
Mr. Mafia 18
Jangan lupa tekan 👍 tap ❤ untuk mendapat notif jika Mr. mafia update, tinggalkan kesan di kolom komentar 💬 dan jangan lupa Vote seiklasnya 💌
Kian terus membanting ponselnya hingga benda itu jatuh kelantai dan pecah berantakan.
"Kurang ajar, Aaron! Berani-beraninya dia menculik peliharaanku!" seru Kian, hatinya di selimuti kemarahan ketika mengetahui jika Areta berada di tangan mantan anak buahnya yang menghianatinya dengan The Rock, musuh besarnya.
"Aaron sekarang bekerja untuk The Rock setelah memulihkkan traumanya, Boss," jelas Mark.
Kian mondar-mandir mencari cara agar bisa membawa Areta kembali kepadanya.
"Kau sudah melacak nomor ponselnya?" tanya Kian serius.
"Ya ... kami sudah melacak keberadaannya, Boss."
Kian mencoba tenang, namun itu sangat melawan nuraninya, jujur saja ia sangat khawatir jika Areta di perlakukan tidak pantas oleh Aaron atau mungkin anak buahnya, mengingat kebencian Aaron pada dirinya, ditambah lagi tadi ia berkata bahwa Areta bukanlah hal terpenting dalam hidupnya.
Sambil duduk Kian terus menggoyangkan kakinya menunggu berita dari anak buahnya yang sedang melacak keberadaan Aaron.
"Boss!"
Kian beranjak dari duduknya dan langsung mendekat ke arah layar komputer yang ada di depan salah satu anak buahnya.
"Aaron menyembunyikan Nona Areta disalah satu gudang tua di Kawasan Indutri Mesmetro," jelas sang bawahan.
Kian langsung beranjak pergi dan keluar dari rumah sakit tersebut dengan mobilnya menuju gudang yang dimaksud, seorang diri.
Sementara Mark dan anak buahnya yang lain menjaga jarak namun tetap mengikuti Kian yang gusar dan tampak murka itu.
***
Aaron menatap tubuh Areta dengan saksama ketika ia mendengar jika gadis di hadapannya ini bukanlah orang terpenting Kian, ia tampak mengatupkan giginya dan menyentuh janggutnya seraya berpikir.
__ADS_1
wanita muda ini adalah istrinya, bagaimana bisa dia bukan orang terpenting dari hidup pria bengis itu, dan dia menyebutnya dengan sebutan peliharaan. Sungguh menyedihkan nasip gadis ini.
"Jika Kian tidak menginginkanmu, aku bisa membahagiakanmu, gadis kecil!" ucapnya santai, raut wajahnya berubah menjadi aneh, seolah ia ingin melahap Areta mentah-mentah.
Mata gadis itu terbelalak ketakutan, tangan Aaron, pria yang seharusnya bisa menjadi ayahnya itu mulai menari-nari dan menyapu tangan mulus Areta, dengan mulut tersumpal gadis itu berteriak dengan susah payah untuk meminta pertolongan, tapi tentu saja teriakan Areta hanya menyisakan kesia-siaan untuknya, karena gudang ini terpencil dan di jaga oleh anak buah Aaron.
Dorr ... dorrr ....
Suara tembakan secara membabi buta, membuyarkan keinginan Aaron saat ingin mel*mat bibir ranum Areta. Pria baruh baya itu memasang sikap waspada dan mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Areta.
Saat sosok di balik siluet cahaya itu masuk, sayup-sayup Areta bisa menangkap bentuk tubuh dari seorang pria itu telah berdiri tak jauh darinya.
"Aaron ... aku telah datang seorang diri sesuai permintaanmu!" seru laki-laki itu dengan nada tinggi.
"Ka–kau benar-benar datang? Bu–bukankah kau berkelakar jika gadis ini adalah peliharaanmu—" kata Aaron bergetar.
"Ya ... dia adalah peliharaanku, maka dari itu, tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali aku!" teriaknya lagi. "Mengapa suaramu bergetar?" tanyanya lagi dengan terkekeh.
"Tidak ... aku tidak takut padamu, Kian!" serunya membunuh rasa takutnya kepada Kian, ia tahu betul tabiat pria yang sering di sapa mesin pembunuh itu, jika ia tertangkap olehnya sekali lagi, bisa saja tubuhnya akan habis di cincang dan di berikan kepada anjing-anjingnya yang lapar.
