Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Harapan Seorang Ayah


__ADS_3

Mr. Mafia bab 70


Areta mengerjap mata, pandangannya kabur. Kepalanya berat seperti tertimpa sebuah benda yang berbobot satu ton. Ia memegang kepalanya sendiri sembari meringis menahan sakit. Ia menajamkan mata, memindai seisi ruangan dan bertanya di dalam hati.


'Aku dimana?'


Tak jauh dari ranjangnya, matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Suaminya, Kian. Ia tengah tertidur di atas sofa, seketika ia memandang ke arah jendela, Areta telah menyaksikan langit telah gelap. Matahari sudah tenggelam dan kembali ke peraduannya.


Dirinya melirik pergelangan tangannya, selang infus terpasang di sana, dan memilih tidak peduli akan hal itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah, membangunkan sang suami. Lalu ia menatap Kian lagi, memanggil dengan suara lemah.


"Kian... Kian!"


Namun lelaki itu tidak mendengarnya, ia tetap terlelap dipeluk erat oleh mimpi indahnya. Ia bergeming karena tidak mendengar suara lemah dari sang istri.


Hingga Areta memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya, ia meraih cairan infusnya dan membawanya menggunakan tangan kanannya, wanita itu menghampiri sang suami, lalu menggoyangkan tubuh pria itu dengan lembut.


"Kian... Kian!"


Sekali lagi ia memanggil nama itu, dan kali ini Areta berhasil membangunkannya. Suaminya bergerak dan mengerjapkan matanya. Ia menatap Areta, namun matanya sedikit kabur, hingga ia tampak bersusah payah mengucek mata agar pandangannya menjadi normal.


"Kau sudah sadar?" tanya Kian dengan suara serak, khas seorang yang saja baru bangun tidur.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Areta.


"Bagaimana siapa?" tanya Kian tidak paham, lalu sedetik kemudian ia baru tahu jika yang Areta maksud adalah sang Ayah. "Dia–telah melewati masa kritisnya."


Areta menarik napas lega, ia tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang memancarkan aura kelegaan.


"Apakah kau ingin menemuinya?" tanya Kian.


"Tidak!" jawab Areta tegas.


Areta kembali berjalan ke ranjangnya, kini Kian telah memapah tubuh wanita itu dengan lembut.


"Panggilkan dokter, agar melepaskan infus ini, aku ingin segera pulang. Dadaku sesak jika terus berada di sini." Areta berucap sembari memasang wajah memelas.


"Tapi, 'kan.... " Belum sempat Kian menyelesaikan perkataannya, Areta telah memotong kalimatnya.

__ADS_1


"Please!" Tangan Areta menangkup seraya memohon.


Kian tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan sang istri, padahal Kian ingin jika istrinya tetap di rawat di Rumah Sakit untuk beberapa hari.


Kian memencet tombol panggilan darurat dari kamar Areta, agar dokter segera datang dan melepas infus yang terpasang di pergelangan tangan Areta.


Tak butuh waktu lama, seorang perawat datang, dan bertanya, "Adakah yang bisa saya bantu?"


"Tolong lepaskan cairan infus istri saya, ia sudah sehat sekarang, Sus," jawab Kian.


Mata sang perawat memandang Areta dan Kian secara bersamaan.


"Saya panggil dokter dulu, untuk memeriksa Nyonya Areta," jawabnya.


"Ya... silakan," sahut Kian.


***


Setelah semua selesai, saat Areta hendak turun dari ranjang. Tiba-tiba Kian meraih tubuh Areta, membopong badan istrinya itu dengan mudahnya lalu berjalan keluar dari ruang rawat inap VVIP. Hal itu membuat perawat dan dokter yang menangani Areta tampak menggelengkan kepala karena heran. Sementara Mark menuju ruang administrasi untuk membayar semua tagihan perawatan Areta.


"Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!" pekik Areta, tangannya memukul dada Kian, namun matanya memindai area sekitar.


"Biarkan aku memanjakanmu!" jawab Kian, dengan tersenyum puas.


Mafia itu kini sedikit demi sedikit berubah, ia lebih mudah tersenyum saat ini. Mungkin benar kata pepatah, seorang ba*ingan akan berubah ketika ia menemukan wanita yang tepat. Dan itu terjadi pada Kian Egan saat ini.


Kian mendudukkan tubuh wanitanya itu ke dalam mobil mereka, lalu ia pun juga ikut masuk, tak menunggu waktu yang lama. Sopir mereka mulai menyalakan mesin dan melesat membelah jalanan kota Bougenville di malam hari.


Kian meraih kepala Areta, dan merebahkan dalam pelukannya. Rasa sayang yang ia miliki untuk Areta sangat dalam hingga ia tidak ingin kehilangan wanitanya ini.


"Berapa lama aku pingsan, Kian?" tanya Areta.


"Beberapa jam saja," sahut Kian, mengelus lembut rambut Areta. "Apakah kau tidak ingin bertemu, The Rock?" imbuh Kian lagi.


Areta menghela napas panjang, lalu berkata, "Aku tidak ingin membuat kesehatannya terganggu dengan emosiku yang tidak stabil."


Kian terdiam, hanyut dalam pikirannya sendiri tangannya masih mengelus lembut rambut istrinya itu.

__ADS_1


***


Elma manatap nanar wajah suaminya yang tampak pucat dan matanya terpejam. Ia sungguh tak kuasa melihat hal itu, hingga beberapa kali air matanya menetes. Dosa apa yang mereka lakukan hingga Tuhan memberi cobaan di usia senja mereka seperti ini.


Mata Addison mulai mengerjap, ia tampak mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan dengan indra penglihatannya. Perlahan ia menatap istrinya yang masih menunduk tidak tahu jika Addison telah membuka mata.


"Sayang.... "


Elma langsung tersadar, dan mendongakkan kepalanya. Ia memeluk tubuh sang suami dengan perasaan lega.


"Kau kembali?"


Addison mengangguk lemah.


"Aku harus mempertanggung jawabkan semua kesalahanku, saat aku tidak sadar tadi, aku mendengar suara anakku memanggil namaku." Suara Addison tampak lemah.


'Ya... memang benar, ia memanggil namamu, Add'


Elma membatin, tidak mengatakan yang sebenarnya kepada sang suami.


"Mungkin Areta memanggilmu di dalam doanya, Add," ucap Elma.


"Apakah menurutmu, anakku mendoakanku?" tanya Addison penuh antusias.


"Pasti!" Elma menyeka air matanya dengan tangannya sendiri. "Kau harus tetap hidup, dan sehat. Agar bisa kembali berkumpul denganku dan membujuk anakmu," imbuhnya lagi.


"Walau sangat sulit," sahut Addison lirih, seolah ia telah menyerah dengan keadaan.


*


*


*


Bersambung~


Terimakasih telah menunggu dan selalu setia.

__ADS_1


Luv,


Novi Wu—


__ADS_2