
Mr. Mafia 82
Apa yang membuat Areta ragu tentang ayahnya kini sirna, orang yang ia anggap jahat dan tega meninggalkannya hanyalah korban dari keegoisan sang ibu. Hingga memaksanya harus terjun ke dunia hitam sebagai mafia bengis tanpa ampun. Bukannya ia tidak ingin bertanggung jawab, tapi Marla ibunya yang enggan menerima pria malang itu.
Kian terus mencoba memeluk tubuh istrinya, dengan susah payah ia membangun kepercayaan Areta pada dirinya. Tapi tetap saja rasa ragu masih menggelayuti pikiran Areta sejak kejadian Kian memaksanya untuk memaafkan sang ayah. Tapi Areta tidak bisa berbohong, pria di hadapannya inilah yang selalu membuatnya mabuk kepayang, hingga ia lupa dengan akal sehatnya sendiri—kadang.
"Jika kau tidak ingin menerimanya, tak apa. Aku paham sekarang," ucap Kian lirih, dengan mengelus rambut istrinya yang sejak tadi masih di dalam dekapannya.
Tanpa diduga-duga oleh semuanya, sebuah mobil mewah telah berhenti tepat di belakang mobil Kian yang sejak tadi terparkir di pinggir jalan depan rumah Areta. Seketika itu pula wanita muda itu melepaskan pelukannya pada Kian, dan menatap secara bergantian antara mobil itu dan suaminya.
"Siapa mereka?" Sebelum Areta melemparkan pertanyaan, Kian lebih dulu bertanya, hingga membuat istrinya bingung.
Manik mata Areta langsung menyapu wajah Kian yang nampak kebingungan. "Bukankah mobil itu adalah milikmu?"
Kian langsung berkilah dengan sekuat tenaga, supaya Areta mempercayai dirinya lagi. "Tidak." Ia menjawab singkat.
Namun yang lebih mencengangkan adalah, siapa orang yang keluar dari mobil berwarna silver itu, seseorang yang nampak tidak asing untuk mereka berdua, hingga membuat Areta terkejut, sampai ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan karena saking tidak percayanya ia.
Addison dan istrinya, mereka berdua diantarkan oleh Mark yang memang sudah tahu sejak awal lokasi rumah ini, sejak Kian dulu pernah menyergap Areta dalam usaha pelariannya.
__ADS_1
Entah mengapa saat melihat pria paruh baya yang masih tetap nampak gagah dengan rambut sedikit memutih itu, membuatnya terenyuh dan tanpa terasa air matanya menetes.
'Mengapa air mataku enggan berhenti!' keluh Areta dalam hati.
"Dia adalah ayahmu, Nak." Della menyahut, sebenarnya ia tidak tahu jika Areta sudah menemukan ayahnya.
Addison dan Elma berjalan perlahan masuk ke dalam rumah tua sebagai kenangan untuk Addison terlebih lagi Areta. Entah ada angin apa, saat tiba-tiba Areta berlari, melepaskan Kian yang sejak tadi mendekapnya dan memeluk Addison dengan sekuat tenaga.
Pria tua yang mendapat perlakuan mengejutkan itu amat tidak menyangka bahwa akhirnya Areta akan luluh juga. Kini putri kecilnya berlari dan memeluknya dengan erat, bagai seorang anak kecil yang sudah lama terpisah oleh ayahnya sendiri.
"Anakku," ucapnya, air matanya tidak terbendung lagi. Meskipun terkenal kejam, tentu saja Addison memiliki sisi manis terlebih lagi terhadap putrinya yang telah lama ia rindukan. Elma yang menyaksikan pertemuan itupun juga tak kuasa menahan air matanya yang seakan tumpah, kelegaan mewarnai hatinya yang selalu gundah memikirkan kesehata suaminya yang selalu menurun saat memikirkan Areta. Addison yang melihat istrinya tersenyum bahagia, langsung mengulurkan tangan guna memeluk keduanya dengan erat.
"Tidak, Papa! Berjanjilah padaku, jika Papa akan panjang umur, dan melihat cucu-cucumu lahir dari rahimku ini." Areta berkata dengan derai air mata yang masih memenuhi matanya hingga menetes liar kedua pipinya.
Addison menganguk, meng-amini kata-kata buah satu-satunya. "Papa akan menebus semuanya anakku, dan membayar semua yang telah Papa tinggalkan dulu." Addison mengusap air mata Areta dengan satu tangannya.
Tidak kalah terkejutnya dengan Dilla, Kian pun juga sama, ia tidak tahu menahu jika Addison akan kemari dengan diantar oleh Mark, yang ia tahu jika memang sejak awal ia datang dan berniat tidak membawa tim pengawal satupun, dan itu juga dilakukan oleh Addison.
Melihat sang menantu tampak kebingungan, lalu Addison berseru, "Ada apa menantuku? Kau tidak mau menyambut Papa mertuamu ini?!" ucap Addison tegas.
__ADS_1
Kian terpaku sesaat, lalu kesadarannya muncul kembali dan langsung menghampiri mantan rivalnya dalam dunia gelap yang selalu memandangnya dengan sebelah mata. Saat Kian mendekat Addison langsung memeluknya dengan erat.
"Singkirkan ego kita, demi Areta. Kau dan aku kini mertua dan menantu, tidak ada lagi permusuhan diantara kita," bisik Addison lalu melepaskan pelukannya dan melayangkan pukulan lembut di dada Kian, yang membuatnya tersenyum.
"Apapun yang menjadi kebahagiaan Areta, akan akan menjadi kebahagiaanku juga—" sahut Kian.
"Benarkah?" bisik pria itu lagi. Lalu semakin mendekatkan bibirnya ke telinga menantunya itu. "Aku tahu cerita awal ketika kau memaksakan diri menikahi putriku," ucapnya lagi, yang membuat Kian tentu saja terkejut. Tapi memang tidak ada yang mustahil bagi Addison untuk mengetahuinya, karena sifat Addison yang selalu ingin tahu tentang Kian dan terlebih lagi ini adalah soal—tentang putrinya Areta.
"Apa yang kalian bisikkan?" Suara Elma membuyarkan percakapan keduanya. Yang membuat sepasang mertua dan menantu itu tampak tersenyum canggung. "Tidak apa," sahut Addison. Lalu membisikkan kembali sesuatu kepada Kian.
"Jika itu terjadi lagi, dan kau menghianati putriku, ingatlah aku selalu yang akan mengejarmu hingga ke neraka jahanam hanya untuk membunuhmu!" Nada ancaman itu memang nampak bercanda, tapi sanggup menciptakan teror untuk Kian. Mungkin ia sama halnya seperti Addison yang memang seorang mafia yang ditakuti di semua lapisan dunia gelap, tapi Addison juga mampu membuat Kian sedikit ketakutan. "Areta bukanlah wanita kecil biasa yang bisa ditindas lagi. Tapi dia adalah putri ketua mafia yang sangat kau kenal kekejamnya," sambung Addison lagi.
Kian hanya mengangguk mengiyakan perkataan sang mertua, ia juga tidak memiliki pikiran sedikitpun untuk menghianati istrinya. Ia sangat mencintai Areta, wanita naif yang selalu membuatnya penasaran sejak awal, bahkan hingga kini meski ia telah menjadi istrinya.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung~