Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Pengakuan Dosa


__ADS_3

Mr. Mafia 76


Setelah Mark melangkah keluar dan ingin menemui bossnya itu, ia benar-benar tidak berpikir dua kali untuk menghadap Kian, padahal ia tahu betul jika manusia itu sedang murka, apa saja yang ada di hadapannya akan dihancurkan dengan cara membabi buta—tapi saat ia menikah dengan Areta, perangai buruknya sedikit teredam. Seolah Areta adalah oase di tengah gurun yang panas, yang bisa mendinginkan hati Kian yang selalu panas jika tersulut emosi.


Cepat-cepat Irene mengais semua pakaiannya dan kembali mengenakannya, dengan rambut yang super berantakan dan perasaan tidak karuan, dia keluar mengikuti Mark yang sudah berjalan agak jauh menuju ruang kerja Kian. Wanita itu berlari dengan bertelanjang kaki mengejar pria yang ia cintai itu, saat Mark hampir saja memutar knop pada pintu ruangan Kerja Kian, dengan secepat kilatan cahaya, Irene menyentuh tangan Mark. Untuk beberapa detik adegan itu membuat mereka saling bertukar pandang, Irene menggelengkan kepala, agar Mark mengurungkan niatnya. Tapi Mark terlalu naif hingga secara impulsif ia hanya memikirkan kesetiaannya pada Kian hingga mengesampingkan perasaannya.


Mark masuk perlahan diikuti Irene yang memasang wajah luar biasa gusar. Sementara Areta dan Kian tampak sedang duduk di dalam membahas tentang pertemuan mereka dengan Addison. Mata Kian langsung menyapu ke arah mereka berdua memindai kedua sosok yang memasang tampang berbeda, Mark dengan wajah datarnya, sementara Irene dengan wajah bermuram durja.


"Ada apa?" Kian menyerngitkan kening seraya heran melihat sepasang pria dan wanita di hadapannya. "Lalu ... Irene, kenapa penampilanmu tampak berantakan?" tanyanya lagi, sorot matanya seolah melucuti Irene.


Dengan gerakan refleks Irene menyisir rambutnya yang—berantakan dengan jari-jarinya.


"Ada apa?!" seru Kian, mulai tersulut emosi. Sementara Mark dan Irene tampak membisu seolah mulut mereka terkunci dengan gembok besar hingga tidak mampu membuka mulutnya.


"Sabar!" pinta Areta, meskipun tidak mengeluarkan suara, tapi mengisyaratkan dengan gerakan bibir.


Tiba-tiba Mark terduduk di bawah kaki Kian, sementara Irene yang menatap Mark yang sedang melakukan pengakuan dosa tampak semakin gusar hingga air matanya tidak terbendung dan keluar berderai membasahi kedua pipinya.


"Ada apa?!" tanya Kian lagi. Dengan ekspesi seperti memancarkan kilatan cahaya kemurkaan karena merasa bingung dengan kelakuan kedua anak manusia itu.


"Ma–maafkan saya—" Suara parau keluar dari bibir Mark dengan getaran yang mengikuti kalimat yang ia ucapkan.


"Maaf untuk apa?" tanya Kian lagi.


Irene dengan gerakan secepat kilat, ikut bersujud tepat di sebelah Mark, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan wajah seolah sedang memohon ampunan untuk Mark.


"Bangun!" pekik Kian dengan mata hampir saja keluar dari tempatnya. "Kalian pikir aku Tuhan, hingga kalian seenaknya bersujud di hadapanku!" imbuhnya dengan suara ketus.


"Apa yang terjadi?" Sebenarnya Areta tidak ingin turut campur, tapi melihat gelagat aneh Mark dan Irene membuatnya bertanya-tanya.


"Aku berdosa, Kian!" seru Irene, dengan air mata tidak berhenti mengalir.


"Berdosa ...."


"Saya yang memancing Nona Irene, Boss!" Mark memotong kalimat Kian yang ingin bertanya perihal dosa yang mereka kerjakan.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa ini, 'ha?!" teriak Kian, hingga seluruh isi rumah dapat mendengar kemurkaan Kian dan merinding dibuatnya. Tapi untuk Areta ia hanya biasa saja menghadapi Kian yang sedang marah. Ia tidak mudah terprofokasi bahkan takut dengan Kian lagi.


