Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
55


__ADS_3

Cukup lama dua insan yang saling mencintai itu berpandangan, akhirnya Rania segera mengalihkan pandangannya ke samping memutus pandangan dengan Alvino yang memabukan, dia sangat takut tidak bisa mengendalikan perasaannya jika terlalu lama menatap kedua bola mata Alvino.


"Ran," panggil Alvino lembut tanpa memutus tatapan matanya ke arah Rania.


"Tu- eh maksud saya, Kak Al." Senyum tersenyum simpul melihat Rania yang terlihat begitu gugup. "Bisakah Anda sedikit menjauh dari saya, karena saya takut tidak bisa mengontrol perasaan saya."


"Ran, aku tidak bisa lagi jauh darimu. Satu hal lagi, jangan terlalu kaku padaku. Tenang saja, anggap saja aku ini sebagai temanmu, aku tidak mau kamu bicara seformal itu padaku," protes Alvino tak terima, tetapi Rania hanya diam membisu.


Rania meremas kuat sprei yang menutupi sebatas pinggangnya setelah mendengar ucapan Alvino. Entah mengapa, dia merasakan perasaan nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya.


Harusnya aku memang sudah sadar sedari dulu kalau kamu memang tidak memiliki perasaan padaku, Al. Kamu mencariku hanya sekedar untuk berterima kasih dan sekarang aku hanyalah teman bagimu.


"Kak Al." Rania menghela napas panjangnya. "Jangan terlalu dekat denganku, aku takut tidak bisa menghapus perasaanku padamu." Hati Alvino terasa mencelos, sedangkan Rania sebisa mungkin menahan airmatanya agar tidak jatuh.


"Kenapa kamu ingin menghapus perasaanmu padaku? Sedangkal itukah perasaanmu padaku?" Alvino menatap Rania yang sedang menggeleng perlahan.


"Justru perasaanku kepadamu sudah begitu dalam dan aku tidak mau semakin terluka. Aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa untukmu. Jadi, aku akan menjauh dari kamu dan belajar ...." Alvino menarik tubuh Rania masuk ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan sangat erat. Sementara Rania hanya bisa terdiam, tubuhnya terasa menegang bahkan jantungnya terasa berdebar sangat cepat.

__ADS_1


"Jangan hapus perasaanmu padaku, aku mohon. Aku juga mencintaimu," ucap Alvino dengan mata yang terpejam, sejujurnya dia sangat takut jika Rania benar-benar akan menghapus perasaannya, sedangkan dia baru akan memulai semuanya.


"Jangan bercanda, Kak. Guyonanmu tidak lucu!" cebik Rania kesal, meski sebenarnya di dalam hatinya, dia merasa sangat bahagia. Alvino melerai pelukannya dan menatap wajah Rania yang terlihat malu-malu. Kedua telapak tangan Alvino menangkup pipi Rania hingga membuat semburat merah di wajah Rania semakin terlihat.


"Tatap mataku, Ran. Apakah saat ini aku terlihat sedang bercanda?" Rania hanya menoleh ke samping, menghindari tatapannya dengan Alvino.


"Ran, aku benar-benar mencintaimu. Sangat mencintaimu sejak dulu." Alvino kembali mengulang perkataannya.


"Kak, jangan pernah bermain dengan perasaan. Kalau memang kamu tidak mencintaiku dengan tulus, lebih baik jangan membuatku semakin dalam mencintaimu, lalu kamu akan meninggalkanku begitu saja, hingga membuat hatiku terluka lebih dari ini." Rania menghembuskan napasnya secara kasar untuk mengurangi beban berat yang seolah mengantam hatinya. Bahkan kedua bola matanya mulai terlihat berkaca-kaca.


"Ran, kamu harus percaya padaku, kalau aku memang sangat mencintaimu dengan tulus." Alvino menarik senyumnya melihat Rania yang hanya diam membisu. "Maukah kamu menjadi pemilik hatiku sepenuhnya?" sambungnya. Kedua mata Rania membola saat mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Alvino.


"Kak, katakan padaku kalau ini semua bukan mimpi," pinta Rania, karena dirinya takut jika semua hanyalah sebuah mimpi dan hatinya akan semakin terluka saat terbangun nanti. Alvino menanggapi perkataan Rania, tanpa permisi dia mencium kening Rania dengan sangat lembut. Rania memejamkan matanya merasakan ciuman kasih sayang dari orang yang di cintainya selama ini. Hatinya benar-benar merasa sangat bahagia.


"Ini bukanlah mimpi, Ran. Semua ini nyata, seperti perasaanku padamu yang sangat nyata. Aku sangat mencintaimu, Ran." Alvino melepas ciumannya dan menatap mata Rania dengan dalam. Dia tersenyum melihat pipi Rania yang sudah sangat memerah, tangannya mengusap wajah Rania dengan sangat lembut.


"Terima kasih sudah mencintaiku, Kak. Aku juga mencintaimu," balas Rania dengan senyum bahagia. Alvino pun ikut tersenyum bahagia, usapan ibu jarinya di pipi Rania beralih ke bibir tipis yang terlihat sangat menggodanya, sedangkan Rania hanya diam merasakan kegugupan yang melanda hati dan tubuhnya.

__ADS_1


Alvino memajukan wajahnya mendekati wajah Rania, wajah yang akhir-akhir selalu dia rindukan dan kedua matanya menatap lekat kedua bola mata Rania yang sedari dulu selalu menghantui hari-harinya. Alvino semakin memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka, bahkan jarak wajah mereka berdua tidak lebih dari tiga centi.


Mereka kembali saling memejamkan kedua mata mereka, Rania merasa sangat gugup saat merasakan hembusan napas Alvino terasa begitu hangat menerpa pipinya. Bibir Alvino baru saja menempel dengan lembut di bibir Rania dan itu berhasil membuat tubuh Rania berkeringat.


"Ehem!"


...🍫🍫🍫🍫🍫...


Ya Tuhan, siapa sih ganggu aja.


Hayoo tebak siapa coba? 😂😂


cukup hari ini, lanjut besok yaa


Terima kasih thor, udah crazy up


Sama-sama, jangan puji author, nanti kalau terbang, bahaya! Author takut ketinggian. 😂

__ADS_1


__ADS_2