Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Dilarang Mencintai Pria Lain


__ADS_3


Mr. Mafia bab 37


Areta telah sampai di kediaman egan dengan sangat cepat. Silda yang melihat leher Areta yang berdarah namun sudah tidak mengeluarkan air tampak tersentak kaget, dan bertanya-tanya. Siapa yang berani melukai istri dari boss mafia kejam tersebut.


Sementara Areta berjalan santai menuju kamarnya dan diikuti oleh gadis kecil yang selalu mengekor di belakangnya, dengan raut wajah penuh kekhawatiran itu. Tangannya saling meremas, karena takut jika orang yang ia sayangi itu kenapa-kenapa.


Areta meraih kotak P3K yang ada di nakas, dan duduk di depan cermin menyaksikan luka goretan benda tajam yang bersemayam di lehernya yang jenjang, rasa perih juga sudah mulai hilang seiring darah yang mulai berhenti keluar.


Tiba-tiba suara pintu terbuka lebar dan otomatis membuat Areta dan Celine melemparkan pandangan ke arah pintu, Kian telah berdiri di ambang pintu dengan tatapan dinginnya. Padahal Kian tertinggal jauh saat Areta dan Celine kembali. Akan tetapi kenapa tiba-tiba ia sudah ada di sini? Entahlah mungkin Kian mempunyai ilmu yang bisa tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang, batin Areta.


"Bagaimana dengan lukamu?" Kian jalan mendekat ke arah istrinya dan memberi isyarat kepada Celine untuk keluar dengan cara melambaikan tangannya dan mengangguk. Tanpa basa-basi Celine menuruti perintah Kian dan keluar dari zona nyamannya bersama Areta.


"Sudah tidak sakit lagi," sahut Areta, sembari menempelkan obat merah ke lukanya dengan cottonbud. Dengan ekspresi sesekali meringis menahan sakit.


Kian merampas benda itu dan duduk di atas tempat tidur, kemudian memberi tanda agar Areta mendekat dan duduk bersamanya dengan cara menepuk-nepuk sprai tersebut dengan lembut. Secara impulsif Areta menuruti keinginan suaminya tersebut dan duduk berhadapan dengan laki-laki mafia itu.


Perlahan Kian menempelkan obat merah ke luka Areta yang darahnya telah berhenti, ia melakukannya dengan lembut agar tidak menciptakan sensasi perih untuk Areta. "Kau tahu, aku sudah mengira ini pasti terjadi. Maka dari itu tadi aku mengikuti kalian."


Areta tertegun mendengar ucapan Kian, apakah mafia tanpa ampun ini memperhatikannya atau bahkan mengkhawatirkan dirinya? Tapi mana mungkin itu terjadi, pasti ada maksud lain dari semua ini.


Areta hanya diam dan memasang wajah tanpa ekspresi saat bersama dengan Kian, ia masih marah akibat surat kontrak yang semalam coba Kian berikan kepada Areta.


"Mengapa kau diam? Biasanya kau paling pintar menjawab semua kata-kataku, Areta?!" tanya Kian lagi.


"Aku tidak perlu menghabiskan waktu dan tenagaku untuk berbagi kisah dan kasih terhadap mafia bengis yang mencoba memanfaatkan ketidak berdayaan seorang wanita sepertimu!" sembur Areta, memicingkan mata memandang Kian dengan tatapan benci.


"Ha–ha–ha." Kian tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang terlontar dari mulut wanita yang akan beranjak 20 tahun tersebut. "Lalu apa yang kau inginkan dariku, Areta? Kau ingin menikah denganku selama-lamanya, tanpa mempedulikan sifatku yang suka gonta-ganti wanita?" imbuhnya Lagi.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak ingin mengubah surat kontra itu. Aku tetap akan mengugurkan kandungan jika aku hamil anak darimu!" seru Areta dengan nada setengah berteriak. Kian pun ikut terbawa arus dan murka mendengar jika Areta hamil ia akan menggugurkan janinnya. Padahal itu adalah syarat awak saat ia ingin mengikat Areta dengan pernikahan agar ia tidak melarikan diri darinya. Tapi kini, ia benar-benar menginginkan kehadiran seorang bayi di dalam hidupnya.


Kian menangkup dagu Areta dan menekannya kuat-kuat. "Jaga bicaramu dan batasanmu, Areta. Kau tetap akan melahirkan anakku, jika memang kau hamil! Kalau kau berani mengugurkannya, maka hiu-hiu laparku siap menyantap tubuhmu sebagai hidangan utama mereka!" ancamnya, dengan nada suara seperti berdesis.