"A–a–aku telah menghianatimu—"


Kalimat lirih keluar dari mulut Irene, lalu ia menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya.


"Menghianati?" sahut Areta.


"Kami telah melakukan dosa," ucap Mark. "Aku siap dieksekusi!" imbuhnya lagi dengan suara begitu tegas.


Mendegar ucapan Mark, seketika Irene memeluk lelaki yang duduk di sampingnya itu.


"Tidak ... tidak boleh, aku tidak ingin kehilanganmu!" pekik Irene ketakutan.


Namun Mark tidak membalas, ia melepaskan pelukan Irene. Dan kembali menunduk.


"Jika kau ingin membunuh ... bunuh saja aku, Kian!" pinta wanita yang telah sepuluh tahun menemaninya itu.


Kian makin tidak mengerti dengan ucapan keduanya, ia berdiri dari tempatnya duduk karena sudah tidak sabar dengan Mark dan Irene.


"Kian!" pekik Areta, mencegah suaminya itu. Namun tanpa disangka, Kian mengedipkan satu mata dan tersenyum kepada Areta, seolah ia sudah membaca pikiran Mark dan Irene.


Tentu saja hal itu membuat Areta sedikit lega dan membiarkan Kian melakukan kemauannya.


"Jangan cabut nyawanya, tapi cabut nyawaku saja!" mohon Irene, dengan tangan menangkup ke depan.


"Tenang ... aku akan membuat kalian meregang nyawa bersama, karena kalian telah membuat hariku semakin suram dengan kata bertele-tele kalian!" desis Kian, menciptakan teror untuk keduanya.


"Saya mencintai Nona Irene, Boss!" seru Mark, memecah kepanikan Irene.


Kalimat Mark membuat suasana menjadi tenang seketika, membuat Kian dan Areta saling adu pandang. Dan sedetik kemudian mereka saling terkekeh karena mendengar pengakuan cinta Mark untuk Irene.


Irene yang tampak terkejut hanya bisa diam dan mematap lekat Mark yang mengucapkan kata cinta dengan lantang di hadapan Kian.


"Jadi ini soal perasaan?" Kian terkekeh lalu berjongkong di hadapan Mark. Ia merangkul leher Mark seolah mereka adalah teman. Mark hanya bisa menunduk pasrah dengan perlakuan Kian.

__ADS_1


"Lalu apa yang salah dengan perasaan kalian?" celetuk Areta.


Seketika Irene mendongakan kepala, menatap Areta dan Kian yang tersenyum ke arah mereka berdua. Lalu mimik wajahnya seketika yang awalnya ketakutan berubah menjadi haru.


"Apakah aku pendosa, Kian? Aku telah menghianatimu," ucapnya lirih. Cepat-cepat mafia itu menggelengkan kepala menyangkal pernyataan Irene.


"Aku hanya menganggapmu sebagai adikku. Jika aku berniat menikahimu, maka akan kulakukan itu sejak dulu. Kita tumbuh bersama sejak kecil, tidak ada cinta di antara kita. Dan aku tahu betul kau juga merasakan hal yang sama," jelas Kian.


"Menikahlah!" sahut Areta, yang membuat ketiganya menatap wajah cantik Areta secara bersamaan dengan tatapan terkejut.


"Me–me–menikah?" tanya Irene terbata.


Areta mengangguk polos lalu berkata, "Kalian saling mencintai, tentu kalian tidak ingin berpisah, bukan?"


Irene dan Mark saling menatap lalu kembali melemparkan pandangan ke arah Kian, seolah mereka menunggu keputusan Kian.


"Mau apa lagi. Menikahlah!" Kian berucap sembari mengangkat kedua bahunya.





Bersambung~


Cinta itu rumit, ya ... Begitulah.


Aku lihat Vote dan gift menurun 😐 Kalian tak nak, kah? Memberiku hadiah dan Vote di bulan penuh berkah ini? 🤧


Biar aku semakin semangat nulis. 😒


Love,


Novi Wu

__ADS_1


__ADS_2