Mr. Mafia

Mr. Mafia
#Pikiran Wanita Hamil


__ADS_3

Mr. Mafia 42



Kian masih asyik dengan rutinitasnya di dalam kamar mandi, sementara Areta sangat bosan berada di kamar. Ia menyambar sebuah cardigan yang ada di lemari dan pergi keluar untuk menghirup udara laut sejenak. Areta terus berjalan hingga di dek paling atas dan paling belakang. Ia melihat sedikit berjingkat dan melongok kebawah untuk memeriksa kincir raksasa kapar pesiar tersebut, namun sia-sia, ia tidak dapat melihat apapun di sana. Tiba-tiba beberapa ikan lumba-lumba tampak berenang di sekitar kapal, seolah tahu keberadaan Areta dan ingin menghiburnya. Areta tersenyum kecil melihat para lumba-lumba tersebut berenang dan mengeluarkan suara decitan seolah mereka sedang bersuka cita.


"Kau mengapa bisa sampai sini?" seorang wanita menepuk pundak Areta. Mata Areta langsung menyambar siapa si empunya tangan yang berani menepuk istri mafia tersebut. "Aku dengar kau sedang hamil, 'ya?" imbuhnya lagi.


"Ya... aku hamil, apa masalahmu dengan ini?" tanya Areta, sedikit malas menjawab pertanyaan wanita itu.


"Aku juga pernah hamil sepertimu, dan Kian sangat menyayangiku. Tapi ketika aku keguguran. Sifatnya berubah, dia akan membuangmu seperti sampah dan menggantikanmu dengan wanita lain."


"Aku tahu kisahmu, Irene. Kau memang sengaja menggugurkan kandunganmu, bukan? Hal itu yang membuat Kian sangat tidak bisa mentolelir perbuatanmu!" desis Areta.


"Tutup mulutmu! Dan urusi saja urusanmu!" dengus Irene, dan beranjak pergi meninggalkan Areta.


Areta memicingkan mata saat Irene mendengus ke arahnya, kenapa dirinya repot-repot mengurusi Areta, toh kehamilamnya tidak akan berpengaruh untuknya. Ia akan tetap menjadi hiasan di istana Egan. Akan tetap begitu selamanya.


Areta kembali menatap laut lepas dan menghirup udaranya kuat-kuat, matahari juga belum terlalu menyengat hingga Areta tidak merasa kegerahan dibuatnya.


Tiba-tiba datang lagi seorang pria, kali ini ia berseru, dan berhasil membuat Areta terjingkat karena kaget.


"Sejak kapan kamu bisa keluyuran sendiri di sini, Areta?!"


Sosok tinggi dengan celana hitam membungkus kakinya yang jenjang dan dipadu dengan kemeja hitam lengan panjang yang melekat sempurna di badannya yang kekar, serta rambut yang belum di sisir sempurna seolah mampu menghipnotis Areta.


"Se–jak tadi—" jawab Areta terbata.


"Jika ada apa-apa terhadapmu, bagaimana?! Kau sedang hamil anakku, maka berhati-hatilah!" ucapnya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Ya... aku tahu itu. Jika aku kehilangan bayiku ini, kau pasti menempatkan diriku seperti Irene, bukan?!"


Kian menatap serius ke arah Areta, siapa yang memprovokasinya, sehingga ia kelihatan emosi saat mendengar kata hamil dan keguguran.


"Siapa yang telah mengatakan hal bodoh seperti itu?!" tanya Kian, mendesak.


Areta membuang muka menatap laut, agar Kian tidak dapat melihat kegundahan hatinya.


"Sudahlah, itu semua tidak penting," jawab Areta sekenanya.


Kian mengela napas panjang, kemudian menangkup dan merangkul pinggang Areta penuh kelembutan, jarang-jarang Kian melakukan hal seperti ini, terlebih lagi untuk wanita. Hanya Anastasyalah yang mendapatkan perlakukan spesial seperti ini dahulu. Memang sejak Kian menikah dengan Areta, ia sudah tidak pernah tidur dengan sembarang wanita, seperti dulu. Seolah hasratnya sudah terpuaskan dan selalu ada pada tubuh istrinya itu. Areta melepaskan rengkuhan tangan Kian.


"Jangan begini, aku tidak mau jika aku akan terbiasa denganmu atau mungkin aku akan jatuh cinta terhadapmu," ungkap Areta.


Kian terkekeh mendengar kalimat Areta, matanya memancarkan sinaran seolah ia tidak percaya dengan untaian kata yang keluar dari mulut Areta.


"Apakah kau mulai terbawa dengan perasaan, Areta?" ledeknya dengan satu bibir tertarik ke atas.


Ada secuil perasaan aneh ketika Irene mengatakan hal yang tidak enak di dengar tadi. Sudah beberapa bulan sejak Areta dipaksa menikah dan tinggal di rumah mewah itu, ia merasakan perasaan nyaman. Meskipun awalnya tertekan. tapi akhirnya ia seperti memiliki keluarga, meskipun ia tetap ingin menemukan sang ayah kandung. Sayangnya ia hanya memiliki foto sang ibu yang sengaja ia bawa saat terakhir kali ia pulang, dan ia sama sekali tidak pernah melihat dan bahkan memiliki foto sang ayah.


Jujur saja, ia mulai nyaman dengan semua ini, walau ia bimbang apakah ini cinta atau hanya sebuah ketergantungan saja.


***


Areta sarapan berdua bersama sang suami di dalam kamar, suasana ini tidak pernah mereka rasakan, bahkan mungkin jarang. Karena mereka selalu makan bersama dengan Irene. Seolah Kian sedang memiliki dua istri dalam satu atap.


"Siang ini, kapal ini akan segera menepi. Kita harus segera pergi ke dokter untuk melihat, apakah kandunganmu baik-baik saja." Kian berkata sambil memotong daging di piringnya.


"Bukankah pesta ini diadakan dua hari berturut-turut?" tanya Areta bingung.

__ADS_1


"Aku yang membubarkannya. Karena alasan kesehatanmu dan janin yang ada di perutmu. Maka aku meminta Shane untuk menghentikan pestanya," ucap Kian santai, sembari mengunyah makanannya.


"Apa perlu seperti itu? Sangat tidak etis ketika temanmu mengadakan pesta, kau menghentikannya hanya karena aku."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kau harus banyak istirahat!"


Areta langsung mengunci mulutnya, dan memilih menghabiskan makanan dan susu yang telah pelayan kapan itu sediakan untuknya, hingga berhasil membuatnya kekenyangan dan lemas.


Areta menyandarkan kelapanya ke kursi dan terus mengelus perutnya yang kenyang.


"Kau harus makan banyak setiap hari, Areta!" perintah Kian, dengan masih menyantap makanannya.


"Hah?! Apa harus begitu?" tanya Areta.


Kian mengangguk pelan. "Agar bayimu sehat. Kau harus banyak makan!"


Areta gadis yang beranjak usia 20 tahun, harus hamil anak dari mafia, di paksa melindungi diri sendiri dan menjadi kuat. Kini ia harus siap menambah berat badan demi janin yang ada di perutnya.


Sejenak Areta berpikir. Apakah selama ia hamil, Kian akan berperilaku semanis ini terhadapnya? Ah... itu hanya khayalan yang tidak akan terealisasikan. Hanya sebuah angan saja.





Bersambung~


Kok Kian manis banget, sih? 🙄

__ADS_1


Padahal aku suka kasar~


Jangan lupa like, Komen, Vote 👀


__ADS_2