap perkataan Mark yang mencoba memprofokasi dirinya.



Areta menyiapkan pakaian Kian dengan wajah muram, meskipun mata Kian menatap layar ponsel, ia tahu betul bahwa istrinya kali ini sedang tidak bersahabat.


'Mengapa ia terus marah, padahal aku tidak sedang mengganggunya, ataukan lebih baik aku mengganggunya?'


Kian berucap dalam hati, ia masih memperhatikan Areta yang terus berbolak-balik karena begitu sibuknya.


"Apakah kau tidak ingin mandi, Kian? Atau kau ingin aku yang memandikanmu?" tanya Areta dengan nada ketus.


Kian beranjak dari tempat ia duduk, mendekat ke arah sang istri yang berdiri dengan bersedekap memasang wajah cemberut seolah bibirnya dengan mudah dapat dikucir.


Kian menyentuh pipi Areta dengan lembut.


"Apakah kau sedang datang bulan? Kita sudah lama tidak melakukan ritual suami istri, bagaimana kalau sebelum aku berangkat kita melakukannya terlebih dahulu."


"Bermimpi saja kau, mafia!" Areta menepis tangan Kian dengan begitu kasarnya dan menghindar.


Kian sudah benar-benar habis kesabaran melihat sikap Areta, ingin rasanya ia memukul atau menampar istrinya itu, namun ada penolakan di dalam hatinya untuk tidak bersikap kasar meskipun wanita ini sangat menjengkelkan untuknya.


Areta memicingkan mata ke arah Kian, ia menarik napas panjang untuk menyampaikan aspirasi di dalam hatinya.


"Aku ingin kau mengusir Andrea!"


"Aku tidak bisa!" teriak Kian, dengan nada geram.


"Kenapa? Apakah sebegitu pentingnya ia, sehingga kau perlu menjaga hatinya? Apakah kau buta? Aku mendengar desas-desus jika ia yang membuat Irene menggugurkan kandungannya!"


"Ya, aku tahu!" Ucapan Kian seketika membuat Areta terpaku, jika Kian tahu untuk apa ia marah dan memperlakukan Irene dengan tidak baik.


"Jika kau tahu, lalu mengapa kau memperlakukan Irene seperti itu?!"


"Dengan ia tetap tinggal di sini, itu berarti aku sudah memaafkannya, meskipun aku tidak ingin lagi menyentuhnya."


Areta terus mencoba memprofokasi suaminya itu, agar lebih bisa berpikir logis.


"Ini tidak adil untuk Irene, Kian! Bagaimana jika itu terjadi padaku? Kau akan mengacuhkanku seumur hidup?!"

__ADS_1


"Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


Areta terperana dengan ucapan Kian, apakah pernyataan itu berati secara tidak langsung jika Kian menyiratkan bahwa ia istri sah dan satu-satunya Kian.


"Kau di sini sebagai pasanganku, jadi mau tidak mau aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku, tetap berhati-hati dengan tidakanmu, Areta!"



Meja makan yang biasanya di diami oleh tiga orang, kini di tambah Andrea hingga menjadi empat orang. Tidak seperti biasa Mark yang tidak pernah ikut serta saat acara makan, kali ini ia memutuskan untuk berdiri di belakan Irene, dengan tatapan lurus ke depan.


Kian menyangkat alis saat melihat Mark seolah sedang menjaga Irene.


"Apakah kau tidak ingin sarapan, Mark?" tanya Kian memecah keheningan.


Manik mata Mark langsung menyambar wajah Kian yang menatapnya dengan tatapan aneh. Mark menyadari itu, dan berkata akan menjaga Irene.


"Saya berdiri di sini untuk nona Irene."


Kian melirik ke arah Areta, Irene yang sedang menyantap makanan di depannya.


"Apakah ada bahaya di sini?" tanya Kian lagi.


"Tidak, boss. Saya hanya mengantisipasi."


Kian mengangguk pelan namun dengan pikiran yang masih penuh dengan tanda tanya.


"Kau bisa duduk bersama kami!" pungkas Kian yang membuat Irene dan Andrea menatap Kian secara bersamaan, beda halnya dengan Areta yang tampak acuh dengan ucapan Kian tersebut.


"Sejak kapan bawahanmu bisa makan bersama denganmu, Kian?!" pekik Andrea.


"Sejak aku menjadi istri Kian, apakah kau tahu aku adalah pelayan yang dinikahi Kian?" sahut Areta tidak ingin kalah.





Besambung~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan giftnya yah 🤭


__ADS_2