
Mr.Mafia Bab 46
Areta tampak gelisah, ia merasakan bahwa seluruh badannya lengket. Dirinya tidak terbiasa tidak mandi, maklum saja bisa dibilang setelah masuk ke rumah sakit ini, Areta belum mandi selama dua hari. Hal itu menciptakan rasa gatal yang sangat menyiksa dirinya.
Mata Kian menangkap kegelisahan Areta tersebut, sehingga ia mendorong dirinya untuk memberi pertanyaan kepada sang istri, yang tengah berusaha menggaruk bagian punggungnya. Ia melirik sesaat lalu matanya tetap fokus ke arah laptop di pangkuannya
"Ada apa?" tanyanya dengan masih tetap fokus.
"Kulitku gatal, mungkin karena aku belum mandi sejak aku masuk dari sini. Aku ingin mandi, bisakah kau membantuku untuk mandi?" jawab Areta memelas.
Kian meletakkan Laptop di atas meja, lalu ia berjalan ke arah sang istri, dan melirik ke arah jendela. Matahari sudah meninggi saat ini. Tapi Kian takut jika Areta mandi, ia akan kedinginan.
"Aku akan mengelap tubuhmu dengan air hangat. Kurasa hal itu akan membuatmu sedikit lebih baik."
"Ja–jangan! Kau bisa melihat seluruh tubuhku nanti!" Suara pekikan keluar dari mulut Areta yang mencoba mencegah Kian melakukan hal tersebut.
"Mengapa kau harus malu? Bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah kusentuh dan bahkan kunikmati? Aku sering menyentuh bahkan menjilat setiap inchinya!" dengus Kian.
Mendengar kalimat tersebut membuat wajah Areta memerah sesaat, lalu ia tetap kepada pendiriannya, ia tidak mau Kian melihat tubuhnya. Namun bukan Kian namanya jika tidak bisa memaksa dan melakukan hal tersebut. Ia tetap meminta Areta menuruti kemauannya itu. Tentu saja wanita itu pasrah begitu saja. Toh cuma Kian yang sudah pernah melihat itu semua.
***
Kian meletakkan wadah yang disediakan oleh seorang perawat dan sudah mengisinya dengan air hangat, Pria itu menekuk kemejanya hingga sebatas siku untuk bersiap mengelap setiap inchi kulit tubuh istrinya. Jantung Areta berdebar bukan main, ia sesekali menelan ludahnya sendiri mendapat perlakuan spesial dari Kian tersebut. Di mana ada seorang mafia dan Ceo perusahaan mengelap tubuh seorang wanita yang notabennya tidak ia anggap spesial tersebut.
"Buka bajumu!" perintahnya.
"Hah? Buka ....?" tanya Areta pura-pura bodoh.
Karena tidak sabaran, hal itu membuat Kian akhirnya menarik kancing baju Areta dan membuka satu persatu baju rumah sakit tersebut. Kini tubuh Areta hanya ditutupi dengan selimut.
Dengan sabar Kian mengelap seluruh tubuh Areta dengan sabar. Ia seolah sedang berkonsentrasi dalam merawat istrinya itu. Areta sedikit bingung melihat tingkah Kian akhir-akhir ini, apakah dia sudah mulai membuka diri untuk Areta. Namun Areta tidak ingin berandai-andai tentang itu.
"Mengapa kau menatapku seperti itu? Pasti kau sedang berpikir mengapa aku melakukan ini untukmu, bukan?" tanya Kian.
Areta hanya bergeming mendengar kalimat yang keluar dari mulut Kian, ia benar-benar tidak ingin menanggapinya.
"Aku hanya melakukan ini, agar kau mau menjadi ibu untuk anak-anakku," ucap Kian setelahnya.
Mendengar ucapan Kian membuat hati Areta gusar. Ia bertanya di dalam hatinya sendiri.
'Ibu untuk anak-anaknya? Jadi aku hanya dijadikan mesin pembuat anak?'
Areta tiba-tiba merampas lap yang dipegang oleh Kian, lalu berkata lantang, "Aku bisa melakukannya sendiri!" kata Areta dengan raut wajah masam.
__ADS_1
Kian tertegun sesaat saat melihat Areta mulai mengelap tubuhnya sendiri. Ia menghela napas panjang.
"Baiklah, aku tidak perlu repot-repot membersihkan tubuhmu, kau bisa melakukannya sendiri, bukan?" tanya Kian.
