Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
98


__ADS_3

"Sayang!" teriak Alvino. Dia celingukan mencari keberadaan Rania karena saat ia membuka matanya, ia tidak melihat keberadaan sang istri di sampingnya. Alvino segera turun dari tempat tidur dan mencari Rania ke kamar mandi, tapi dia tidak melihat keberadaan istrinya sama sekali.


"Sayang! Kamu di mana?" Teriakan Alvino terdengar menggelegar, dia berjalan cepat menuruni tangga tanpa peduli pada penampilannya yang masih sangat berantakan.


"Aku di sini, Kak!" sahut Rania berteriak dari arah dapur. Alvino mempercepat langkahnya menuju ke dapur. Dia menghembuskan napas lega saat melihat Rania sedang mencuci sayur bersama Felisa, pelayan yang ia bawa dari Mansion Alexander.


"Aku mencarimu," bisik Alvino. Dia memeluk erat tubuh Rania dari belakang hingga Rania menghentikan gerakan tangannya.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, Kak." Rania kembali melanjutkan kegiatannya mencuci sayuran.


"Hentikan, Sayang. Ini bukan tugasmu," suruh Alvino, tapi Rania tetap membersihkan sayuran itu tanpa peduli pada perintah Alvino. "Kamu belum memberiku ciuman selamat pagi," rengek Alvino.


"Ya Tuhan, kamu tidak malu dengan Felisa?" tanya Rania berbisik, ekor matanya melirik Felisa yang sedang menatap ke arah mereka.


"Kenapa mesti malu kalau bermesraan dengan istri sendiri? Ayolah Sayang, aku rindu sekali dengan ciuman selamat pagimu," kata Alvino terus merengek seperti anak kecil. Dengan terpaksa Rania mencium pipi Alvino sekilas lalu memalingkan wajahnya karena malu dengan Felisa yang tidak memutus tatapannya sama sekali. Entah mengapa, Rania merasa tak enak saat melihat tatapan Felisa yang tak bisa ditebak.


"Aaahh!" Rania berteriak saat Alvino tanpa aba-aba mengangkat tubuhnya dan membopongnya ala bridal style menuju ke kamar. Felisa yang sedang mengupas bawang hanya meremas pisau di tangannya dengan kuat.


Sesampainya di kamar, Alvino merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan perlahan. Dia mencium pipi Rania dengan lembut. Tangan kanannya menyibakkan anak rambut istrinya yang menutupi sebagian wajahnya. "Kita belum olahraga pagi, Sayang."


"Astaga, Kak. Kan semalam kita sudah melakukannya," ucap Rania. Dia memalingkan wajahnya yang sudah merona merah. Walaupun dirinya hampir setiap hari melakukan bersama Alvino, nyatanya dia masih terlalu malu jika berbicara tentang itu.

__ADS_1


"Tak apa, aku sudah tidak sabar ingin segera memiliki bayi yang tampan dan cantik. Jadi, kita harus rajin membuatnya."


"Tapi Kak ...." Rania terdiam saat Alvino sudah membenamkan ciuman di bibirnya. Ciuman yang terasa begitu memabukkan. Permainan Alvino yang lembut membuat Rania menjadi terbuai. Akhirnya, pagi hari itu, suara ******* dan erangan terdengar memenuhi kamar.


***


Alvino sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, sebenarnya hari ini dia sudah berencana ingin meliburkan diri dan menghabiskan waktu bersama sang istri. Namun, rencana itu gagal setelah Kenan menghubunginya dan mengatakan jika ada rapat mendadak yang sangat penting. Mau tidak mau, akhirnya Alvino pun berangkat ke kantor dengan malas.


"Kak Ana, besok Kakak ikut ke acara lamaran Kak Anin 'kan?" tanya Rania. Ana yang sedang duduk di sofa ruang tamu di rumah Alvino hanya mengangguk pelan.


"Ran, apa Nadira sudah menghubungimu?" tanya Ana lirih.


"Kita berdoa saja semoga Nadira mendapat yang terbaik. Kamu sudah izin suamimu akan ke butik?" Ana bangkit berdiri diikuti Rania yang juga ikut berdiri.


"Sudah, Kak. Felisa!" panggil Rania berteriak. Felisa berjalan tergopoh-gopoh mendekati mereka berdua.


"Iya, Nyonya Muda," sahut Felisa yang sudah berdiri di depan Rania.


"Kamu sudah siap?" tanya Rania. Felisa mengangguk mengiyakan, setelah itu mereka bertiga menuju ke Butik untuk mencoba gaun yang sudah dipesan secara khusus oleh keluarga Alexander untuk acara lamaran Anin. Selama di dalam perjalanan, Rania dan Ana saling mengobrol, sedangkan Felisa hanya diam mendengarkan mereka.


Sesampainya di butik, ternyata Aluna sudah menunggu mereka sedari tadi. Melihat kedatangan sang menantu, Aluna segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat. "Sayang, Mommy merindukanmu," kata Aluna.

__ADS_1


"Rania juga merindukan, Mommy." Rania membalas pelukan ibu mertuanya. Setelah pelukan itu terlepas, Aluna bergantian memeluk tubuh Ana.


"Felisa kamu ikut?" tanya Aluna saat melihat Felisa berdiri di belakang Ana.


"Iya, Nyonya. Tadi, Nyonya Muda yang mengajak saya ke sini." Felisa menjawab dengan sopan dan Aluna hanya mengangguk.


"Ayo, Sayang. Kita coba gaun yang sudah disiapkan," ajak Aluna. Ia menggandeng tangan Rania masuk ke dalam butik, sedangkan Ana dan Felisa berjalan mengekor di belakang mereka berdua.


...🍫🍫🍫🍫...


Yah, Thor. Nathan Nadira bagaimana?


Eitzz, mereka kan baru pisahan.


Jangan bosen dulu yaa, yuk kita nikmati kebucinan Babang Al untuk Eneng Rania.


Ada adegan menegangkannya gak Thor?


Ada nanti yaa, tapi sabar kita slow dulu sambil menikmati acara lamaran Anin 😂


Yukk, yang masih punya vote, kasih ke Othor ya, Othor mau menampung dengan ikhlas. Atau hadiah juga boleh 🙊

__ADS_1


__ADS_2