"Tidak!" Aaron masih menempelkan pistolnya ke arah kepala gadis malang itu.
"Baiklah jika itu maumu, Aaron!" Kian mengarahkan pistolnya kepada laki-laki setengah baya itu. Areta yang menyaksikan hal itu ikut bergetar, bagaimana jika timah panas itu bukan menuju ke arah Aaron tapi malah mengenai kepalanya.
Areta terpejam ketika Kian memuntahkan satu peluru ke arah Aaron, dan tepat mengenai punggung tangan Aaron, seketika pria itu menjatuhkan pistolnya dan berteriak kesakitan.
Kian dengan langkah santai maju ke arah mereka berdua dan menembak Aaron dengan serampangan hingga menghambiskan peluru di dalam pistolnya, lalu membuang pistol itu begitu saja, setelah ia yakin jika Aaron telah meregang nyawa.
Manik mata Areta menyapu sosok yang mulai terlihat dengan jelas, sebenarnya ia bisa mengebali suara laki-laki itu, tapi dia tidak ingin berandai-andai apakah ia Kian atau tidak, karena Areta menggap bahwa dirinya bukanlah seorang yang penting itu Kian. Namun Areta masih bisa bernapas lega karena Kian menyelamatkannya, walaupun akhirnya ia juga harus kembali ke mulut mafia itu.
Kian tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah gadisnya itu, kemudian ia melepaskan satu persatu tali yang mengikat kaki dan tangan Areta.
Namun Kian tidak menyadari jika Aaron masih hidup dan meraih pistol yang ada di dekatnya, dengan posisi terlentang. Aaron mengarahkan senjata api tersebut ke punggung Kian, dan—
__ADS_1
Dorrrr ....
Kian tertembak tepat di bahu kirinya, Areta berteriak karena kaget melihat laki-laki di hadapannya itu terkena tembak.
"Kian!" teriaknya.
Dengan sekuat tenaga menahan rasa sakitnya mafia itu merampas senjata Aaron, namun sekali lagi pria paruh baya itu kembali memuntahkan timah panah hingga mengenai perut Kian.
Tubuh Kian tersentak saat peluru menembus perutnya, namun ia terus mencoba meraih pistol yang ada di tangan Aaron, dan akhirnya mafia itu berhasil merampasnya dan menembak Aaron tepat di kepala pria itu hingga benar-benar nyawanya terlepas dari raganya.
Areta berlari ke arah Kian yang mulai tidak sadarkan diri. Ia memangku kepala mafia itu yang matanya sudah mulai nampak sayup seolah akan menutup.
"Ki–Kian. Kau akan baik-baik saja, aku akan mencari bantuan, bertahanlah!" pinta Areta lirih, air matanya mulai menguar, ia nenangis untuk mafia yang selalu memperlakukannya dengan tidak baik.
"Kau ... tetap di sini, menemaniku hingga malaikat maut menjemputku!" Kian berucap lirih, napasnya mulai tersengal.
"Ti–tidak, tidak boleh! Kau tidak boleh mati—"
"Sebentar lagi Mark akan sampai, kau akan selamat dan kau bisa bebas dariku, Areta!" kata Kian, kini ia mulai terbatuk-batuk dan napasnya mulai tercekat di leher.
Areta seharusnya senang atau bahkan bahagia melihat mafia ini tidak berdaya, ia harusnya mengarahkan pistol ke kepalanya agar dia mati demi membalas sakit hatinya, tapi ia bukan orang seperti itu. Hatinya sakit melihat orang kejam itu tak berdaya, harusnya dirinya lari sekuat tenaga meninggalkannya, tapi ia tidak mampu, ia tidak bisa melakukan itu.
"Bertahanlah Kian, kau akan baik-baik saja."
"A–aku—" Kian melemas dan memejamkan mata sebelum ia menyelesaikan ucapannya, membuat gadis itu takut setengah mati.
"Kian ... Kian ...kau harus tetap hidup! Kian ... kau tidak boleh mati, Kian!" seru Areta.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung~
Jangan lupa tekan 👍 dan tap ❤ untuk mendapat notif jika Mr. mafia update, tinggalkan kesan di kolom komentar 💬 dan jangan lupa Vote seiklasnya 💌