Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
100


__ADS_3

Rania yang jenuh menunggu kepulangan Alvino, meminta Felisa untuk menemaninya mengobrol di ruang keluarga. "Fel, kamu belum ingin menikah?" tanya Rania sambil menikmati buah segar yang dibawakan oleh Felisa.


"Belum Nyonya," sahut Felisa sopan.


"Kenapa? Bukankah usiamu hampir sama dengan Kak Al?" Rania mengerutkan keningnya.


"Saya masih ingin sendiri, Nyonya. Bagi saya menikah itu ribet, apalagi kalau sudah memiliki anak. Pasti waktu tenaga kita benar-benar akan terkuras habis," sahut Felisa. Wajah Rania mendadak terlihat bimbang.


"Felisa, kalau menurutmu lebih baik aku memiliki anak sekarang atau nanti?" tanya Rania ragu. Sebenarnya dia belum siap jika harus mengandung saat ini, karena dia masih ingin fokus dengan kuliahnya.


"Kalau menurut saya, lebih baik ditunda saja, Nyonya. Apalagi Nyonya masih memikirkan kuliah. Nyonya bisa berencana memiliki anak setelah selesai kuliah nanti," saran Felisa, Rania mengangguk membenarkan ucapan Felisa.


"Tapi Kak Al sangat menginginkan seorang bayi. Aku dilarang KB sama sekali," kata Rania dengan lirih.


"Anda bisa diam-diam melakukan KB, Nyonya." Rania menoleh ke arah Felisa yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Aku takut, Fel."


"Saya bisa mengantar Nyonya menemui seorang Bidan, dia teman SMP saya dulu. Saya juga tidak akan mengadu ke Tuan Muda kalau Anda melakukan KB, Nyonya." Rania menatap lekat wajah Felisa. Hatinya benar-benar bimbang saat ini. Dia ingin sekali menunda kehamilan, tapi dia takut Alvino akan marah kepadanya.


"Tapi Fel ...."

__ADS_1


"Nyonya, Anda masih terlalu muda untuk mengurus seorang bayi. Saya yakin kalau Anda menjadi seorang ibu saat ini, kuliah Anda akan terhenti di tengah jalan," kata Felisa berusaha meyakinkan Rania.


"Apa KB itu aman?" Rania mulai menyetujui saran Felisa meskipun dirinya masih sedikit ragu.


"Tentu saja aman, Nona. Anda bisa mencoba dengan pil KB, tapi Anda harus rutin meminumnya, terlambat sekali saja Anda justru kemungkinan besar bisa hamil, Nyonya."


"Fel, kamu 'kan tahu aku ini orang yang ceroboh," kata Rania lesu.


"Kalau begitu Anda bisa menggunakan KB suntik saja, Nyonya. Kalau implan atau IUD saya yakin, Tuan Muda pasti akan mengetahuinya," jelas Felisa berusaha meyakinkan Rania yang masih terlihat bimbang. "Bagaimana, Nyonya? Saya akan mengantar Anda. Tenang saja, teman saya itu seorang Bidan Mandiri yang sudah profesional."


"Nanti aku pikirkan dulu, Fel. Terima kasih ya sudah menemaniku mengobrol," kata Rania dengan senyuman yang dipaksakan. Felisa hanya menanggapi dengan sebuah anggukan kepala.


***


"Kamu sangat cantik, Nad." Febian masih tergelak dengan memegang ponselnya. Tanpa Nadira tahu, adiknya itu sedang melakukan live streaming di sosial medianya.


"Mommy! Daddy! Lihatlah wajah cantik putri kesayanganmu," kata Febian. Davin dan Aluna yang sedang melakukan video call lewat Ardian hanya tertawa melihat kedua anaknya.


"Mommy, Daddy," rengek Nadira sambil mengusap kue ulang tahun yang menghiasi seluruh wajahnya.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf, Mommy dan daddy tidak bisa datang ke situ," kata Aluna. "Doa terbaik Mommy selalu menyertaimu, Sayang."

__ADS_1


"Doa Daddy juga, Sayang." Davin yang berada di samping Aluna ikut tertawa melihat wajah putrinya.


"Terima kasih, Mom, Dad. Aku sayang kalian," kata Nadira bahagia.


"Kita juga sayang kamu, Nad. Jaga dirimu baik-baik," kata Aluna dengan wajah muram. "Jangan lupa, tiga bulan lagi pernikahan Kak Anin, kamu harus pulang."


"Yes, Mom. Aku mau membersihkan wajahku dulu," pamit Nadira.


"Jangan Nad, kamu semakin terlihat cantik dengan tampilanmu. Lihatlah, teman-temanku mengucapkan selamat untukmu." Nadira menghentikan langkahnya, dia berbalik dan melihat Febian yang sedang menunjukkan layar ponselnya. Mata Nadira melebar saat ia tahu kalau Febian masih melakukan live streaming.


"Bi! Kamu jahat sekali!" bentak Nadira kesal. Dia berlari mendekati Febian dan mengusap wajahnya ke wajah adiknya, hingga kini wajah mereka berdua sama-sama kotor. Bukannya marah, tawa Febian justru semakin meledak.


"Selamat ulang tahun, princess," ucap Febian. Nadira hanya mendengus lalu pergi menuju ke kamarnya untuk membersihkan wajahnya yang sudah benar-benar lengket.


Setelah selesai membersihkan wajahnya, Nadira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia mengambil ponsel di atas nakas dan melihat banyak sekali pesan yang masuk. Nadira membuka satu persatu pesan itu dan dirinya mendesah kecewa saat tidak melihat nama seseorang yang ia cari tertera di antara pesan-pesan itu.


Kenapa aku masih saja berharap. Padahal aku tahu, aku harus benar-benar melupakannya.


Nadira membuka akun sosial medianya, dia tersenyum saat melihat siaran langsung yang dilakukan Febian tadi. Senyumnya semakin lebar saat melihat akun Cacha yang juga sedang mengunggah foto ulang tahunnya yang kebetulan sama dengannya. Setelah mengomentari postingan Cacha, dia kembali menggulir layar ponselnya. Jantungnya terasa begitu berdebar saat dirinya melihat sebuah postingan bergambar kue ulang tahun dengan lilin angka duapuluh dua di atasnya.


"Selamat ulang tahun untuk orang spesial yang pernah singgah di hati. Doaku, semoga kebahagiaan selalu menyertai hidupmu yang baru."

__ADS_1


Tangis Nadira pecah, meskipun namanya tidak tertera di sana. Namun, dia tahu siapa yang di maksud dalam postingan itu.


"Aku merindukanmu, Kak," gumam Nadira. Ia menghapus airmata yang mengalir membasahi wajahnya.


__ADS_2