
"Selamat pagi, Tuan Muda." Kenan membukakan pintu mobil untuk Alvino, setelah Alvino masuk ke dalam mobil. Dia segera duduk di balik setir kemudi dan melajukan mobil itu menuju ke Perusahaan Alexander.
"Ken," panggil Alvino sembari menyandarkan kepalanya di jok mobil.
"Kenapa?" Kenan menatap Alvino dari kaca kecil yang berada di depannya. Dia melihat raut wajah Alvino yang terlihat begitu bimbang.
"Kapan kamu akan melamar Ana?"
"Bulan depan tepat saat mereka ulang tahun, tanggal dua puluh." Kenan memfokuskan pandangannya ke arah jalan.
"Aku sudah sangat ingin menikahi Rania, tetapi dia mau menikah kalau Ana sudah menikah, bisakah kamu mempercepatnya, Ken?" Suara Alvino terdengar begitu memohon.
"Al, semua itu butuh persiapan. Banyak hal yang harus aku persiapkan, apalagi kamu tahu 'kan? Kedua orang tuaku masih di luar negeri. Aku harus memperkenalkan Ana dengan orang tuaku terlebih dahulu." Alvino menghembuskan napasanya kasar mendengar ucapan Kenan.
"Kalau memang kamu sudah tidak sabar, biar nanti aku menyuruh Ana untuk merayu Rania agar mau menikah denganmu secepatnya. Kenapa kamu ngebet banget pengen nikah sih, Al?"
"Baiklah, tapi satu hal lagi. Bisakah kamu mencarikan sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari Mansion Alexander?" Kenan terlihat mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan Alvino.
"Kamu mau pindah?"
"Ya, aku tidak mungkin tinggal di Mansion setelah menikah dengan Rania. Aku tidak ingin menyakiti hati Febian, walaupun dia sudah merelakan Rania, tetapi aku yakin pasti Febian masih memiliki perasaan dengan Rania." Alvino mengusap wajahnya kasar, sebenarnya dia sangat berat jika harus pergi dari Mansion Alexander, tetapi dia ingin menjaga hati Febian agar tidak terluka.
"Nanti aku coba carikan, apa kamu sudah bicarakan dengan daddy dan mommy mu?"
"Belum, nanti saja kalau sudah ada rumahnya, baru aku akan bicarakan dengan mereka." Suasana di mobil menjadi hening, karena mereka berdua sama-sama menutup mulut mereka.
Mobil hitam itu berhenti di depan perusahaan Alexander, Alvino segera turun dari mobil dan berjalan dengan gagah menuju ke ruangannya, sementara Kenan berjalan mengekor di belakangnya. Begitu sampai di ruangannya, mereka berdua segera mendudukkan tubuh mereka di kursi kerjanya dan mulai menggarap tugas mereka.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Dua minggu kemudian, Alvino bersama keluarganya mendatangi Kediaman Sandijaya untuk melamar Rania. Setelah Ana merayu Rania setiap hari, akhirnya Rania bersedia menikah dengan Alvino tanpa menunggu kakaknya menikah terlebih dahulu.
"Selamat datang di rumah sederhana saya, Tuan." Tuan Sandi menyambut kedatangan keluarga Alexander dengan sangat antusias.
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu dan saling mengobrol. Saat sedang asyik berbincang, Alvino tiba-tiba terpaku saat melihat Rania berjalan menuruni tangga bersama Ana. Rania terlihat sangat cantik malam ini, dia memakai gaun panjang berwarna pink yang menampilkan kesan girly. Meskipun riasan di wajahnya begitu natural tetapi justru membuat Rania kecantikan Rania semakin terlihat apalagi tanpa kacamata tebal yang biasanya selalu menghiasi kedua matanya.
"Tuan Muda Alvino!" panggil Jo membuat Alvino terjengkit kaget.
"Ada apa, Uncle? Bisakah Uncle memanggilku dengan sedikit pelan, aku belum tuli!" Suara Alvino terdengar begitu ketus.
"Hampir sepuluh kali saya memanggil Anda, tetapi Anda terlalu fokus melihat kecantikan calon istri Anda." Alvino hanya diam tidak menanggapi ucapan Jo. Ekor matanya mengikuti gerakan Rania yang sedang mendudukkan tubuhnya. Wajah Rania terlihat merona saat tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Alvino yang penuh dengan cinta.
