Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Cinta Tidak Pernah Salah


__ADS_3

Mr. Mafia 75


⚠️Peringatan Bab ini mengandung unsur dewasa, harap bijak dalam menentukan bacaan, sesuai umur kalian!


***


Irene terkesiap mendapat perlakuan seperti itu, mulutnya dibungkam oleh sebuah tangan kekar, ia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang berani-beraninya melakukan ini kepadanya. Orang itu mendekatkan wajahnya kepada Irene, hingga wanita itu dapat dengan mudah merasakan sapuan napas yang menghembus menerpa wajahnya. Aroma mint yang ia kenal tercium dengan mudah di hidungnya.


'Siapa dia'


Irene bertanya dalam hati. Ia menajamkan mata agar bisa melihat siapa yang menyergapnya di dalam kamar Mark. Saat Irene mencoba berontak, tubuh orang itu tampak semakin mengeratkan tubuh mereka hingga seolah bersatu dan tidak bisa di pisahkan.


Kemudian sosok itu dengan sengaja menghembuskan napasnya ke telinga Irene, hingga membuat bulu kuduk wanita itu merinding dibuatnya.


"Mengapa Anda masuk ke sini, Nona?" desis sosok itu, tepat di telinga Irene. Suara yang tidak asing untuknya. Ya ... itu suara Mark, orang yang ingin ia lihat dari dekat. Karena mulutnya dibekap kuat, Irene tidak bisa membalas ucapan pria itu. Mark semakin membenamkan tubuhnya pada Irene, hingga seolah ia tidak terpisahkan.


"Aku adalah pria normal, Nona," bisik lelaki itu, hingga membuat kulit Irene meirinding dibuatnya. "Seekor kucing, akan menjadi agresif jika diberi ikan," imbuhnya lagi.


Pria itu mendengus—menghembuskan udara dari hidungnya menyapu wajah Irene—jantung wanita itu semakin berdetak kencang, dan rasa aneh menjalar di otaknya. Ia benar-benar ingin bersama Mark saat ini. Perasaan aneh itu mencuat semakin besar tatkala ia melihat sosok itu. Tapi tentu saja demi harkat dan martabatnya sebagai kekasih Kian, ia harus dituntut menjadi wanita kelas atas yang tidak bisa, bahkan tidak boleh mengemis cinta kepada anak buah Kian.


Mark menarik tubuh Irene hingga mendekati tempat tidur dan menghempaskannya begitu saja. Tanpa ada rasa tidak enak, pria itu langsung menubruk—tubuh Irene, mengunci tangan wanita itu di kedua pinggir kepalanya.


"Apa yang kau lakukan?" desis Irene, lirih.


"Bukankah tidur denganku adalah hal yang Anda inginkan, Nona?!" ucap Mark.


Irene meronta sebisanya, tapi hatinya benar-benar ingin, dan bahkan otaknya dipenuhi tentang Mark, wanita itu tidak bisa memungkirinya.


"Omong kosong macam apa ini?!" umpatnya menyembunyikan keinginan terpendamnya.

__ADS_1


Mark terkekeh sesaat mendengar kalimat bernada tinggi dari Irene, lalu ia membenamkan bibirnya ke arah—bibir Irene. Awalnya hanya tarian lembut pada lidah Mark tidak dihiraukan oleh wanita itu, namun itu sangatlah bertentangan dengan nuraninya, ia menyambut baik dengan ikut menyesap bagian dari indera perasa dari lelaki itu. Sentuhan yang awalnya lembut berubah menjadi kasar dan serampangan. Namun inilah yang Irene mau.


Jari–jemari Mark mulai menari dan meliuk di atas permukaan kulit putih dan mulus Irene, hingga menciptakan sengatan-sengatan aneh yang menjalar dari dalam diri Irene, sudah berapa lama ia tidak tersentuh, sudah berapa lama ia tidak pernah merasakan hangatnya dekapan seorang pria. Hingga tanpa dibuat-buat suara lengkingan indah keluar dari bibir Irene, yang membuat Mark makin menjadi dan bersemangat.


Ketika Mark ingin membuka satu persatu kain penutup tubuh Irene, tiba-tiba wanita itu tersadar. Lalu meronta kembali dan mendorong tubuh kekar itu supaya menjauh. Tentu saja dorongan yang tidak cukup kuat itu, sangat tidak berarti untuk lelaki yang sudah terbiasa berolah raga itu. Hal itu sangat sia-sia, rontaan dari Irene tidak membuat Mark mundur sama sekali.


