
Mr. Mafia bab 15
Areta didandani dengan gaun putih yang memperlihatkan bahu indahnya dan panjangnya hingga menjuntai hingga ke lantai, ia tampak anggun dengan riasan natural dengan pemulas bibir berwarna corral.
Penata rias profesional sengaja Kian datangkan hanya untuk mendandani calon istrinya agar tampak cantik di hadapan koleganya.
Kian hanya menatap penampilan Areta sesaat. "Jika kalian telah selesai mendandaninya, kalian antarkan peliharaanku ini ke mobil!" perintah Kian dengan nada acuh, kemudian pergi meninggalkan kamar.
Sekali lagi saat Kian menyebut dirinya adalah peliharaan, membuat Areta luar biasa marah hingga tanpa sadar ia menghentakkan kakinya dan membuat perias tampak saling menatap penuh tanya namun tidak berani bertanya perihal kenapa Areta kesal.
Semua telah siap, kini Areta telah masuk ke dalam mobil dengan Kian yang tampak gagah memakai taksido berwarna biru tua yang melekat sempurna membungkus tubuhnya yang paripurna.
"Ingat ... jaga sikapmu, wanita!" Kian sudah mewanti-wanti agar wanita yang ia anggap sebagai perliharaannya itu dapat menjaga sikapnya.
Areta hanya bergeming, ia menganggap kalimat yang dikeluarkan dari mulut laki-laki itu adalah sampah yang tidak harus ia dengarkan.
***
Mereka telah sampai di salah satu gedung mewah di pusat kota Apache, mobil-mobil mewah tampak berlalu lalang di depan hotel dengan 25 lantai tersebut.
"Ingat jaga sikapmu, Areta!" dengus Kian, karena sedikit kesal dengan gadis itu yang seolah tidak ingin mendengarkan dirinya.
Tamu undangan yang sebagian besar berasal dari kelas atas itu tampak memenuhi ruangan, hingga Areta heran. Dalam waktu satu malam saja, Kian bisa mengumpulkan mereka sepagi ini. Tidak terbantahkan lagi begitu berpengaruhnya pria berusia 30 tahun itu.
Irene yang tampak cantik dengan gaun biru tua yang panjangnya hampir menjutai ke lantai itu, harus menelan pil pahit. Ia beranggapan jika dirinyalah yang harus berdiri di sana. Namun nyatanya wanita yang baru di kenal Kian selama seminggulah yang jadi pendamping Kian dia atas altar pernikahan.
Irene nampak menahan air mata yang seolah ingin keluar, Shane yang melihat hal itu langsung menghampiri wanita yang sedang dirundung oleh luka bantin itu. "Kau baik-baik saja, Irene?" Shane menyodorkan selembar tisu yang ia sengaja ambil dari atas menja makan tadi.
"Aku yang harusnya ada di sana kan, Shane?" tanya Irene lirih, ia tak kuasa menahan air matanya yang tumpah.
"Tidak! Kau memang tidak pernah diciptakan untuk Kian!" sahut Shane dengan nada datar. Lalu memilih pergi meninggalkan Irene yang masih terlihat rapuh.
Wanita itu berjalan cepat menuju toilet untuk menenangkan diri, sungguh batinnya telah tersiksa ketika melihat Kian tersenyum bahagia memperkenalkan gadis yang baru di kenalnya kepada koleganya, ia telah menemani Kian selama 10 tahun, akan tetapi Kian tidak pernah menganggapnya ada.
Hingga akhirnya Irene lebih memilih memotong urat nadinya dengan sebuah pisau kecil yang ia ambil di salah satu meja tempat kue-kue yang di tata rapi.
Darah merah segar mengucur dari bekas sodetan yang ia ciptakan hingga membuatnya meringis kesakitan dan akhirnya kehilangan kesadaran atas dirinya.
__ADS_1
Sementara itu Kian dan Areta telah usai mengucapkan ikrar pernikahan saat Irene telah bertaruh dengan nyawanya yang hampir berada di ujung tanduk.
Kian masih asik dengan hiruk pikuk pesta pernikahannya, saat tiba-tiba Mark memberi berita kepadanya bahwa Irene telah sekarat di toilet wanita, hingga membuat laki-laki itu beranjak dan berlari dari tempatnya berdiri, menuju ke tempat di mana Irene terseletah bersimba darah dengan luka menganga di pergelangan tangannya.
Beberapa menit kemudian Kian berlari keluar dengan membopong tubuh Irene yang tampak lunglai ke luar. Areta yang melihat kejadian itu kebingungan, sedetik kemudian ia mengangkat kedua bahunya dan lebih memilih masa bodoh dengan apa yang di lakukan Kian kepada Irene.