"Maaf, Tuan Sandi. Saya bersama keluarga saya kesini, ingin melamar putri Anda Rania, untuk menjadi istri Alvino, putra saya,"ucap Davin dengan sopan.
"Saya sangat senang, Tuan. Atas semua niat baik Anda semuanya, tetapi saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri, karena nantinya putri saya, Rania yang akan menjalaninya, maka biarkan dia yang menjawab bersedia atau tidak."
"Bagaimana, Ran? Kamu bersedia menikah denganku secepatnya?" tanya Alvino memohon.
"Kenapa?" Rania terdiam, dia bisa mendengar suara Alvino yang terdengar begitu kecewa.
"Aku masih kuliah, Kak. Aku tidak mau menjadi bahan pembicaraan selama aku kuliah, apalagi lelaki yang aku nikahi itu Kak Alvino. Pengusaha muda yang sangat terkenal di negara ini." Rania menghela napas berat, sebenarnya dalam hati kecilnya dia sangat ingin mengadakan pesta pernikahan megah, tetapi dia belum siap jika harus menjadi bahan pembicaraan khalayak umum.
"Baiklah, kalau keinginan Rania seperti itu. Nanti kita bisa adakan pesta yang sangat megah setelah Rania lulus kuliah," ucap Aluna berusaha menerima. Walaupun dia melihat kekecewaan di raut wajah putra sulungnya, tetapi dia juga harus menghargai keputusan calon anak mantunya itu.
"Terus kapan kita akan melakukan ijab kabul?" tanya Alvino.
"Kalau itu terserah Kak Al saja."
"Baiklah, karena semua terserah padaku, maka aku ingin pernikahan kita di adakan minggu depan." Mereka semua membuka lebar matanya setelah mendengar ucapan Alvino.
__ADS_1
"Kenapa secepat itu, Kak?" tanya Rania memprotes.
"Aku beri dua pilihan kalau begitu. Kita menikah secara sederhana minggu depan atau kita menikah bulan depan dengan acara yang sangat megah." Rania mencebikkan bibirnya kesal mendengar pilihan dari Alvino, sementara para orang tua hanya diam karena mereka sudah menyerahkan semuanya kepada anak-anak mereka.
"Kak." Alvino tersenyum lebar saat melihat wajah Rania yang bimbang dan itu terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Aku hitung sampai sepuluh, kalau kamu tidak menjawab juga, maka pilihan kedua aku anggap sebagai jawabannya." Alvino tersenyum licik saat melihat wajah Rania yang kembali terlihat kesal.
"Sepuluh ... Delapan ... Enam."
"Apa Kak Al tidak bisa menghitung dengan benar?!"
"Waktumu tinggal sedikit, Ran. Segera siapkan jawabanmu." Alvino benar-benar tidak peduli pada Rania yang sedang protes."Empat ... Dua ...."
"Aku ambil pilihan pertama." Alvino tersenyum lebar setelah mendengar jawaban Rania, walaupun dia melihat wajah kesal calon istrinya. Sementara yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua.
"Dad, Mom, siapkan diri kalian. Minggu depan kalian sudah punya anak mantu dan kuharap kalian bisa menjadi mertua yang baik untuk istriku. Auw!" teriak Alvino kencang saat tangan Davin menjewer telinganya dengan keras.
"Berani sekali kamu mengancam Daddy!" ucap Davin penuh penekanan, sementara Alvino hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya ke arah Davin.
"Ya Tuhan, kalian berdua sungguh memalukan!" cibir Jo yang sedari tadi hanya diam. Davin dan Alvino segera menatap ke arah Jo tajam secara bersamaan, tetapi Jo hanya memutar bola matanya malas dan tetap bersikap santai.
...🍫🍫🍫🍫...
Ayo yang mau datang ke nikahannya Alvino dan Rania.
boleh bawa hadiah, bunga, cinta ataupun apapun apalagi vote 🙊🙊
Jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan ya
__ADS_1
Selalu jaga kesehatan. Jaga mata ataupun jaga hati juga boleh 😊