Areta mulai kebal dengan ancaman Kian, meskipun ia takut, tapi ia mencoba melawan sebisanya dengan mulut yang tidak kalah berbisa dari Kian.


"Lalu setelah tiga tahun, kau akan melepaskanku? Dan aku harus melepaskan darah dagingku di bawah asuhan mafia bengis sepertimu?!"


Kian menghela napas panjang, ketika mendengar ucapan Areta, ia mencoba membunuh emosinya sendiri, agar tidak membuat Areta semakin marah. "Jika kau tidak ingin bercerai dariku, maka aku tidak akan menceraikanmu."


"Lalu, aku harus berada di sini sepanjang sisa hidupku? Oh ... tidak bisa. Aku juga ingin menikah dengan laki-laki yang kucintai suatu saat nanti!"


Mendengar ucapan Areta, tiba-tiba napas Kian memburu, otaknya seperti mendidih dan sorot matanya tajam, ia mencengkeram pergelangan tangan Areta dengan kuat, hingga membuat sang istri merintih kesakitan.


"Sebelum kau mencintai laki-laki lain, aku akan membunuh laki-laki manapun yang mencoba mendekatimu!" bisik Kian, namun nada bicaranya seolah menyimpan teror menyeramkan bagi Areta, hingga membuat tubuh wanita itu seketika kaku dibuatnya.


'Apakah dia salah makan? Dia akan membunuh semua lelaki yang mendekatiku? Memangnya kau siapa, dasar mafia licik!' gerutu Areta dalam hati, ia terus mengumpat dan mengutuk suaminya sendiri. Semakin hari rasa benci semakin tumbuh di dalam hati Areta untuk suaminya itu. Padahal manusia pada umumnya, semakin sering bertemu, maka ia akan semakin jatuh cinta, tapi itu tidak berlaku untuk Areta.


***


Areta duduk di depan jendela tatkala malam menjelang, Celine tengah bersama ayah kandungnya. Kini gadis kecil itu bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah seutuhnya. Areta hanya berharap Shane bisa menjadi ayah terbaik untuk gadis malang itu.


Tiba-tiba pintu kamar Areta terbuka, sosok pria tampak berdiri mesisakan siluet bentuk tubuh namun wajahnya gelap karena Areta sengaja hanya menyalakan lampu tidur saja.


Areta tersentak saat laki-laki itu mendekat kepada dirinya. Dan membuatnya beranjak dan berdiri memasang sikap waspada.


"Si–siapa kau?"


Laki-laki itu hanya diam saja, Areta tidak habis pikir dari mana datangnya pria itu, ia tampak berjalan sempoyongan. Bagaimana bisa ia menerobos pengamanan tiga lapis dari rumah ini, kalau dia bukan berasal dari sini. Pasti ia adalah orang dalam.

__ADS_1


Napas Areta memburu, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Sesekali ia berjalan mundur untuk menghindari laki-laki tersebut.


Ketika wajah laki-laki itu terkena cahaya dari terangnya bulan, Areta baru menyadari ia adalah sosok lelaki yang paling ia benci, dan dengan secepat kilat laki-laki itu memeluk tubuh Areta hingga membuat Areta jatuh di atas tempat tidur dengan posisi laki-laki itu berada di atas tubuh Areta.


"Kian ... Kian!" Areta mencoba membangunkan Kian yang tampak tertidur lelap di pelukan Areta, bau alkohol menguar dari dalam mulut Kian berhasil membuat Areta mual karenanya.


'Merepotkan sekali'


Areta mengumpat dalam hati, ia menggulingkan tubub Kian yang tampak berat, agar ia bisa bergerak dengan leluasa. Setelah berhasil melepaskan diri dari Kian, Areta berdiri, dan membetulkan posisi tidur Kian yang tampak seperti bayi yang sedang pingsan, Areta memandang lekat wajah mafia tersebut.


'Jika ia tertidur, mengapa mukanya seperti bayi tanpa dosa? Damai sekali'


Areta menatap lekat wajah Kian, tanpa sadar, Areta mendekatkan bibirnya ke wajah Kian, semakin dekat dan dekat....





Bersambung~


Jangan Lupa Vote 👀


Like ✅


Komen ✅


Terimakasih 😚

__ADS_1


__ADS_2