Areta sedang sibuk memilih makanan, ini adalah saat yang tepat untuk mengisi perut pikirnya, ia bisa makan sepuasnya tanpa memedulikan semua orang yang heboh dengan kejadian Irene yang hendak mengakhiri hidupnya.
Tiba-tiba sosok yang wanita yang paling Areta takutkan muncul di sampingnya sambil mengambil kue yang ada di depan meja Areta.
"Kau tahu, Nona?" Silda berbeda, nada bicaranya begitu sopan terhadap Areta, berbeda ketika ia pertama kali masuk ke rumah Kian, wanita ini memperlakukan dirinya dengan sangat buruk. "Nona Irene adalah musuhmu yang sebenarnya, kau harus tetap hati-hati dengannya!" imbuhnya lagi.
Areta mengerutkan dahi saat mendengar ucapan Silda yang sedang memcoba memprofokasi dirinya.
"Mengapa Anda tiba-tiba baik kepadaku, Nyonya Silda?"
"Jangan memanggilku dengan panggilan itu, Nona. Anggap saja kita berteman!"
Meskipun begitu, Areta harus tetap hati-hati dengan wanita ini, ia seperti memiliki maksud lain dengan kejadian ini.
Shane yang tidak beranjak dari gedung itu akhirnya mendekati Areta. "Kau tidak cemburu melihat suamimu memperlakukan wanita lain dengan begitu baik?" tanya Shane seolah ia mengetahui sesuatu.
"Hati-hati, Nona Areta. Kau bisa jatuh cinta, jika mau terlalu membenci seseorang," ledek Shane dengan seutas senyum menyungging di bibirnya.
"Ha-ha-ha-ha." Areta nampak terkekeh mendengar kata-kata Shane. "Apakah Anda dapat mengantarkanku pulang, Tuan dokter?" tanya Areta.
"Sure ... Mengapa tidak. Mengantarkan mempelai prempuan cantik sepertimu adalah kebahagiaan bagiku, Nona," sahut Shane.
***
Hingga malam menjelang, Laki-laki bengis itu belum juga kembali, Areta bisa bernapas lega dan melakukan apapun di dalam kamar tanpa ada yang mengganggu dirinya.
Dorrr ....
Suara bunyi senjata api mengaggetkan Areta, ia kemudian berlari ke arah jendela untuk menyaksikan apa yang tengah terjadi di luar. Ia melihat Shane telah melakukan latihan menembak di taman bunga dengan papan tembak yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Areta sangat tertarik dengan itu, ia ingin sekali ikut serta dalam latihan Shane, gadis itu turun dan mendekati laki-laki yang umurnya satu tahun lebih muda dari Kian itu.
__ADS_1
"Tuan Shane."
Shane menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum sesaat. "Apakah kau terganggu dengan suara senapanku?"
"Lumayan," Areta berjalan mendekat kepada Shane. "Maukah Anda mengajariku latihan menembak?" tanya Areta penuh antusias.
"Mhhh ... untuk apa?"
"Untuk menembak isi kepala Kian!" jawab Areta lantang.
Shane terkekeh mendengar ucapan Areta. "Oke! Aku akan mengajarimu, Areta, kemarilah!"
Shane memberikan senjata laras panjang tersebut kepada Areta, Areta yang tiba-tiba menerima pistol itu terkejut karena ternyata pistol itu lumayan berat untuknya.
SS1-V1 Kal. 5,56 mm
Merupakan senapan serbu pertama yang diadopsi langsung dari FN FNC. Senapan ini memiliki berat kosong 4.02 kg dan berat isi 4.38 kg. Dengan munisi 5.56 x 45 mm standar NATO dan panjang laras 449 mm, SS-1 V1 dapat menembak dengan sangat akurat sampai dengan jarak 400 meter. Mobilitas dalam penggunaan SS1 dapat semakin mudah dengan popor yang dapat dilipat.
"Lumayan berat juga, 'ya?" tanya Areta polos.
"Tentu saja beratnya hampir 4,5 kilogram, kemari biar aku ajari cara menembak sasarannya!"
Saat Shane hampir memegang tangan Aret, tiba-tiba seseorang menampik tangan Shane dengan begitu kasar.
"Jaga batasanmu, Shane!" Kian tiba-tiba muncul di hadapan mereka, dengan tatapan membunuh yang biasa ia tampilkan.
•
•
•
Bersambung~
Like-like
Komen-Komen
__ADS_1
Vote-vote
Jangan ketinggalan 🤭