Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
33


__ADS_3

Rania yang baru saja memasuki ruang keluarga di rumahnya segera mendudukkan tubuhnya di samping Ana yang sedang fokus pada ponsel di tangannya. Sementara Ana hanya menggerakkan ekor matanya melirik ke arah Rania, dia bersikap seolah tidak peduli dengan keberadaan Rania di sampingnya


"Kakak sedang apa?" tanya Rania berusaha mengintip ponsel Ana, tetapi Ana segera menggerakkan tubuhnya menjauh dari Rania yang mendekat padanya.


"Jangan suka ikut campur!" Rania menatap heran ke arah Ana yang begitu ketus padanya.


"Kak, kenapa sih sekarang Kak Ana menjadi lebih pendiam dan seolah tidak menyukai keberadaanku," Rania bicara dengan begitu manja kepada kakaknya.


"Aku hanya sedang sibuk dengan urusanku dan aku tidak ingin di ganggu siapapun." Suara Ana terdengar begitu dingin. Dia sama sekali tidak menatap ke arah adiknya.


"Aku merasa sekarang Kak Ana berbeda. Aku merasa kalau Kakak menjauh dari aku dan Kakak tidak lagi peduli padaku." Wajah cantik Rania nampak begitu muram. Ana mengalihkan pandangannya dari ponselnya ke arah adik kembarnya. Dia menatap lekat wajah Rania yang terlihat begitu sedih.


"Ran, aku sedang bingung. Aku sudah mendaftar untuk ikut balapan tetapi aku tidak bisa datang karena sesuatu hal, tetapi kalau aku tidak ikut maka aku tidak diizinkan mengikuti balapan selama dua kali karena itu peraturannya." Ana berusaha melembutkan suaranya meskipun hembusan napas kasar terdengar keluar dari mulutnya.


"Kalau begitu biar aku saja yang ikut balapan, Kak. Nanti Kakak bisa menyelesaikan urusan Kakak," tawar Rania.


"Tidak bisa, Ran." Rania menatap wajah Ana yang nampak begitu pasrah.


"Kenapa? Bukankah aku sudah sering menggantikan Kakak?"

__ADS_1


"Ya, tapi kalau disini aku takut kita akan ketahuan karena banyak yang mengenalimu," ucap Ana merasa was-was tetapi Rania hanya menunjukkan senyum manis dari sudut bibirnya.


"Tenang saja. Aku bisa meniru seluruh gaya Kakak, bukankah kita sudah terbiasa melakukan itu saat Kakak berhalangan hadir untuk balapan. Kenapa sekarang Kakak seperti orang bingung?" tanya Rania heran saat melihat raut wajah Ana yang terlihat begitu ragu.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Nanti biar aku saja yang menggantikan Kakak dan aku usahakan aku akan menang. Aku mau ke kamar dulu Kak," pamit Rania sambil beranjak bangun, tanpa menunggu jawaban Ana, dia melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamarnya.


Jujur, hati Rania merasakan sesuatu perasaan asing saat bersama Ana tadi, dia merasa sebuah kecemasan yang teramat dalam, sedangkan Ana hanya menatap kepergian Rania dengan perasaan yang tidak karuan. Dia memijat keningnya berkali-kali untuk mengurangi rasa pusing yang tiba-tiba datang menghampirinya.


"Ya Tuhan, batinku seolah-olah sedang berperang. Apa yang harus kulakukan?" gumamnya.


Sementara itu, Rania yang sudah memasuki kamar, melangkahkan kakinya menuju meja rias yang berada di kamarnya. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi dan menatap pantulan wajahnya dari cermin di depannya. Rania melepas piyama panjang yang menutupi tubuhnya dan hanya memakai dalaman saja. Pandangan matanya menyapu seluruh bekas luka yang sudah menghiasi lengannya secara permanen.


"Al, kamu semakin tampan sekarang dan rasa kagumku kepadamu tidak pernah berkurang sampai saat ini tetapi justru semakin bertambah." Rania mengulas senyum di bibir mungilnya, dia menghela napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Al, aku tidak tahu perasaanku kepadamu itu seperti apa, tetapi aku merasa kalau rasa ini begitu dalam untukmu."


Mata Rania menatap pantulan wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan. Dulu, dia begitu kagum dengan wajah Alvino yang begitu tampan saat pertama kali melihatnya di sampul majalah, tetapi sekarang dia merasakan sesuatu perasaan lain yang dia sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan kata-kata. Mungkinkah perasaan kagumnya itu bisa menjelma menjadi sebuah perasaan cinta? Batin Rania selalu bertanya-tanya.


Rania lalu memejamkan kedua bola matanya, meresapi sakit yang menyusup saat mengingat ucapan Alvino malam itu.


"Kenapa aku merasa begitu sakit saat Al mengatakan kalau dia mencariku selama sepuluh tahun hanya sekedar untuk berterima kasih tidak lebih. Salahkah kalau aku mengharap lebih dari itu?" Rania tersenyum getir dengan mata yang mulai terlihat basah. Dia segera memejamkan kedua matanya dan ingatannya kembali saat kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


🍫🍫🍫🍫


Habis ini kita flashback bentar ya,


jangan bilang cerita author bertele-tele


Ntar Author jitak tuh kepala cicak di depan Author 😂


Ada yang tiap pagi nungguin cerita ini up? Pasti tidak ada kan 😂😂


Yuk beri dukungan buat Author bisa berupa like, komentar, hadiah maupun vote.


Kalau rame, bakal Author double up lagi


Kalau sepi? tetep Author up 😂 Hargai kerja mikir Author gaes.


Cerewet banget sih kamu thor, buruan gih udah penasaran.


Sabaar Sabar masih ada kemungkinan dua bab lagi yang up hari ini.

__ADS_1


Salam sayang dari Author recehan


__ADS_2