Areta hanya bergeming, ia tidak ingin menanggapi perkataan Kian yang seolah sedang memprofokasi dirinya.
"Pelan... pelan!" Kian berucap, ia seolah ingin menunjukan perhatiannya kepada Areta, namun wanita itu malah membalasnya dengan kesal.
"Mengapa? Kau ingin memperhatikanku? Iya?! Aku hanya seorang wanita yang dianggap sebagai mesin pembuat anak, bukan?" sembur Areta kesal.
Kian mengerutkan kening tatkala mendengar ucapan kekesalan Areta. Ia bingung menatap tak percaya ke arah istrinya tersebut.
"Apa maksudmu?"
"Kau hanya ingin aku menjadi ibu dari anak-anakmu, bukan?!" seru Areta lagi.
Kian tertegun sesaat, lalu ekspresinya seketika berubah ketika ia mulai mencerna kata-kata istrinya itu. Dan disusul suara tawa dari mulutnya.
"Ha-ha-ha—"
Areta menatap sinis ke arah Kian, lalu mendengus sekali lagi. "Apanya yang lucu!"
"Coba cerna dengan benar kalimatku!"
"Agar kau mau menjadi ibu dari anak-anakku."
"Benar bukan. Kau hanya menganggapku.... " Seketika Areta menghentikan kalimatnya, wajahnya seketika memerah.
"Sudah mengerti?" tanya Kian, lagi.
Areta mengangguk malu, mendengar kata-kata Kian, mungkin saja ada perasaan tersirat dari kalimat Kian yang membuat Areta malu. Tapi segera ditepis wanita itu lalu ia memasang wajah seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
Setelah semua selesai, Kian membantu Areta mengenakan pakaiannya. Ia mengganti pakaian istrinya dengan pakaian baru, agar Istrinya itu tidak merasa gatal lagi.
"Thank you," ucap areta lirih.
Tok... tok....
Suara ketukan pintu mengaggetkan Kian yang tengah membantu Areta menyisir rambutnya, Mafia itu seketika membuang sisir yang menempel di tangannya dan membuat Areta kebingungan.
"Ada apa?" ucap Areta lirih.
Rupanya mafia itu malu, ketika dokter itu memergoki dirinya telah menyisir rambut Areta, ia tidak ingin orang-orang mengira bahwa ia adalah mafia penyayang istri seperti teman sejawatnya Smith.
Sang dokter memeriksa Areta dengan saksama, menempelkan stetoskop ke arah dada wanita itu.
__ADS_1
"Apakah perut anda masih sakit?" tanyanya.
Areta menggelengkan kepala lembut, dokter itu tersenyum ramah dan berkata, "Baguslah... mungkin besok Anda sudah bisa pulang."
"Terimakasih, dok," jawab Areta.
***
Esok paginya, semua orang memyambut kedatangan nyonya rumah ini, yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Para pelayan wanita berjejer rapi di depan pintu masuk, mereka seketika membungkuk mengucapkan selamat datang untuk Areta. Masih segar diingatan Areta bagaimana ia masuk ke rumah ini, dan sambutan macam apa yang ia terima. Namun kini keadaan berbalik. Ia berdiri di sini sebagai nyonya dan istri dari pemilik rumah ini. Hal itu mampu membuat Areta tersenyum sesaat.
"Selamat datang Nona Areta!" sapa mereka serentak, seolah mereka telah berlatih lama agar bisa berucap secara bersamaan seperti ini.
"Terimakasih atas sambutannya." Areta menjawab mereka dengan suara lembut dan lirih.
"Nanti malam kita akan mengadakan pesta kecil-kecilan sebagai rasa syukur kau telah kembali," ucap Kian merangkul tubuh istrinya.
Areta hanya mengangguk lemah dengan senyuman mengutas di bibirnya yang cantik.
•
•
•
Bersambung
Cara baru Vote, dan memberi hadiah atau gift. Yuk Update Noveltoon/Mangatoonnya.
Cara Memberi gift/Hadiah yang baru.
Cara Vote yang baru.
Like, Komen, Vote, dan Gift bisa buat author semangat loh.
Mr Mafia juga ada AudioBooknya, pengisi suaranya aku sendiri, semoga kaka-kakak suka dan bisa mendengarkan ABku. Terimakasih.
__ADS_1