Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Akhir Bahagia


__ADS_3

Mr. Mafia 99


Seminggu telah berlalu, hari pernikaha dan sekaligus penobatan Brian akan di selenggarakan, sementara Addison dan Kian menjadi tamu kehormatan di acara tersebut. Tentu saja hal itu membuat keduanya amat tersanjung, kini sepasang ayah dan menantu itu saling melebur dan menjadi organisasi mafia yang tidak bisa terkalahkan menguasai benua dan akan merambah ke benua lain secara perlahan.


Pagi itu setelah bangun Kian mendapati sang istri masih terlelap dipeluk oleh mimpi indah, pria itu memutuskan untuk membangunkan sang istri dan segera terbang ke negara tetangga di kerajaan Mc Kenzie sebagai monarki. Dan raja Mc Kenzie sekarang adalah raja ke enam sementara Brian akan menjadi raja ke tujuh di sana.


"Sayang." Kian menggoyangkan tubuh istrinya lembut, saat hamil Areta menjadi sedikit pemalas, perutnya yang sedikit membuncit membuat Kian senantiasa ingin mengusap calon anak yang ada di kandungan istrinya itu.


Areta tampak menggeliat, sebagai respon karena dibangunkan oleh Kian, lalu mengerjapkan mata—melihat wajah tampan si suami membuat paginya begitu indah.


"Kau sudah bangun?"


"He'em ... ayo kita siap-siap!" pinta Kian, akan beranjak dari tempat tidur.


"Siap-siap?" Areta bingung dengan perintah sang suami.


"Ya, apakah kau lupa—jika hari ini adalah pernikahan sekaligus penobatan Brian?"


"Ah ... hampir saja aku lupa." Areta menepuk dahinya sendiri, karena melupakan sesuatu yang penting.


"Lihatlah, Nak! Ibumu belum tua sudah pikun," ledek Kian, seolah sedang berbicara dengan anak yang ada di perut Areta.


"Kau pikir aku sudah tua, Om mafia?" dengus Areta kesal.


"Ya ... ya, nona muda."

__ADS_1


Setelah keduanya telah selesai mandi, Areta tampak berdiri di depan cermin memandangi bayangannya sendiri. Ia memakai gaun berwarna merah muda yang menjuntai hingga ke lantai, memperlihatkan perutnya yang mulai membesar, sementara surainya yang panjang ia biarkan tergerai dengan gaya ikal, wanita hamil yang nampak cantik itu hendak meraih sepatu hak tinggi berwarna putih, namun belum sempat ia menyentuhnya, Kian sudah mengambilkan sepatu flat tanpa hak.


"Kau pakai ini saja!" perintahnya.


Dengan wajah masam, Areta memprotes permintaan suaminya.


"Lihatlah aku, begitu cantik—apakah aku harus memakai sepatu ini?" tanya Areta memasang wajah murung.


"Lihatlah, kau sedang hamil anakku. Aku harus menjagamu, jika kau memakai sepatu dengan hak tinggi. Apakah kau menjamin akan aman?" tanya Kian.


Cepat-cepat Areta mengangguk agar si suami memperbolehkannya memakai sepatu hak tinggi.


"Tidak ... tetap tidak boleh!" Kian menolaknya dengan tegas. "Ayo kita berangkat, Shane dan istrinya sudah menunggu," imbuhnya lagi


"Mark dan Irene?" tanya Areta.


Areta dan Kian keluar kamar dengan saling bergandengan seolah seperti sepasang sejoli yang tidak bisa terpisahkan.


"Kalian siap?" tanya Kian.


Semuanya mengangguk. Kini mereka telah siap terbang ke kerajaan McKenzie, mereka membelah jalanan kota Appache dengan iring-iringan mobil, sementara Addison telah menunggu mereka di bandara bersama Elma istrinya.


***


Dua jam kemudian mereka telah sampai di kerajaan McKenzie, banyak rakyat yang mengelu-elukan nama Brian sebagai raja yang akan dinobatkan hari ini, bahkan semuanya tampak bersuka cita dan membagikan makanan gratis untuk sesama penduduk di kerajaan Mc Kenzie yang makmur karena di pimpin oleh seorang raja yang tegas dan adil.

__ADS_1


Keluarga Addison masuk, sebagai tamu kehormatan di kerajaan itu—seolah mereka adalah tamu agung dan diperkenalkan sebagai pengusaha dibidang retail dan perhotelan di negaranya, hingga Addison dan Kian kini terkenal di seantero kerajaan tersebut.


Belva keluar menuju altar pernikahan, ia tampak cantik dengan gaun putih yang memperlihatkan pundaknya yang jenjang, riasanya tampak tidak mencolok serta mahkota yang menghiasi kepalanya. Semua orang tampak melempar bunga saat Belva dan ayahnya lewat di depan para tamu. Areta yang melihat pernikahan itu tampak iri, karena saat ia menikah dengan Kian, dirinya dalam paksaan mafia tersebut, bahkan sebelumnya ia sudah di pe*osa oleh Kian.


"Ada apa dengan wajahmu, Sayang?" tanya Kian.


"Aku sangat iri dengan pernikahan ini," jawabnya, masih sibuk melempar bunga untuk Belva.


"Apakah kau mau mengulang pernikahan kita?"


"Hah ... dengan perut hampir membesar ini?" ucap Areta dengan mata memindai perutnya sendiri.


"Kenapa tidak?" jawabnya.


"Tidak ... aku malu," sahutnya ketus.


"Jangan memasang wajah menggemaskan Areta! Atau aku tidak akan tahan untuk mencium bibirmu di sini!"


"Apakah kau sudah tidak waras, ini acara pernikahan orang Kian!" dengus Areta melihat ke kanan dan ke kiri.


Saat perjanjian nikah antara Brian dan Belva telah diikat, kemudian keduanya saling beciuman. Dan tanpa kata Kian menarik tangan Areta yang tengah duduk di sampingnya dan memandang ke arah raja dan ratu Mckenzie. Lalu mafia itu mencium bibir sang istri mereka saling bertukar saliva—lidah keduanya juga saling menari-nari di dalam mulut mereka yang tengah bersatu, semua mata kini memperhatikan Kian dan Areta.


Kian melepaskan ciumannya, lalu berkata.


"I love You so much!" ucap Kian dengan suara lantang membuat semuanya tampak bertepuk tangan.

__ADS_1


Tamat~


__ADS_2