Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
71


__ADS_3

Rania merasa heran saat dirinya di ajak Alvino ke suatu tempat, tapi matanya di tutup dengan penutup mata. Bahkan, selama perjalanan Rania tidak diperbolehkan membuka penutup mata itu. Setelah mobil berhenti, Rania dituntun turun oleh Alvino.


"Kamu sudah siap, Sayang?" bisik Alvino di telinga Rania, sedangkan Rania hanya diam tidak merespon pertanyaan Alvino, karena dia bingung apa maksud suaminya.


Ketika penutup mata itu dibuka, Rania membuka kedua bola matanya lebar saat melihat dirinya sedang berdiri di depan sebuah mewah yang sangat megah. Bahkan, rumah itu hampir setara dengan mansion milik keluarga Alexander. Suasana malam hari, semakin membuat rumah megah itu terlihat begitu indah karena berhiaskan cahaya-cahaya lampu.


"Ini rumah siapa, Kak?" tanya Rania bingung.


"Tentu saja rumah kita. Selamat datang di rumah baru kita, Sayang." Bola mata Rania terlihat melebar lagi, karena tidak percaya dengan ucapan suaminya. "Jangan memasang wajah menggemaskan seperti itu, atau aku akan menelanjangimu saat ini juga," goda Alvino. Rania mencebikkan bibirnya kesal hingga tanpa sadar tangannya memukul lengan suaminya.


"Ayo kita masuk, masih ada kejutan lagi di dalam." Alvino menggandeng tangan istrinya memasuki rumah baru milik mereka. Alvino menyerahkan kunci rumah itu, karena dia ingin Rania sendiri yang membukanya. Rania pun dengan senang hati membuka kunci pintu rumah itu.


Dirinya di buat terkejut sekaligus terkagum, saat melihat isi dalam rumah sudah dipenuhi dekorasi yang begitu cantik, bahkan lebih mirip seperti dekorasi sebuah pesta.


"Happy birthday to you, happy birthday to you." Rania menoleh ke arah belakang, dia menutup mulutnya yang terbuka lebar saat melihat teman-temannya mendekat ke arahnya dengan kue ulang tahun di tangan mereka. Bahkan, ada seorang gadis yang Rania tidak tahu, berjalan mendekatinya lalu menyerahkan sebucket bunga anyelir padanya.


"Bunga anyelir ini mewakili perasaan cinta, kasih sayang dan kekaguman yang luar biasa dari Al untuk bidadari cantik pemilik hatinya. Rania Sandijaya," ucap Anin dengan senyum manis di bibirnya. Rania menerima bunga itu, dia berbalik menatap Alvino yang sedang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Kak," panggil Rania sambil menatap Alvino penuh tanya. Alvino berjalan mendekati Rania dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Semua doa yang baik, kupanjatkan untukmu. Semoga semua yang baik-baik juga selalu mengiringi rumah tangga kita." Ciuman dari bibir Alvino mendarat di kening Rania, dengan refleks Rania memejamkan kedua matanya merasakan ciuman kasih sayang dari suaminya. Bahkan mata Rania terlihat berkaca-kaca, dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seindah ini. Padahal, sehabis acara lamaran Ana tadi siang, mereka semua berpamitan pergi ke suatu tempat tanpa mengajak dirinya.


"Sayang, maafkan aku kemarin sudah bersikap seolah tidak peduli padamu. Aku hanya ingin membuat kejutan ini sempurna dan aku juga sibuk menyiapkan semuanya semua ini," jelas Alvino lirih.


"Terima kasih, Kak. Aku sangat bahagia sekali. Em, tapi suara wanita di telepon kemarin malam, suara siapa, Kak?" tanya Rania ragu.


"Jangan berburuk sangka dulu, itu suara dia tuh." Telunjuk Alvino mengarah ke wajah Anin yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Dia sepupuku, namanya Anin. Anaknya Om Ronal, kemaren sewaktu kita nikah, dia sedang berada di luar kota jadi tidak bisa hadir." Rania menganggukkan kepalanya tanda paham.


"Woy! Kalau kalian mesra-mesraan terus, bisa jadi nanti kita makan kue ulang tahun rasa lilin," celetuk Nathan yang berdiri di belakang mereka berdua. Alvino dan Rania pun tersadar, mereka menoleh ke arah teman-temannya yang sedang membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala dan lilin itu tinggal separuh karena sudah meleleh.


Setelah itu, mereka semua mengadakan acara makan malam bersama diselingi canda tawa. Nathan yang duduk tidak jauh Nadira, berkali-kali mengawasi Nadira yang sedang bercengkrama mesra bersama Dion, yang Nathan tahu adalah kekasih Nadira.


"Apa hebatnya lelaki bau kencur itu? Harusnya dia lebih terpikat padaku, aku sekarang sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan," gerutu Nathan, setelah itu dia menengguk habis minuman yang berada di depan Alvino.


"Nathan! Kamu bodoh!" umpat Anin kesal. Nathan menatap heran ke arah Anin, tapi sesaat kemudian dia duduk gelisah merasakan tubuhnya yang terasa memanas.

__ADS_1


"Ini minuman apa? Kenapa tubuhku rasanya sangat panas?" tanya Nathan heran sambil membuka kancing kemejanya, lalu mengipaskan telapak tangannya di depan dadanya.


"Berendamlah segera dengan air dingin dan sabun," perintah Anin yang terlihat cemas. "Minuman yang kamu minum itu sebenarnya aku siapkan buat Al. Aku menaruh sedikit obat perangsang di dalamnya," kata Anin lirih.


"What?!" teriak mereka tak percaya.


"Anin! Kamu benar-benar gila!" umpat Nathan kesal, setelahnya dia berlari ke kamar mandi karena tak mampu lagi menahan rasa panas di tubuhnya. Bahkan, senjatanya sudah berdiri menantang. Mereka semua tak bisa lagi menahan tawanya melihat Nathan yang kalang kabut, sedangkan Anin hanya diam. Dia benar-benar merasa sangat bersalah pada Nathan.


...🍫🍫🍫🍫...


Selamat datang di part Nathan dan Nadira ya.


Part selanjutnya bakal di dominasi sama kisah Nathan dan Nadira.


jangan lupa terus pantengin kisah mereka.


jangan lupa juga dukungannya. Ingat! ingat! Ting!

__ADS_1


jempolnya di pantau 😂😂


__ADS_2