"Apa ... apa yang kau inginkan?" ucap Irene suaranya serak, hingga hampir saja tidak dapat terdengar, namun karena ruangan ini sunyi dan kedap suara dari luar, sekecil apapun suara yang dikeluarkan Irene, meskipun samar, Mark tetap bisa mendengar dengan jelas.


"Kau sudah membangkitkanku, Nona. Kini kau harus mempertanggung jawabkannya!" balasnya.


Mata Irene seketika terbelalak karena ucapan Mark, sejak kapan ia bisa berkata seperti ini, bukankah ia hanya seorang robot tidak berekspresi yang selalu menurut kepada bossnya, Kian. Lalu apa ini?


"Mengapa Anda memandangku seperti itu? Aku adalah manusia, yang memiliki rasa, bahkan napsu sekalipun aku masih memilikinya, dan kini kau datang kepadaku dengan sukarela. Tentu aku sangat menyambutnya dengan suka cita." Mark berucap lirih.


"Apakah kau tidak waras!" umpat Irene, dengan namun dibalik kalimat umpatan itu tidak terselip kata kemarahan.


Mark kembali melancarkan aksinya, melucuti setiap kain yang melekat pada tubuh Irene, dan wanita itu enggan mencegahnya. Benar-benar memudahkan Mark, dan kini mereka telah sama-sama sepolos bayi tanpa ada sehelai kain yang dapat menghalangi pandangan mereka.


Hal yang seharusnya tidak terjadi, akhirnya—terjadi. Mereka bersatu dalam jalinan hasrat yang telah lama terpendam, menari di atas busa seolah bagai awan putih sebagai alasnya, hingga keringat sebesar biji jagung membasahi tubuh mereka, dan mencapai puncak nirwana bersama-sama, dengan lengkungan suara parau yang berbalut napsu.


Seketika Mark sadar dan terkesiap ketika menuntaskan semua ini, ia mengacak-acak rambutnya, Mark terduduk di samping Irene yang telah meraih selimut guna menutupi tubuhnya hingga ke dada.


'Apa yang telah kulakukan!'


Mark mengutuk dirinya sendiri, ia menghianati orang yang selama ini ia segani. Kian ... Ya, nama itu. Bagaimana bisa ia meniduri Irene yang notabennya adalah kekasih Kian. Seharusnya ia melindungi Irene, bukan malah menikmati surga dunia bersama wanita di sampingnya itu.


Cepat-cepat ia mengambil bajunya yang berserakan di lantai. Namun dengan cekatan Irene menarik tangan Mark hingga ia berbalik badan dan menatap wanita berparas cantik itu. Seolah ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Mark.


"Apakah kau menyesal?" tanya Irene lirih.

__ADS_1


Mark cepat-cepat menggelengkan kepala, lalu berkata tidak kalah lirih, "Aku telah menghianati bossku, aku harus mengakuinya."


Manik mata Irene hampir terlepas dari tempatnya ketika mendengar kalimat penyesalan Mark untuk Kian.


"Tidak ... jangan, biarkan aku saja yang mengakuinya. Kalau Kian membunuhku, aku iklas ... asal kau selamat." Irene mencegah Mark.


"Tidak, ini salahku," tangkis Mark.


Irene harus repot-repot berdiri, hingga tubuh polosnya dapat terekspos bebas, dan dapat terlihat kembali oleh Mark.


Mark mulai mengenakan bajunya, dan bersiap menemui Kian, saat pria itu akan berjalan keluar, tiba-tiba Irene memeluk tubuhnya dari belakang.


"Aku mencintaimu, Mark!" serunya dengan air mata menetes.


Mendengar hal itu, Mark terkejut hingga tidak bisa berkata apapun. Ia berbalik badan menatap wajah Irene, dengan kedua tangannya ia menghapus air mata wanita itu dengan usapan penuh kelembutan.


"Kau tenang, Boss Kian tidak akan membunuhku." Mark melepaskan diri dan keluar dari kamarnya meninggalkan Irene yang tidak kuasa menahan pria itu.





Bersambung~


Selamat berpuasa untuk kalian yang menunaikan ibadah Ramadhan. Aku Novi Wu mengucapkan mohon maaf lahir batin.


Terimakasih

__ADS_1


Love,


Novi Wu


__ADS_2